Memorialisasi Kultur Pemakaman Paling Akbar dan Fenomenal

(foto: #credit foto diambil dari Youtube Bagaimana Suasana Pemakaman Ali Khamenei? Kompas dot com)

“Ritual kematian adalah teks budaya, yang sarat dengan makna yang melampaui individu dan menjadi narasi kolektif.” – Robert Spinelli dan Robyn S. Lacy dalam Death, Commemoration, and Cultural Meaning: Past and Present (2025)

Awal ritual pemakaman pada manusia menunjukkan betapa naifnya perisitiwa itu ketika ada kematian yang diakibatkan oleh pembunuhan.

Dalam Al-Qur’an, kisah pemakaman Habil setelah dibunuh oleh saudara kandungnya, Qabil, dilukiskan dalam Surah Al-Ma’idah ayat 31.

Allah mengutus seekor burung gagak yang menggali tanah untuk menunjukkan kepada Qabil cara menguburkan jasad saudaranya, sehingga ia menyesal atas tindakannya.

Kisah ini tertulis dalam Surah Al-Ma’idah (5:31) berbunyi:

فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابًۭا يَبْحَثُ فِى ٱلۡأَرۡضِ لِيُرِيَهُۥ كَيْفَ يُوَٰرِى سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَـٰوَيْلَتَىٰٓ أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَـٰذَا ٱلْغُرَابِ فَأُوَٰرِىَ سَوْءَةَ أَخِى ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلنَّـٰدِمِينَ

Terjemahannya, “Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak yang menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana seharusnya ia menguburkan mayat saudaranya. Berkatalah dia: ‘Aduhai celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku?’ Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal.”

Demikian pada abad-21, pemakaman Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, yang wafat pada 28 Februari 2026, saat bulan Ramadhan, dalam serangan Amerika dan Israel di kantornya, pada 9 Juli 2026 nanti atau 131 hari setelah wafatnya, menjadi begitu sangat fenomenal dan spetakuler dalam sejarah umat manusia.

Mengutip Robert Spinelli dan Robyn S. Lacy -keduanya, arsiparis dan peneliti bidang death studies di Middle Tennessee State University, dan Robyn S. Lacy adalah arkeolog sejarah dan dosen di Memorial University of Newfoundland- dalam Death, Commemoration, and Cultural Meaning: Past and Present, dapat dibaca secara relevan dan mendalam ketika dibaca dalam konteks pemakaman akbar Ayatollah Sayyed Ali Khamenei (1939-2026).

Spinelli dan Lacy menulis bahwa memorialisasi kultur pemakaman fenomenal itu disebut “suatu tindakan budaya perlawanan dan peringatan, sebuah tremendum-fascinosum yang
menyatukan kekaguman dan daya tarik ke dalam identitas kolektif.

Dengan kata lain, ungkapan Spinelli dan Lacy, hendak menegaskan bahwa peringatan kematian bukan sekadar ritual, melainkan pengalaman spiritual dan kultural yang menggetarkan.

Peristiwa itu juga turur menghadirkan rasa gentar sekaligus kagum dalam membentuk horizon makna bagi sebuah komunitas peradaban cukup tua seperti Iran.

Sebelum komunitas ini, Iran tumbuh sebagai negara modern -kelak salah satu superpower dari kawasan Timur Tengah kini- dulu adalah peradaban kencana klasik, Persia-Zoroaster yang kelak berjaya sebagai imperium Syasaniah bersama imperium Romawi pada abad ketujuh.

Terkait dalam sejarah tradisi Islam, pemakaman ulama besar selalu menjadi momen di mana umat meneguhkan kembali ikatan mereka dengan nilai-nilai yang diwariskan.

Dari pemakaman Nabi Muhammad yang buruh tiga perkabungan pada abad ketujuh masehi dan Imam Syafi‘i di abad kesembilan hingga peringatan wafat para wali sufi di Nusantara, selalu ada dimensi “tremendum-fascinosum” yang menghubungkan manusia dengan transendensi sekaligus dengan sejarah kolektif.

Spinelli dan Lacy juga menambahkan bahwa “Peringatan (commemoration) tidak pernah netral; itu adalah sebuah prasasti budaya yang mencerminkan kekuatan, kepercayaan, dan perlawanan.”

Dengan demikian, ungkapan Spinelli dan Lacy, ini menemukan resonansinya dalam pemakaman Khamenei, di mana jutaan orang hadir bukan hanya untuk berduka, melainkan untuk menegaskan kembali otentisitas Revolusi Islam Iran sebagai proyek kultural dan spiritual yang kaffah dan akan terus berlanjut.

Pemakaman ini akan menjadi isyarat, setidak di dunia Islam, memorialisasi dan eskatologi menemukan momentum sebagai matriks ilahi menuju akhir kepastiaan “ilahi turjaun“: Sesungguhnya, hanya kepada Tuhan kita semua kembali.

Mengacu buku biografi Cell No.14 (2021) dari catatan Ayatollah Sayyed Ali Khamenei sendiri -sejak kecil ia diasuh memegang dan menunaikan keimanannya- bahwa ia sebagai seorang ulama yang sejak masa mudanya menolak segala bentuk dominasi dan menegakkan Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh.

Kutipan di bukunya, “menolak segala bentuk dominasi” menjadi gema yang hidup kembali dalam prosesi pemakamannya yang akbar dan fenomenal.

Alasannya, karena tubuhnya yang terbujur kaku selama lebih dari tiga bulan setelah serangan bom itu, justru menghadirkan simbol perlawanan yang abadi sekaligus sangat sakral.

Seperti kutipan Spinelli dan Lacy, prosesi pemakaman atas Ali Khamenei menjadi suatu “teks budaya yang sarat dengan makna yang melampaui individu dan menjadi narasi kolektif“ menuju sejarah masa depan tak terprediksi.

Dalam konteks Iran, narasi itu adalah peneguhan bahwa Revolusi Islam tetap hidup, meski dunia Barat -dipelopori Amerika dan diperkeras oleh perilaku dan tindakan Donald Trump sebagai presiden paling kontroversial dalam sejarah Amerika- terus berusaha menekan Iran dengan sanksi dan retorikanya

Pemakaman Khamenei, dengan skala yang menakjubkan, dapat dibaca sebagai salah satu peristiwa paling mutakhir dalam sejarah peradaban Islam abad-21 sekaligus penegasan kekuatan dan kekuasaan atas sejarah peradaban mereka kini dan nanti.

Ia bukan hanya ritual duka mendalam sekalipun, melainkan sebuah teks budaya khas yang menegaskan perlawanan terhadap hegemoni Barat hingga kapanpun.

Juga, simbolisasi memorialisasi kultur pemakaman yang hendak menunjukkan bagaimana Islam sebagai peradaban mampu mengartikulasikan kematian sebagai momentum moralitas politik, spiritual, dan kultural.

Kembali ke perspektif Spinelli dan Lacy, memorialisasi semacam ini adalah “cultural resistance” yang menjadikan kematian sebagai titik balik untuk meneguhkan identitas kolektif kukuh dan kaffah.

Sekali lagi, bagi dunia Islam khususnya, Iran adalah contoh dari negara Islam paling modern yang terus menghidup secara aktual dan spetakuler dokumen dan deklarasi Piagam Madinah.

Dengan demikian, pemakaman Khamenei menjadi contoh bagaimana teori memorialisasi Spinelli-Lacy tentang “tremendum-fascinosum” menemukan aktualisasinya dalam tradisi Islam kontemporer.

Ia memperlihatkan bahwa kematian seorang ulama besar bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah narasi kolektif yang terus hidup dalam ingatan umat, menantang dominasi, meneguhkan otentisitas, dan menakjubkan dalam skala peradaban mutakhir saat ini.

Memento Mori! (*)

ReO Bibliothek Kokima Hill, Manado 8 Juli 2026

#coversongs: Lagu kebangsaan Iran saat ini adalah Mehr-e Khavaran (“Matahari Timur”), diadopsi tahun 1990 dengan musik oleh Hassan Riyahi dan lirik oleh Sayed Bagheri. Versi instrumentalnya sering muncul dalam kompilasi seperti World National Anthems, menekankan nuansa resmi tanpa kata-kata.

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan