Argentina Bangkit, Mesir Tersungkur di Ujung Drama

ilustrasi pertandingan Mesir vs Argentina. (foto: X/@unmag)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Tidak ada yang benar-benar selesai ketika Argentina masih berada di lapangan. Kalimat itu kembali terbukti di Stadion Atlanta ketika juara bertahan bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menumbangkan Mesir 3-2 dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa (7/7/2026) waktu setempat.

Kemenangan dramatis tersebut membawa Albiceleste melaju ke perempat final, sekaligus memperlihatkan karakter yang selama bertahun-tahun menjadi identitas mereka: selalu menemukan jalan keluar ketika situasi tampak mustahil.

Sebaliknya, Mesir harus menerima kenyataan pahit. Setelah menguasai pertandingan selama lebih dari satu jam dan sempat berada di ambang kejutan terbesar turnamen, The Pharaohs justru kehilangan tiket perempat final dalam hitungan menit.

Mesir membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-15 melalui Yasser Ibrahim. Memanfaatkan kelengahan lini belakang Argentina, bek berusia 32 tahun itu sukses menaklukkan Emiliano Martínez dan membungkam publik Atlanta.

Argentina berusaha merespons cepat. Kesempatan emas datang enam menit kemudian ketika wasit menunjuk titik penalti. Namun tendangan Lionel Messi berhasil ditepis Mostafa Shobeir yang tampil gemilang di bawah mistar gawang Mesir.

Kegagalan penalti tersebut membuat permainan Argentina kehilangan ritme, sementara Mesir tampil semakin percaya diri mengendalikan jalannya pertandingan hingga turun minum.

Selepas jeda, tekanan Mesir tidak mengendur.

Mostafa Zico sebenarnya sempat mencetak gol kedua pada menit ke-58. Namun setelah meninjau tayangan VAR, wasit François Letexier menganulir gol tersebut karena menilai terjadi pelanggaran dalam proses serangan.

Keputusan itu tidak memengaruhi mental para pemain Mesir.

Sembilan menit kemudian, Zico kembali mencetak gol. Kali ini tidak ada alasan bagi wasit untuk membatalkannya. Mesir unggul 2-0 dan membuat Argentina berada di ambang tersingkir.

Di titik itulah wajah sesungguhnya sang juara bertahan muncul.

Cristian Romero membangkitkan harapan Argentina lewat sundulan memanfaatkan tendangan bebas Messi pada menit ke-79.

Gol tersebut mengubah sepenuhnya arah pertandingan.

Empat menit kemudian, Messi menebus kegagalan penaltinya dengan mencetak gol penyama kedudukan. Dalam rentang hanya empat menit, Argentina menghapus seluruh keunggulan Mesir dan memaksa lawan kehilangan kendali atas pertandingan.

Momentum kini sepenuhnya berpihak kepada Albiceleste.

Saat laga tampak akan memasuki babak tambahan waktu, Lautaro Martínez melepaskan umpan silang presisi ke jantung pertahanan Mesir. Enzo Fernández menyambutnya dengan sundulan keras yang tak mampu dihentikan Mostafa Shobeir.

Gol pada masa injury time itu mengubah skor menjadi 3-2 sekaligus memastikan salah satu comeback paling dramatis sepanjang Piala Dunia 2026.

Bagi Argentina, kemenangan ini bukan sekadar tiket menuju delapan besar. Lebih dari itu, laga melawan Mesir menunjukkan bahwa pengalaman, ketenangan, dan mental juara masih menjadi senjata utama Albiceleste ketika pertandingan memasuki momen-momen paling menentukan.

Sebaliknya, Mesir pulang membawa luka yang sulit dilupakan. Mereka tampil disiplin, berani, dan nyaris sempurna selama hampir 80 menit. Namun satu kehilangan konsentrasi di penghujung laga cukup untuk menghapus kerja keras yang telah dibangun sejak awal pertandingan.

Usai laga, sejumlah pemain dan ofisial Mesir sempat melayangkan protes kepada wasit François Letexier atas beberapa keputusan sepanjang pertandingan. Meski demikian, hasil akhir tetap tidak berubah.

Di Atlanta, sejarah kembali berpihak kepada Argentina.

Saat banyak tim akan menyerah setelah tertinggal dua gol, Albiceleste justru menemukan cara untuk bangkit. Sementara Mesir, yang sempat menggenggam kemenangan dengan kedua tangan, harus merelakannya lepas tepat ketika peluit akhir semakin dekat.(*)

Kontributor: Agung Nugroho

Editor: Abdel Rafi