Prancis Lolos Berkat Penalti VAR, Paraguay Tinggalkan Piala Dunia dengan Kepala Tegak

Ilustrasi

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Setiap pertandingan Piala Dunia selalu punya cerita di luar lapangan. Kali ini, giliran Prancis dan Paraguay. Dua negara yang sejak abad ke-19 sudah saling mengenal lewat hubungan diplomatik, kini kembali dipertemukan di panggung sepak bola dunia. Bedanya, kalau dulu bertukar surat kenegaraan dan menjalin hubungan dagang, sekarang yang bertukar justru tekel, umpan, dan peluang gol demi satu tiket ke perempat final. Untung mainnya di lapangan hijau. Kalau masih urusan diplomasi, Mbappe mungkin sudah disuruh hadir ke konferensi internasional, bukan berlari mengejar bola.

Sejak peluit pertama dibunyikan, Paraguay langsung menunjukkan bahwa mereka bukan tim yang kebetulan lolos ke babak 16 besar. Tim yang sebelumnya menyingkirkan Jerman lewat drama adu penalti itu bermain disiplin dan penuh keberanian. Garis pertahanan mereka rapat, pressing mereka agresif, sementara setiap serangan balik selalu membuat jantung pendukung Prancis bekerja lembur. Mike Maignan beberapa kali dipaksa melakukan penyelamatan penting. Kasihan kipernya, baru sempat tarik napas, Paraguay sudah datang lagi.

Prancis memang lebih banyak menguasai bola. Antoine Griezmann sibuk mengatur ritme permainan, Ousmane Dembélé berkali-kali menusuk dari sisi sayap, sedangkan Kylian Mbappe terus bergerak mencari celah. Masalahnya, pertahanan Paraguay hari itu seperti pintu rumah orang kampung saat musim Lebaran. Mau masuk susah, karena di depan pintu sudah ada banyak orang yang belum selesai ngobrol.

Babak pertama pun berakhir tanpa gol. Paraguay berhasil membuat Les Bleus frustrasi. Sementara para pendukung Prancis mulai gelisah. Mungkin ada yang diam-diam berharap ada keajaiban. Dan keajaiban itu ternyata datang… bukan dari skema serangan, melainkan dari layar VAR.

Memasuki babak kedua, wasit mendapat panggilan untuk meninjau sebuah insiden di kotak penalti. Setelah melihat tayangan ulang, titik putih pun ditunjuk. Hadiah penalti untuk Prancis. Paraguay hanya bisa menggeleng pelan. Hari itu, lawan mereka bukan cuma sebelas pemain berbaju biru, tetapi juga teknologi yang sedang bekerja.

Kylian Mbappe yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna. Tendangannya tak mampu dihentikan kiper Paraguay dan mengubah skor menjadi 1-0. Mbappe memang yang mencetak gol, tetapi kalau boleh bercanda sedikit, VAR juga layak masuk daftar pemberi assist malam itu.

Tertinggal satu gol, Paraguay sama sekali tidak menyerah. Mereka terus menekan demi mencari gol penyeimbang. Beberapa peluang sempat membuat pendukung Prancis menahan napas, tetapi Mike Maignan kembali tampil sigap di bawah mistar. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 1-0 tetap bertahan.

Paraguay memang gagal melangkah ke perempat final, tetapi mereka pulang dengan kepala tegak. Mereka mampu membuat salah satu favorit juara kesulitan sepanjang pertandingan. Bahkan satu-satunya gol yang bersarang ke gawang mereka lahir dari titik putih setelah intervensi VAR, bukan dari permainan terbuka. Kadang-kadang di sepak bola, pertahanan yang paling kokoh pun bisa runtuh bukan karena dibongkar lawan, melainkan karena monitor di pinggir lapangan ikut angkat bicara.

Kini tantangan yang lebih besar sudah menunggu Les Bleus. Di perempat final, Prancis akan menghadapi Maroko yang sebelumnya tanpa ampun menggulung Kanada 3-0. Menariknya, duel ini juga menyimpan aroma sejarah. Maroko pernah berada di bawah Protektorat Prancis selama lebih dari empat dekade pada abad ke-20.(*)

Kontributor: Agung Nugroho

Editor: Abdel Rafi