Singa Atlas Bungkam Kanada, Maroko ke Delapan Besar

Ilustrasi

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Kalau membuka buku sejarah, Kanada dan Maroko sebenarnya sama-sama pernah berada di bawah bayang-bayang kekuatan Eropa. Maroko sempat menjadi Protektorat Prancis, sementara Kanada merupakan koloni Inggris. Menariknya, sampai hari ini jejak sejarah itu masih terasa. Di Québec orang masih fasih berbahasa Prancis, sedangkan di Maroko bahasa Prancis juga masih akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi kalau sebelum pertandingan ada pemain yang saling menyapa dengan “bonjour”, jangan buru-buru dikira salah kostum. Bedanya, malam ini yang membuat Kanada benar-benar menunduk bukan bahasa Prancis, melainkan permainan efektif Maroko.

Laga 16 besar Piala Dunia 2026 di Houston langsung dibuka dengan keberanian Kanada. The Canucks tampil agresif sejak peluit pertama dibunyikan. Baru sepuluh menit berjalan, Tani Oluwaseyi sudah mengancam gawang Maroko lewat tembakan berbahaya. Beruntung masih ada Yassine Bono yang sigap menepis. Kalau bukan karena Bono, Singa Atlas mungkin sudah dipaksa bangun lebih cepat dari jadwal tidurnya.

Hampir sepanjang 20 menit pertama, Kanada tampil percaya diri. Mereka menguasai bola, menekan dari berbagai sisi, bahkan membuat Maroko lebih banyak bertahan. Sesekali para pemain Maroko tampak kesulitan keluar dari tekanan. Kalau ada yang baru menyalakan televisi saat itu, mungkin dikiranya Kanada yang baru saja menjadi semifinalis Piala Dunia 2022.

Namun Singa Atlas memang punya cara berburu yang berbeda. Mereka tidak panik mengejar mangsa ke sana kemari. Mereka cukup membiarkan lawannya berlari sampai kehabisan napas, lalu menerkam pada saat yang paling tepat.

Babak pertama memang belum menghasilkan gol. Yang lebih sibuk justru wasit Michael Oliver yang berkali-kali mengeluarkan kartu kuning. Achraf Hakimi dan Richie Laryea bahkan sempat adu mulut. Untung cuma saling tatap. Kalau dilanjut adu pantun, pertandingan mungkin baru selesai setelah babak perempat final.

Skor 0-0 saat turun minum sebenarnya lebih menguntungkan Maroko. Kanada sudah mengeluarkan banyak tenaga, sementara Singa Atlas baru selesai melakukan pemanasan.

Lima menit setelah babak kedua dimulai, barulah taring itu benar-benar terlihat. Tendangan bebas Achraf Hakimi mengawali serangan yang diselesaikan dengan sempurna oleh Azzedine Ounahi melalui sepakan keras dari luar kotak penalti. Bola meluncur mulus ke pojok gawang tanpa mampu dijangkau Maxime Crépeau. Kanada yang sejak awal tampil percaya diri mendadak harus mengejar keadaan.

Gol tersebut langsung mengubah wajah pertandingan. Kanada semakin berani menyerang demi mencari gol balasan, tetapi justru meninggalkan banyak ruang di lini belakang. Persis seperti berang-berang yang terlalu sibuk memperbaiki bendungan, tanpa sadar ada Singa Atlas yang sudah mengintai dari balik semak.

Menit ke-78 Kanada kembali memperoleh peluang emas melalui Tajon Buchanan. Namun lagi-lagi Bono menunjukkan kelasnya. Gawang Maroko malam itu rasanya seperti sedang dipasang tulisan, “Maaf, hari ini tutup.”

Kesempatan yang gagal dimanfaatkan Kanada justru dibayar mahal. Menit ke-82, Brahim Diaz memperlihatkan kualitasnya dengan melewati kawalan lawan sebelum mengirim umpan matang kepada Ounahi. Tanpa banyak basa-basi, gelandang Maroko itu mencetak gol keduanya. Skor berubah menjadi 2-0. Di titik itu, semangat Kanada mulai menipis, sementara kepercayaan diri Maroko semakin meninggi.

Sebenarnya Maroko sempat hampir menambah gol ketika sundulan Soufiane Rahimi menghantam mistar gawang. Tiang masih berbaik hati kepada Kanada. Sayangnya, kebaikan itu hanya bertahan beberapa menit.

Memasuki injury time, serangan balik cepat kembali memperlihatkan efektivitas Maroko. Rahimi akhirnya ikut mencatatkan namanya di papan skor setelah menyelesaikan peluang dengan tenang. Skor berubah menjadi 3-0 sekaligus menutup pertandingan dengan cara yang paling meyakinkan.

Kalau melihat angka di papan skor, orang mungkin mengira Maroko mendominasi sejak awal. Padahal kenyataannya tidak begitu. Kanada sempat tampil lebih agresif dan beberapa kali merepotkan lawannya. Bedanya hanya satu: efektivitas. Maroko tidak butuh banyak peluang untuk menghukum lawannya. Sekali datang, langsung menggigit.

Singa Atlas pun melangkah gagah ke perempat final. Sementara itu, Kanada harus mengemasi koper lebih cepat. Berang-berang memang terkenal ahli membangun bendungan, tetapi malam ini bendungan pertahanan mereka justru jebol tiga kali. Dan menghadapi Singa Atlas yang sedang lapar, ternyata kayu gelondongan saja tidak cukup untuk bertahan.(*)

Kontributor: Agung Nugroho

Editor: Abdel Rafi