
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), perhatian publik dinilai semakin didominasi oleh pembicaraan mengenai peta dukungan dan figur calon pemimpin. Di tengah situasi tersebut, aktifis senior NU yang juga Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Sudarsono Rahman, mengingatkan agar energi organisasi tidak terserap habis dalam kontestasi jabatan, melainkan diarahkan untuk merumuskan gagasan besar bagi masa depan umat.
Sudarsono menilai bahwa forum Muktamar semestinya menjadi ruang musyawarah strategis yang melahirkan arah baru bagi perjalanan organisasi.
Menurut dia, Nahdlatul Ulama sejak awal tidak dibangun sebagai arena perebutan kekuasaan, melainkan sebagai jam’iyah yang mengemban misi dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
“Nahdlatul Ulama tidak dibangun untuk membesarkan seseorang. Nahdlatul Ulama dibangun untuk membesarkan umat. Jabatan hanyalah amanah, sedangkan khidmah adalah tujuan,” ujar pria yang akrab disapa Cak Dar itu pada media ini, Jumat (26/6/2026).
Ia menyoroti kecenderungan ruang publik yang lebih ramai membahas konfigurasi dukungan politik menjelang Muktamar dibandingkan perdebatan mengenai arah kebijakan organisasi lima tahun ke depan.
Padahal, menurutnya, warga Nahdliyin lebih membutuhkan penjelasan mengenai visi calon pemimpin dalam memperkuat pesantren, meningkatkan kemandirian ekonomi warga, menyiapkan kader ulama, menjaga independensi moral organisasi, hingga menjawab tantangan perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
“Yang seharusnya diperdebatkan bukan semata siapa yang akan memimpin, melainkan gagasan apa yang akan dibawa untuk memperkuat khidmah NU kepada umat,” ujarnya.
Ketua PW IPNU Jawa Timur periode 1988-1992 itu, menilai kritik terhadap dinamika internal organisasi tidak seharusnya dipahami sebagai bentuk permusuhan. Sebaliknya, kritik yang lahir dari rasa memiliki merupakan bagian dari tanggung jawab moral warga untuk menjaga marwah organisasi.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan NU sesungguhnya berada pada jutaan warga yang bekerja di akar rumput, mulai dari para kiai kampung, guru ngaji, pengurus ranting, pengasuh pesantren, Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII, hingga berbagai elemen lain yang selama ini mengabdi tanpa banyak sorotan publik.

Cak Dar mengibaratkan NU sebagai pohon beringin yang besar. Menurut dia, perhatian publik sering kali hanya tertuju pada batang pohon, padahal kekuatan sesungguhnya berada pada akar yang menopang kehidupan pohon tersebut.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga Nahdliyin mengubah cara memandang Muktamar. Pertanyaan mengenai siapa yang layak menjadi Ketua Umum, menurutnya, perlu diimbangi dengan pertanyaan yang lebih substantif mengenai program, arah kebijakan, dan manfaat yang akan diberikan kepada umat.
“Sejarah tidak hanya mengingat siapa yang memimpin, tetapi lebih menghormati mereka yang meninggalkan manfaat,” tulisnya.
Cak Dar menegaskan bahwa pernyataannya ini bukan untuk menghakimi pihak tertentu, melainkan sebagai ajakan bermuhasabah agar NU tetap menjadi rumah besar umat, penjaga akhlak, penggerak peradaban, sekaligus pelayan masyarakat.
Ia menilai keberhasilan Muktamar tidak semata ditentukan oleh lahirnya seorang pemenang dalam kontestasi kepemimpinan, tetapi oleh kemampuan forum tersebut menghasilkan gagasan yang memperkuat persaudaraan dan mengembalikan khidmah sebagai orientasi utama kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Jika Muktamar hanya melahirkan pemenang, yang bergembira hanyalah mereka yang menang. Namun jika Muktamar melahirkan gagasan dan memperkuat khidmah, seluruh warga Nahdliyin adalah pemenangnya,” pungkasnya.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








