
Tawu. Tawu lo ito Eya
Taluhu, taluhu ito Eya
Tulu, tulu lo ito Eya
Bo dila poi poluli livo hilawo(Manusia adalah manusia Tuanku
Air adalah air Tuanku
Api adalah api Tuanku
Tetapi tidak untuk dipergunakan sekehendak hati). – Rujukan: Kaluku, 1968: 13; Nur, 1996: 22.
Kata “Eya” dalam bahasa Gorontalo bukan sekadar penanda linguistik, melainkan sebuah konsep teologis yang menyingkap relasi antara kosmologi lokal dan Islamisasi.
Konsep “Eya” dalam bahasa Gorontalo dan Allah dalam Islam memperlihatkan sebuah proses sinkretisasi yang khas, di mana istilah lokal yang menunjuk pada “Yang Tertinggi” dipadukan dengan ajaran tauhid.
Relasi ini tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga semantik dan sosial-budaya, sehingga membentuk fondasi religius sekaligus identitas masyarakat Gorontalo.
Secara etimologis, “Eya” adalah akar kata lokal yang menunjuk pada entitas tertinggi, sumber kehidupan, dan kekuatan mutlak.
Kata ini punya padanan dalam bahasa Akkadia (Babilonia), “Ea” (Sumeria: Enki) berarti dewa air, kebijaksanaan, dan penciptaan dalam peradaban kuno Mesopotamia, khususnya Babilonia.
Namun, dalam mitologi Babilonia, Ea dipandang sebagai penguasa Abzu (air tawar bawah tanah), pelindung ritual penyucian, dan ayah dari Marduk, dewa nasional Babilonia.
Sementara itu, Allah (الله) berasal dari bahasa Arab yang berarti Tuhan Yang Maha Esa.
Ketika Islam masuk ke Gorontalo pada abad ke‑15–16, istilah “Eya” dipakai sebagai padanan lokal untuk menyebut Allah.
Hal ini memudahkan masyarakat menerima konsep tauhid tanpa kehilangan identitas bahasa, sekaligus memperlihatkan bagaimana Islamisasi berjalan melalui adaptasi linguistik.
Dalam adat Gorontalo, “Eya” dipahami sebagai simbol transendensi, pengatur kosmos, dan dasar moral masyarakat.
Sedangkan Allah dalam Islam adalah Tuhan yang Esa, transenden, dan sumber hukum syariat.
Relasi keduanya terletak pada fungsi semantik: “Eya” menjadi jembatan antara istilah lokal yang mengakar dalam budaya dengan makna tauhid Islam.
Dengan demikian, bahasa Gorontalo tidak hanya mempertahankan kosmologi tradisional, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai Islam.
Filosofi “ketauhidan” kultural Gorontalo difrasekan dalam kalimat berikut:
“Adati hula-hulaa to syara, syara hula-hulaan to Qurani” (Adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah).
Dengan demikian, hal ini menegaskan bahwa konsep “Eya” tidak bertentangan dengan Allah dalam konsep teologi Islam, melainkan saling menguatkan.
Hasilnya, masyarakat Gorontalo mampu menjaga adat sekaligus menegakkan syariat, dengan “Eya” sebagai titik temu yang menyatukan tradisi dan agama.
Ulasan ini menunjukkan bahwa “Eya” bukan sekadar kata, melainkan simbol teologis yang mengikat adat, agama, dan kehidupan sehari-hari.
Ia menjadi bukti bahwa Islamisasi di Gorontalo berlangsung melalui integrasi, bukan penghapusan tradisi, sehingga masyarakat dapat mempertahankan identitas budaya sekaligus memperkuat keyakinan monoteistik.
Dengan demikian, “Eya” adalah jembatan yang mempertemukan kosmologi lokal dengan Islam, menghasilkan konsep Tuhan yang khas, kontekstual, dan tetap berakar pada tauhid.
Dari sisi etimologi, “Eya” menunjuk pada sesuatu yang mutlak, berada di atas segalanya, dan tidak dapat disetarakan dengan manusia atau makhluk lain.
Menariknya, secara fonetik ia berdekatan dengan kata Arab “Iya” (نعم) seperti dalam Iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah).
Hal ini pun membuka kemungkinan adanya proses serapan semantik, kata “Eya” sejak Islam masuk ke Gorontalo, juga dipahami sebagai Tuhan Yang Maha Esa, transenden, dan sumber kehidupan.
Dalam kerangka adat Gorontalo, konsep ini sejalan dengan filosofi “ketauhidan” kultural, khusus sebagai fondasi adat-istiadat Gorontalo.
Dengan demikian, “Eya” berfungsi sebagai titik temu antara adat dan agama, memperlihatkan bagaimana masyarakat Gorontalo menempatkan nilai religius sebagai fondasi solidaritas sosial.
Menyebut “Eya” berarti mengakui adanya kekuatan tertinggi yang mengatur tatanan hidup, sehingga ia menjadi simbol moral sekaligus spiritual.
Lebih jauh, “Eya” bukan sekadar kata, melainkan simbol teologis yang mengikat adat, agama, dan kehidupan sehari-hari.
Ia menjadi jembatan antara kosmologi lokal yang sebelumnya berakar pada kepercayaan tradisional maupun mitologi Hulontalangi (Manusia dari Langit) dengan Islam, sehingga konsep Tuhan dalam bahasa Gorontalo bersifat sinkretis namun tetap monoteistik.
Di satu sisi, “Eya” menjaga kontinuitas identitas budaya; di sisi lain, ia meneguhkan integrasi nilai Islam dalam masyarakat.
Dengan demikian, analisis kritis atas “Eya” memperlihatkan bagaimana sebuah istilah lokal dapat bertransformasi menjadi medium teologis yang menyatukan tradisi dan agama.
Ia adalah bukti bahwa bahasa tidak hanya menyimpan makna, tetapi juga menjadi arena pertemuan antara adat Gorontalo dan Islamisasi, menghasilkan konsep Tuhan yang khas, kontekstual, dan tetap berakar pada teologi monoteisme.
#coverlagu: Lagu daerah Gorontalo Tilola Malo Wolo Wololo dibawakan oleh Rama Aiphama, dirilis secara digital pada 27 Februari 2024. Rama Aiphama sendiri lahir di Gorontalo pada 17 September 1956 dan wafat di Jakarta Timur pada 11 Maret 2020. Makna lagu ini adalah ungkapan kesedihan, kekecewaan, dan perasaan ditinggalkan, yang disampaikan dengan bahasa Gorontalo penuh metafora emosional.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan dan Ketua Lamahu Sulut 2026-2031








