
BOGOR, CAKRAWARTA.com – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Bogor didorong untuk bertransformasi menjadi pusat literasi, kreativitas, sekaligus pemberdayaan masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui Workshop “TBM Naik Kelas: Menguatkan TBM sebagai Pusat Literasi, Kreativitas, dan Pemberdayaan Masyarakat” yang digelar Forum TBM Kabupaten Bogor di Bogor, Minggu (7/6/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 30 pengelola TBM dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor tersebut menghadirkan Pendiri TBM Lentera Pustaka, Syarifudin Yunus, dan pengelola Bale Baca Cijayanti, Agus Nazmudin, sebagai narasumber. Workshop dibuka Ketua Forum TBM Kabupaten Bogor Sri Lina Qomariyah dan didukung oleh Noura Publishing serta Cimory.
Sri Lina mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengelola TBM agar mampu menjawab tantangan pengembangan literasi masyarakat yang terus berkembang. Menurut dia, konsep “naik kelas” tidak hanya berarti peningkatan jumlah kegiatan, tetapi juga penguatan tata kelola, kolaborasi, serta keberlanjutan program yang dijalankan TBM.
Dalam paparannya, Syarifudin Yunus memaparkan hasil riset mengenai kondisi TBM di Kabupaten Bogor. Temuan itu menunjukkan sebagian besar TBM masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Sebanyak 85% TBM, misalnya, memiliki koleksi kurang dari 3.000 buku. Selain itu, 60% TBM memiliki jumlah pembaca di bawah 60 anak, sementara 70% hanya didukung kurang dari 10 relawan. Sebanyak 60% TBM juga beroperasi hanya dua hingga tiga hari dalam sepekan.
Dari sisi pendanaan, sekitar 75% TBM masih mengandalkan pembiayaan swadaya. Adapun 65% TBM membutuhkan dukungan anggaran kurang dari Rp 25 juta per tahun untuk menjalankan program literasi mereka.
“Naik kelas berarti memahami posisi TBM saat ini sekaligus menentukan arah pengembangannya di masa depan. Berdasarkan hasil riset, aspek jumlah pembaca, koleksi buku, relawan, dan jam layanan masih perlu diperkuat. Karena itu, komitmen dan konsistensi pengelola menjadi faktor penting,” ujar Syarifudin.
Ia menambahkan, penguatan jejaring, promosi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi kunci untuk membuka peluang dukungan pendanaan dari pihak ketiga.
Sementara itu, Agus Nazmudin membagikan pengalaman Bale Baca Cijayanti dalam mengembangkan program literasi berbasis kolaborasi masyarakat. Menurut dia, keterlibatan relawan dan kemitraan dengan berbagai komunitas menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan taman bacaan.
Diskusi berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya berbagi pengalaman mengenai pengelolaan TBM, tetapi juga mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga keberlanjutan pendanaan.
Forum TBM Kabupaten Bogor berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya berbagai inisiatif baru di tingkat komunitas sehingga TBM tidak hanya menjadi tempat membaca, melainkan juga ruang belajar, berkreasi, dan memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan keterbatasan akses literasi di sejumlah wilayah, keberadaan TBM dinilai tetap menjadi salah satu simpul penting dalam membangun budaya belajar masyarakat dari tingkat akar rumput.(*)
Kontributor: Yunus
Editor: Abdel Rafi








