Menjaga Api Kebangsaan di Tengah Pusaran Global

Saat ini era di mana dunia terasa seperti lautan yang bergelora, Indonesia berdiri gagah sebagai kapal besar yang siap menaklukkan ombak. Bayangkan saja: pusaran geopolitik global perang dagang AS-China, konflik Ukraina-Rusia, perang Timur Tengah, hingga ketegangan di Laut China Selatan, semua itu bukan sekadar berita di layar ponsel, tapi angin kencang yang menguji ketangguhan kita. Namun, justru di persimpangan ini, api kebangsaan kita bisa berkobar lebih terang. Sebagai bangsa dengan populasi terbesar keempat di dunia (sekitar 280 juta jiwa per data BPS 2025), kita punya modal emas yaitu identitas kebangsaan yang kokoh dari “Bhinneka Tunggal Ika”. Tidak perlu diresahkan, namun kita positif melihat peluang di balik tantangan, dengan data nyata sebagai kompas, agar kita tak hanya bertahan, tapi berjaya.

Mari kita bedah dulu lanskap geopolitik global yang sedang mengguncang. Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) 2025, pengeluaran militer dunia mencapai rekor US$2,44 triliun, naik 6,8% dari tahun sebelumnya. AS dan China mendominasi, dengan masing-masing US$916 miliar dan US$296 miliar. Ini menciptakan efek domino mulai dari rantai pasok global terganggu, harga energi melonjak 25% pasca-invasi Ukraina (data IEA 2025), hingga perdagangan dunia menyusut 2,5% (WTO 2025). Bagi Indonesia, yang bergantung pada ekspor komoditas seperti nikel (penyumbang 50% ekspor global, data Kementerian Perdagangan 2025), ini seperti badai yang menerpa langsung.

Lihat saja Laut China Selatan, wilayah kita yang kaya sumber daya dengan cadangan minyak 11 miliar barel dan gas 190 triliun kaki kubik (USGS 2024). Klaim China atas 90% perairan itu memicu insiden 47 kali pada 2024-2025 (data AMTI CSIS). Dampaknya? Ekspor kita ke China turun 4,2% di Q1 2026 (BPS), sementara inflasi pangan naik 5,1% karena gangguan logistik. Geopolitik ini bukan ancaman abstrak; ia meresap ke kehidupan sehari-hari, dari harga beras di pasar hingga lapangan kerja di pelabuhan Tanjung Priok.

Tapi, tunggu dulu! Di sinilah letak keajaiban identitas kebangsaan kita. Indeks Ketahanan Global FM Global 2025 menempatkan Indonesia di peringkat 58 dari 130 negara, naik 5 posisi dari 2024, berkat skor tinggi di resiliensi supply chain (peringkat 45). Mengapa? Karena “api kebangsaan” kita semangat gotong royong dan Pancasila menjadi benteng tak tergoyahkan. Data World Values Survey 2025 menunjukkan 78% rakyat Indonesia bangga akan identitas nasional, tertinggi di ASEAN. Ini bukan kebetulan. Saat pandemi COVID-19 melanda, ketahanan kita terbukti: tingkat vaksinasi nasional capai 97% (Kemenkes 2025), didorong solidaritas lintas suku dan agama. Bayangkan jika geopolitik global seperti sekarang datang saat itu dimana kita tetap berdiri tegak karena identitas yang menyatukan.

Perubahan geopolitik memaksa Indonesia untuk tidak hanya bereaksi, tapi proaktif merancang geostrategi sendiri. Posisi kita yang strategis di persimpangan jalur pelayaran global (mengendalikan Selat Malaka, Sunda, dan Lombok) membuat kita jadi incaran negara-negara besar seperti AS, China, dan Rusia. Hikmahnya bahwa kita bisa memanfaatkan ini untuk memperkuat posisi tawar tanpa terikat pada satu blok pun

Analisis data lebih dalam mengungkap pola menarik. Studi RAND Corporation 2025 tentang “Geopolitical Stress Test” menemukan bahwa negara-negara dengan identitas nasional kuat, seperti Indonesia (skor kohesi sosial 8,2/10), pulih 30% lebih cepat dari guncangan eksternal dibanding yang lemah (misalnya, Myanmar skor 4,1/10). Contoh nyata: Saat perang dagang AS-China 2018-2022, ekspor kita ke AS naik 15% (US$23 miliar pada 2022, data Kemendag), karena kita posisikan diri sebagai “friendshoring” netral. Identitas “bebas aktif” ala Soekarno jadi senjata diplomasi: kita bergabung G20, ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP), dan inisiatif Global South, yang hasilkan investasi asing US$22 miliar di 2025 (BKPM).

Sekarang, mari kita bicara ketahanan nasional secara konkret. Ketahanan bukan hanya militer dimana Stockholm International Peace Research Institute mencatat anggaran pertahanan kita US$9,5 miliar (2025), naik 12% YoY, tapi masih 0,8% PDB, rendah dibanding rata-rata ASEAN 2,1%. Yang lebih krusial adalah ketahanan ekonomi dan sosial. Laporan World Bank 2026 memproyeksikan pertumbuhan PDB kita 5,2%, tertinggi di G20 berkat diversifikasi ekspor ke India (naik 22%) dan UE (naik 18%). Ini didukung identitas kebangsaan: program hilirisasi nikel ciptakan 200.000 lapangan kerja baru (Kemenperin 2025), dengan 85% tenaga kerja lokal yang bangga akan “Indonesia Emas 2045”.

Geopolitik global juga uji identitas kita dari dalam. Polarisasi media sosial, dengan 170 juta pengguna aktif (data We Are Social 2026), sering amplifikasi narasi pecah belah. Namun, data survei LSI 2025 menunjukkan 72% masyarakat tolak radikalisme, naik dari 65% di 2020. Ini bukti api kebangsaan masih menyala. Di Tengah pusaran global, kita bisa belajar dari Singapura (peringkat 1 FM Global Resilience): mereka kuat karena identitas nasional yang adaptif. Kita pun bisa, dengan memperkuat pendidikan Pancasila di 50.000 sekolah (Kemendikbud 2025), tingkat pemahaman anak muda naik 25%.

Optimisme datang dari data masa depan. Proyeksi McKinsey 2026 sebut Indonesia bisa jadi ekonomi US$2 triliun pada 2030 jika ketahanan nasional terintegrasi dengan identitas. Strategi? Pertama, diplomasi cerdas dengan memperkuat AOIP untuk netralitas di SCS, hasilkan kesepakatan CoC 2026 (target ASEAN). Kedua, ekonomi tangguh dimana target swasembada pangan 100% via food estate (produksi beras naik 10 juta ton, data Kementan 2025). Ketiga, budaya kuat dimana terdapat revitalisasi 17.000 situs cagar budaya untuk fondasi identitas (Kemenparekraf).

Bayangkan visi ini bahwa generasi muda kita, dengan smartphone di tangan, tak terombang-ambing pusaran global karena akar kebangsaan yang dalam. Data UNESCO 2025 tunjukkan 92% pelajar Indonesia paham “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai kekuatan, siap jadi duta digital di forum dunia.

Geopolitik di persimpangan bukan akhir, tapi panggilan untuk bangkit. Api kebangsaan kita bukan milik masa lalu; ia obor untuk masa depan. Dengan data sebagai peta, identitas sebagai kompas, dan semangat gotong royong sebagai angin, Indonesia tak hanya bertahan, namun kita akan memimpin. Mari jaga api itu, sebarkan cahayanya, karena di tengah pusaran global, justru itulah yang membuat kita abadi. Bersama, kita bangun bangsa yang tak tergoyahkan! Semoga. (*)

 

HERY PURNOBASUKI

Guru Besar dan Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga