
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang terus berkembang, dialog dan silaturahmi antar elemen bangsa menjadi semakin penting. Kesadaran itulah yang tampak dalam kunjungan silaturahmi Mustasyar PBNU Prof. KH Said Aqil Siroj ke Markas Besar TNI, pada Senin (1/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut, KH Said Aqil Siroj, yang juga merupakan anggota dewan pengarah BPIP, diterima oleh Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno, Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Danpusterad). Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban, dan semangat kebangsaan. Lebih dari sekadar kunjungan kelembagaan, silaturahmi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara ulama dan prajurit dalam menjaga persatuan, kerukunan, serta ketahanan nasional.
Dalam pertemuan tersebut, KH Said Aqil Siroj menyampaikan berbagai pandangan mengenai dinamika kebangsaan yang berkembang saat ini. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia tidak hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga hadir dalam bentuk polarisasi sosial, penyebaran paham ekstremisme, disinformasi, serta berbagai potensi konflik yang dapat mengganggu persatuan nasional.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kerukunan sosial.
“Sebagai keluarga besar bangsa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara kekuatan sosial keagamaan dan institusi negara harus terus diperkuat demi menjaga Indonesia tetap damai dan bersatu,” ujar KH Said Aqil Siroj.
Pada kesempatan tersebut, Kyai Said juga menegaskan komitmen Nahdlatul Ulama untuk terus menjadi mitra strategis TNI dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat moderasi beragama, serta menopang ketahanan nasional. Melalui jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom, dan berbagai perangkat organisasi yang dimiliki, NU siap berkontribusi dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan semangat cinta tanah air di tengah masyarakat.
“NU dan TNI sama-sama lahir dari rahim rakyat. Karena itu, sinergi NU dan TNI untuk menjaga NKRI adalah sebuah keniscayaan. NKRI Harga Mati bukan sekadar slogan, tetapi komitmen yang harus terus dirawat dan diwujudkan bersama,” tegasnya.
Pertemuan ini memiliki makna yang lebih dalam karena mempertemukan dua kekuatan sosial yang selama ini hidup dan bekerja di tengah masyarakat yaitu pesantren dan teritorial TNI.
Sebagai Danpusterad, Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno memimpin institusi yang menjadi ujung tombak pembinaan teritorial TNI Angkatan Darat. Melalui jaringan komando kewilayahan yang menjangkau hingga pelosok desa, fungsi teritorial TNI hadir bersama masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari penguatan wawasan kebangsaan, penanggulangan bencana, pemberdayaan masyarakat, hingga menjaga ketahanan sosial.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama melalui jaringan pesantren, masjid, lembaga pendidikan, dan organisasi kemasyarakatannya telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan rakyat Indonesia. Karena itu, pertemuan ini sesungguhnya mempertemukan dua kekuatan yang sama-sama berakar kuat di tengah masyarakat dan memiliki komitmen yang sama dalam menjaga keutuhan bangsa.
KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa tantangan Indonesia ke depan tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menyangkut ketahanan sosial, persatuan nasional, serta kemampuan bangsa menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
Menurutnya, kerja sama antara ulama, aparat negara, dan masyarakat menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi serta berbagai pengaruh global yang berpotensi menggerus nilai-nilai kebangsaan.
“Indonesia dibangun oleh semangat gotong royong. Ketika ulama, umara, aparat negara, dan masyarakat berjalan bersama, maka bangsa ini akan memiliki kekuatan besar untuk menghadapi berbagai tantangan. Persatuan adalah modal terbesar bangsa Indonesia,” ujarnya.
Selain membahas penguatan wawasan kebangsaan dan pencegahan radikalisme, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya kerja sama dalam berbagai program sosial kemasyarakatan. Menurut KH Said Aqil, konsep pertahanan rakyat semesta tidak hanya berbicara mengenai kekuatan militer, tetapi juga menyangkut kekuatan sosial yang lahir dari persatuan, solidaritas, pendidikan, dan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga berharap TNI dan Polri terus menjadi garda terdepan dalam memberikan rasa aman dan perlindungan kepada masyarakat, tak lupa pula beliau berharap TNI dan Polri untuk membantu menjaga kondusifitas pelaksanaan Muktamar NU yang kelak akan diadakan di Jatim.
“Saya berharap TNI dan Polri terus menjadi pelindung masyarakat, sehingga rakyat merasa tenang, terlindungi, dan dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman, serta membantu menjaga kondusifitas pelaksanaan Muktamar NU Agustus nanti.” lanjutnya.
Sementara itu, Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan perhatian yang diberikan KH Said Aqil Siroj terhadap berbagai persoalan kebangsaan. Menurutnya, pandangan dan nasihat para ulama merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
“Kami sangat berterima kasih atas kunjungan, nasihat, dan pandangan yang disampaikan KH Said Aqil Siroj. Sinergi antara TNI dan Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta membangun ketahanan masyarakat dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu keutuhan NKRI,” ujarnya.
Ia berharap hubungan baik yang selama ini terjalin antara TNI dan Nahdlatul Ulama dapat terus diperkuat melalui berbagai program kebangsaan, sosial kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Silaturahmi ini kembali menegaskan bahwa hubungan antara NU dan TNI dibangun di atas fondasi yang sama, yakni pengabdian kepada bangsa dan negara. Keduanya lahir, tumbuh, dan mengabdi untuk rakyat Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan zaman, perjumpaan antara ulama dan prajurit menjadi pengingat bahwa Indonesia akan tetap kokoh apabila seluruh kekuatan bangsa berjalan beriringan. Silaturahmi di Mabes TNI itu bukan sekadar pertemuan antara seorang ulama dan seorang jenderal. Ia adalah perjumpaan dua kekuatan moral bangsa yang tumbuh dari rahim rakyat. Ketika pesantren dan teritorial bertemu dalam semangat pengabdian yang sama, yang dirawat bukan hanya keamanan negara, melainkan juga harapan agar Indonesia tetap menjadi rumah bersama yang rukun, damai, dan bermartabat bagi generasi yang akan datang.(*)
Kontributor: Sudarsono Rahman
Editor: Abdel Rafi








