
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Sebanyak 26 santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, berhasil diterima di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada tahun akademik 2026. Capaian tersebut memperkuat tradisi panjang pesantren dalam melahirkan generasi yang menempuh pendidikan di salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Bidang Pembinaan Pendidikan Pesantren Tebuireng, Minggu (31/5/2026), menyebutkan para santri yang lolos berasal dari tiga lembaga pendidikan di lingkungan pesantren. Sebanyak 17 santri berasal dari MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, tujuh santri dari SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng, dan dua santri dari MA Sains Tebuireng Putri Kesamben.
Kepala MA Sains Tebuireng, A. Rofiq, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses pendidikan yang menggabungkan penguatan ilmu agama, pembelajaran bahasa Arab, serta pembinaan karakter santri secara berkelanjutan.
“Prestasi ini bukan hanya membanggakan madrasah dan pesantren, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh santri untuk terus bersungguh-sungguh dalam belajar, khususnya dalam pendalaman ilmu agama dan bahasa Arab,” ujarnya.
Menurut Rofiq, kesempatan belajar di Universitas Al-Azhar merupakan amanah besar yang harus dijaga dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Kampus yang berlokasi di Kairo itu selama berabad-abad dikenal sebagai salah satu pusat studi Islam yang melahirkan banyak ulama, cendekiawan, dan pemimpin dari berbagai negara.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para guru, pembina pesantren, serta orang tua yang telah mendampingi para santri selama proses pendidikan hingga berhasil lolos seleksi.
“Kami berharap mereka diberikan kemudahan dan keberkahan selama menempuh pendidikan di Mesir serta kelak mampu memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan agama,” katanya.
Rasa syukur turut disampaikan Masyfiyyah Nur Aini, salah satu santri MA Sains Tebuireng yang diterima di Al-Azhar. Menurut dia, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Saya sangat bersyukur bisa diterima di Universitas Al-Azhar. Perjalanan menuju titik ini dipenuhi doa, usaha, kesabaran, dan dukungan banyak pihak, terutama orang tua,” ujarnya.
Ia menilai setiap tantangan yang dihadapi selama proses belajar menjadi pelajaran berharga bahwa hasil terbaik hanya dapat diraih melalui kerja keras dan ketekunan.
Pandangan serupa disampaikan Mohammad Saifan Ibrahim, santri SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng yang juga lolos seleksi. Ia berharap dapat memanfaatkan kesempatan belajar di Mesir untuk memperluas wawasan akademik sekaligus memperdalam pemahaman keislaman.
“Saya ingin belajar sebanyak mungkin dari tradisi keilmuan yang berkembang di Mesir, memperbaiki diri, dan kelak dapat membanggakan orang tua, guru, almamater, serta masyarakat,” katanya.
Keberhasilan 26 santri tersebut menambah daftar panjang alumni Tebuireng yang melanjutkan studi ke Timur Tengah. Bagi pesantren yang didirikan oleh itu, Al-Azhar tidak hanya menjadi tujuan pendidikan, melainkan juga ruang untuk melanjutkan tradisi keilmuan Islam yang telah tumbuh dan diwariskan selama lebih dari satu abad.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








