DMI Jatim Siapkan Dai Muda Inklusif, Libatkan Remaja hingga Penyandang Disabilitas

Momen perdana pelatihan kader dari muda DMI Jatim di Masjid al-Jihad Surabaya, Sabtu (4/7/2026). (foto: DMI Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jawa Timur mulai menyiapkan kader dai muda yang mampu menjawab tantangan dakwah di era digital sekaligus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Upaya itu diwujudkan melalui Pelatihan Retorika Dakwah Remaja Masjid yang menghadirkan peserta dari kalangan remaja masjid hingga sahabat disabilitas.

Ketua Departemen Dakwah PW DMI Jawa Timur, Dr. K.H.A. Syukron Djazilan, mengatakan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk membangun ekosistem dakwah yang lebih inklusif, ramah, dan mudah diakses oleh semua kalangan.

“Kami ingin memastikan bahwa dakwah tidak mengenal batas. Semua generasi muda, termasuk sahabat disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan menyampaikan pesan-pesan Islam yang menyejukkan,” ujar Syukron di Surabaya, Jumat (10/7/2026).

Pelatihan tahap pertama digelar di Masjid Al-Jihad Surabaya pada 4 Juli 2026 dan diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka terdiri atas remaja masjid putra dan putri serta perwakilan penyandang disabilitas.

Untuk menjamin seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan secara optimal, panitia menyediakan layanan juru bahasa isyarat sepanjang pelatihan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar yang setara bagi seluruh peserta.

Ketua PW DMI Jawa Timur, Dr. K.H. Sujak, M.Ag., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa masjid perlu terus memperkuat fungsinya sebagai pusat pembinaan umat sekaligus ruang pemberdayaan generasi muda.

Menurut Sujak, perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat menuntut hadirnya dai-dai muda yang tidak hanya menguasai substansi ajaran Islam, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi secara santun, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

“Masjid harus menjadi rumah bersama yang memberi kesempatan kepada seluruh generasi muda untuk tumbuh, belajar, dan berkontribusi dalam syiar Islam,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh pembekalan mengenai retorika dakwah, teknik berbicara di depan publik, penyusunan materi ceramah, hingga praktik menyampaikan dakwah secara langsung. Materi disampaikan oleh Dr. K.H.A. Syukron Djazilan, Dr. Uji Nurul Hidayati, dan Prof. Kamal Yusuf.

Setiap peserta juga mendapat kesempatan tampil menyampaikan pidato dakwah yang kemudian dievaluasi oleh para narasumber. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri sekaligus membentuk dai muda yang komunikatif, berwawasan, dan berakhlak.

Syukron berharap pelatihan tersebut menjadi awal lahirnya generasi pendakwah yang mampu menjadikan masjid sebagai ruang pembinaan umat yang terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi fisik.

“Keikutsertaan sahabat disabilitas menegaskan bahwa dakwah adalah ruang bersama. Siapa pun memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kemaslahatan,” ujarnya.

Melalui program kaderisasi ini, PW DMI Jawa Timur ingin memperkuat peran masjid sebagai ruang publik yang inklusif sekaligus melahirkan dai-dai muda yang mampu menyebarkan ajaran Islam yang moderat, humanis, dan relevan dengan dinamika masyarakat Indonesia.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi