
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Meningkatnya kasus Ebola di Afrika Tengah kembali menjadi perhatian dunia. Meski risiko penyebaran global masih dinilai rendah, para ahli mengingatkan bahwa mobilitas manusia yang semakin tinggi membuat setiap negara, termasuk Indonesia, tidak boleh lengah menghadapi ancaman penyakit infeksi lintas batas.
Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR) Laura Navika Yamani menilai lonjakan kasus Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda harus menjadi alarm bagi negara-negara di luar Afrika untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kesehatan.
“Ebola bukan hanya persoalan negara yang sedang terdampak wabah. Penyakit ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular dapat muncul kapan saja dan menyebar melampaui batas negara,” ujar Laura saat dihubungi tim media ini, Sabtu (30/5/2026) pagi.
Data terbaru hingga 25 Mei 2026 menunjukkan wabah Ebola di DRC masih terus berkembang. Sebanyak 906 kasus suspek telah dilaporkan, dengan 105 kasus terkonfirmasi. Selain itu, tercatat 223 kematian suspek dan 10 kematian terkonfirmasi. Sementara Uganda melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi dan satu kematian.
Menurut Laura, tingginya jumlah kasus suspek menunjukkan bahwa proses investigasi epidemiologi masih berlangsung dan wabah belum sepenuhnya terkendali. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan diagnostik, lambatnya identifikasi kasus, serta tantangan pelacakan kontak di wilayah terdampak.
Situasi semakin kompleks karena wabah terjadi di kawasan yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan, konflik berkepanjangan, hingga tingginya mobilitas penduduk akibat pengungsian.
“Ketika wabah baru berhasil teridentifikasi setelah jumlah kasus yang dicurigai sudah cukup banyak, maka pengendalian menjadi jauh lebih sulit dilakukan. Apalagi jika sistem kesehatan setempat menghadapi berbagai keterbatasan,” kata wanita alumnus program doktoral Kobe University, Jepang itu.
Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan. Setelah sempat tidak ditemukan kasus pada manusia antara 1979 hingga 1994, wabah kembali muncul dengan frekuensi yang semakin sering.
Dunia pernah dikejutkan oleh wabah Ebola Afrika Barat pada 2014–2016 yang menyebabkan lebih dari 28.000 kasus dan ribuan kematian. Saat itu, sejumlah negara di luar Afrika seperti Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Italia, Nigeria, Senegal, dan Mali juga melaporkan kasus impor akibat perjalanan internasional.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penyakit yang muncul di wilayah terpencil sekalipun dapat berkembang menjadi ancaman kesehatan internasional ketika terhubung dengan mobilitas manusia dan jaringan transportasi global.
Laura menjelaskan, wabah saat ini didominasi oleh Bundibugyo ebolavirus, salah satu jenis virus Ebola yang relatif jarang ditemukan dibandingkan Zaire ebolavirus yang lebih sering memicu wabah besar.
Meski demikian, strain Bundibugyo tetap berbahaya karena memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Tantangan lain adalah keterbatasan alat diagnostik dan pengembangan vaksin yang belum seoptimal untuk strain Ebola lainnya.
Selain itu, gejala awal Ebola sering menyerupai penyakit infeksi lain seperti malaria, tifoid, maupun demam biasa. Pada tahap awal, pasien umumnya hanya mengalami demam, lemas, dan nyeri otot sehingga kasus kerap terlambat dikenali.
“Karena gejala awalnya tidak spesifik, banyak kasus yang berpotensi tidak segera terdeteksi. Dalam situasi seperti itu, penularan dapat terus berlangsung baik di masyarakat maupun fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Laura.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menilai risiko wabah Ebola saat ini berada pada kategori sangat tinggi di DRC dan tinggi di kawasan Afrika. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa Ebola masih menjadi ancaman kesehatan yang membutuhkan perhatian dan koordinasi internasional.
Bagi Indonesia, Laura menilai penguatan sistem kewaspadaan dini perlu terus dilakukan meskipun hingga kini belum terdapat kasus Ebola di dalam negeri. Bandara internasional, pelabuhan, dan jalur perdagangan global harus menjadi bagian penting dari sistem pengawasan kesehatan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya memperkuat surveilans epidemiologi, meningkatkan kapasitas laboratorium molekuler, memastikan kesiapan rumah sakit rujukan, serta memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai penyakit infeksi yang berpotensi menjadi wabah.
Fasilitas kesehatan juga perlu memastikan prosedur pengendalian infeksi berjalan optimal, termasuk penggunaan alat pelindung diri, tata laksana isolasi pasien, serta pelatihan berkala bagi tenaga kesehatan.
Menurut Laura, pelajaran dari pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa dunia dapat menghadapi krisis kesehatan dalam waktu singkat apabila kewaspadaan melemah. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi investasi jangka panjang dalam sistem kesehatan nasional.
“Ebola adalah pengingat bahwa ancaman penyakit menular tidak pernah benar-benar hilang. Kewaspadaan, ilmu pengetahuan, dan kesiapan sistem kesehatan harus terus diperkuat agar wabah tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar,” pungkas wanita yang juga Ketua Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases RC-GERID UNAIR itu.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








