Alumnus UNAIR Ini Tinggalkan Zona Nyaman, Kini Jaga Ekosistem Laut di Maladewa

Muhammad Cesar Briliandi, alumnus UNAIR yang saat ini bekerja di bidang konservasi laut dan lingkungannya di Maladewa. (foto: dokumen pribadi)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Bagi sebagian orang, bekerja di kawasan wisata kelas dunia mungkin identik dengan kenyamanan dan kemewahan. Namun, bagi Muhammad Cesar Briliandi, pekerjaan itu justru menjadi jalan pengabdian untuk menjaga laut dan ekosistemnya.

Alumnus Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut kini menjalani profesi sebagai marine biologist di Le Méridien Maldives Resort & Spa, Maladewa, yang berada di bawah jaringan hotel internasional Marriott International.

Pilihan karier itu bukan jalan yang mudah. Selepas lulus dari UNAIR, Cesar memilih keluar dari zona nyaman dan melanjutkan studi magister melalui beasiswa di National Taiwan Ocean University (NTOU), Taiwan, salah satu perguruan tinggi terkemuka di bidang kelautan.

Pengalaman akademik dan kehidupan lintas negara membentuk cara pandangnya terhadap pentingnya konservasi laut di tengah ancaman perubahan lingkungan global. Bekal itu pula yang kini membawanya terlibat langsung dalam upaya menjaga ekosistem laut di salah satu destinasi wisata bahari paling terkenal di dunia.

“Lingkungan kerja saya sekarang menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi. Tidak hanya memahami ilmu kelautan, tetapi juga belajar memahami banyak karakter dan budaya,” ujar Cesar dalam keterangannya pada media ini, Selasa (26/5/2026) lalu.

Ia mengakui, masa kuliah di UNAIR menjadi fase penting yang membentuk mental dan kedisiplinannya. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah menghadapi ujian yang dikenal dengan istilah “jedogtest”.

Menurut Cesar, pengalaman tersebut melatih ketahanan mental, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja di bawah tekanan. Bekal itu terasa relevan ketika harus bekerja di lingkungan profesional internasional yang dinamis dan penuh tantangan.

“Dari situ saya belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan mental dan kemauan untuk terus belajar,” katanya.

Di Maladewa, Cesar tidak hanya bekerja di balik meja riset. Ia juga menjadi bagian dari tim edukasi lingkungan yang mengajak wisatawan memahami pentingnya menjaga kesehatan laut dan terumbu karang. Bersama tim yang beranggotakan sekitar 15 orang, ia merancang berbagai program wisata edukatif bagi para tamu resor.

Melalui kegiatan tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan bawah laut Maladewa, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai ancaman yang mengintai ekosistem laut, mulai dari kerusakan terumbu karang hingga persoalan sampah laut.

“Melalui wisata edukasi, kami ingin membangun kesadaran bahwa laut bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang hidup yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Peran Cesar menjadi penting karena ia berada di persimpangan antara dunia sains dan industri pariwisata. Ia dituntut tidak hanya memahami ekologi laut, tetapi juga mampu menyampaikan isu konservasi secara komunikatif kepada masyarakat internasional.

Upaya tersebut sejalan dengan berbagai inisiatif konservasi yang sedang digencarkan pemerintah Maladewa bersama sejumlah lembaga pelestarian koral. Edukasi kepada wisatawan dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kesadaran menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Bagi Cesar, bagian paling menyenangkan dari pekerjaannya adalah kesempatan untuk tetap dekat dengan alam sekaligus bertemu banyak orang dari berbagai negara. Namun, lebih dari itu, ia merasa pekerjaannya memiliki makna karena dapat membawa ilmu yang dipelajarinya di kampus ke panggung global.

Ia berharap, semakin banyak generasi muda Indonesia yang berani keluar dari zona nyaman untuk mengambil peran dalam isu-isu lingkungan dan konservasi. “Ilmu selalu bisa dipelajari. Tetapi kemauan untuk terus berkembang dan beradaptasi adalah hal yang paling penting,” kata Cesar.(*)

Kontributor: Maia Ch

Editor: Abdel Rafi