Minibus Putih yang Membawa Tawa Anak-anak Disabilitas di Pakisaji

Anak-anak disabilitas di Pakisaji dijemput Pelda Eldi, pengurus Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara, Kabupaten Malang disaksikan orang tuanya dan menjadi giat harian. (foto: Indah W)

MALANG, CAKRAWARTA.com – Sebuah minibus putih melaju perlahan di ruas jalan Malang-Kepanjen, siang itu. Dari dalam kendaraan terdengar riuh suara anak-anak yang saling bersahutan. Tawa dan teriakan mereka pecah, mengalahkan bising kendaraan di jalan raya.

“Mobil baru… ye… ye… ye...”

Suara paling nyaring datang dari Lil (13), anak penyandang down syndrome yang duduk di samping sopir. Sesekali ibunya menepuk pelan lengannya, meminta ia tenang. Namun kegembiraan itu sulit dibendung. Lil terus berseru sambil menatap ke luar jendela dengan mata berbinar.

Di bangku belakang, Evan Dimas (12), penyandang cerebral palsy, tampak tak kalah bahagia. Bersandar di pundak ibunya, ia menggerakkan tangan dan kaki sebisanya mengikuti keramaian di dalam mobil. Bibirnya terbuka seperti hendak ikut berteriak, meski suara yang keluar hanya lirih. Wajahnya mengembang oleh senyum yang sulit disembunyikan.

Anak-anak lain ikut bersorak. Larangan kecil dari para orangtua tak banyak berarti. Siang itu, kebahagiaan mereka seperti menemukan ruangnya sendiri.

“Saya biarkan mereka berteriak sepanjang jalan. Saya bilang kepada para orangtua, biarkan mereka menikmati rasa bahagia karena punya mobil baru,” kata Pembantu Letnan Dua (Pelda) Edi Sumaryanto, pengemudi sekaligus pengurus Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara, Selasa (26/5/2026).

Minibus putih itu merupakan kendaraan operasional terbaru milik Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara yang berpusat di Aula Koramil 0818/07 Pakisaji, Kabupaten Malang. Bagi sebagian orang, kendaraan itu mungkin sekadar alat transportasi. Namun bagi anak-anak disabilitas di yayasan tersebut, mobil itu adalah jalan menuju ruang belajar, pertemanan, dan rasa percaya diri.

Yayasan tersebut memiliki sekitar 210 anggota dengan sekitar 80 anggota aktif yang rutin mengikuti kegiatan tiga kali dalam sepekan. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung, mengikuti pelajaran agama bersama pengajar dari Kementerian Agama, hingga berlatih keterampilan, menari, dan olahraga.

Sebagian anggota berasal dari wilayah yang cukup jauh dari Pakisaji, seperti Kepanjen, Wajak, dan Ngajum. Karena itu, kendaraan antar jemput menjadi kebutuhan penting agar mereka tetap bisa mengikuti kegiatan secara rutin.

Tambahan kendaraan baru itu kini melayani rute Pakisaji-Glanggang-Karangpandan-Kepanjen dengan jarak sekitar delapan kilometer.

“Alhamdulillah, akhirnya yayasan memiliki tambahan mobil operasional. Ini sangat berarti karena semangat teman-teman disabilitas untuk belajar sangat tinggi,” ujar Pelda Edi.

Sebelumnya, untuk melayani rute tersebut, yayasan harus meminjam mobil dinas Danramil Pakisaji. Adapun dua kendaraan lainnya melayani rute Pakisaji-Wajak yang berjarak sekitar 19 kilometer dan sejumlah titik penjemputan lain di sekitar Pakisaji.

Menurut Edi, menghadirkan kendaraan tambahan bukan perkara mudah. Yayasan telah lama menabung, tetapi dana yang terkumpul tak kunjung cukup untuk membeli kendaraan yang layak.

“Kami pernah menemukan mobil yang sesuai anggaran, tetapi kondisinya sudah tua dan pasti membutuhkan biaya perbaikan besar,” katanya.

Kekurangan dana itu akhirnya ditutup oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kartika Mutiara, Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A. Dukungan tersebut memungkinkan yayasan membeli minibus keluaran tahun 2016 yang kini menjadi kendaraan operasional baru mereka.

Kedekatan Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, MA dengan anak-anak disabilitas Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara, Kabupaten Malang. (foto: Indah W)

Ini bukan bantuan pertama. Sebelumnya, Farid juga membantu pengadaan sebuah mobil Avanza hijau untuk layanan antar jemput rute Pakisaji-Wajak.

Bagi pengurus yayasan, perhatian itu bukan hanya soal kendaraan. Selama ini, Farid juga disebut rutin membantu kebutuhan lain, mulai dari sembako, honor pengajar, kursi kegiatan, hingga seragam pengurus.

“Kami sangat bersyukur atas ketulusan beliau (Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A.),” kata Pelda Edi.

Dihubungi terpisah, Farid mengatakan bahwa perhatian terhadap penyandang disabilitas merupakan tanggung jawab bersama. Menurut dia, penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan dukungan agar tetap memiliki kesempatan hidup yang layak dan mandiri.

“Kaum disabilitas bukan untuk dikasihani, tetapi harus didukung agar tetap mampu berkarya dan menjalani hidup dengan layak,” ujarnya.

Ia berharap Yayasan Kartika Mutiara dapat terus menjadi ruang yang menghadirkan semangat dan harapan bagi para anggotanya.

“Membantu sesama bukan soal seberapa besar yang diberikan, tetapi tentang ketulusan untuk meringankan beban orang lain,” kata Farid.

Perhatian terhadap yayasan juga datang dari Danramil Pakisaji, Kapten Arh. Feri Hariyanto. Sejak menjabat tahun lalu, Feri disebut aktif membantu berbagai kebutuhan anggota yayasan, mulai dari perlengkapan sederhana hingga meminjamkan kendaraan dinas untuk operasional antarjemput.

Tak hanya itu, istri Danramil juga ikut terlibat sebagai pengajar bagi anak-anak disabilitas di yayasan tersebut.

Kini, minibus putih itu kembali hilir mudik mengantar para anggota yayasan menuju tempat belajar mereka. Anak-anak itu rela berdesakan di dalam kendaraan, asalkan tetap bisa berkumpul dan belajar bersama.

Dan setiap kali mobil itu melintas, teriakan yang sama kembali terdengar riang dari dalam kabin.

“Mobil baru… ye… ye… ye….” (*)

 

Kontributor: Indah W.

Editor: Abdel Rafi