
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), dinamika internal organisasi kian menghangat. Di balik mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang selama ini dikenal sebagai forum musyawarah ulama, muncul indikasi perebutan pengaruh yang memantik kritik dari kalangan internal.
Tokoh senior NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman atau yang akrab disapa Cak Dar, menilai fenomena ini sebagai sesuatu yang tidak lazim dalam tradisi NU.
“Ini bukan tradisi kita. NU sejak dulu dikenal dengan keteduhan, bukan perebutan seperti ini,” ujar Cak Dar, Kamis (30/4/2026).
Ia mengungkapkan, menjelang muktamar, setidaknya terdapat tiga poros besar yang mulai bergerak aktif untuk memengaruhi komposisi AHWA, lembaga yang memiliki kewenangan menentukan Rais Aam Syuriyah.
Poros pertama yang ia sebut sebagai “Kramat Raya” dikaitkan dengan Rais Aam petahana KH Miftahul Achyar. Dalam poros ini, disebut ada peran Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang aktif melakukan konsolidasi ke tingkat wilayah dan cabang guna mengamankan dukungan.
Poros kedua adalah “Raden Saleh” yang terhubung dengan KH Ma’ruf Amin. Menurut Cak Dar, jaringan yang dimiliki tokoh tersebut juga bergerak melakukan sosialisasi untuk memperkuat posisi dalam kontestasi.
Sementara itu, poros ketiga adalah “Ciganjur” yang mengarah pada nama KH Said Aqil Siroj. Ia menyebut, dukungan terhadap Said Aqil banyak datang dari kalangan NU kultural serta sejumlah pengurus wilayah dan cabang, meski yang bersangkutan belum melakukan langkah aktif.
Namun demikian, Cak Dar yang merupakan Ketua PW IPNU Jatim periode 1988-1992 itu menegaskan bahwa persoalan utama bukan semata pada munculnya tiga poros tersebut, melainkan pada cara kontestasi dijalankan.
Menurut dia, mekanisme AHWA yang semestinya diisi oleh para ulama dengan pertimbangan keilmuan dan kebijaksanaan, kini mulai bergeser menjadi arena perebutan pengaruh.
“Yang terjadi sekarang, masing-masing berupaya memasukkan sebanyak mungkin anggota AHWA yang berpihak kepada mereka. Ini yang membuat saya prihatin,” ujarnya.
Ia menilai, pergeseran tersebut berpotensi mengaburkan esensi pemilihan Rais Aam yang selama ini dijaga sebagai proses berbasis otoritas keulamaan, bukan kekuatan politik atau jaringan.
“Kalau pola seperti ini dibiarkan, kita khawatir marwah NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah bisa tergerus,” kata dia.
Lebih jauh, ia juga melihat dampak dari dinamika ini terhadap pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah. Dukungan dari wilayah dan cabang, menurut dia, kini semakin terkait dengan kepentingan untuk mengamankan posisi dalam AHWA.
Cak Dar berharap seluruh elemen NU dapat mengembalikan proses muktamar pada nilai-nilai dasar organisasi yang menjunjung tinggi adab, kebijaksanaan, dan keteladanan ulama.
“NU ini besar karena tradisinya yang santun dan penuh hikmah. Jangan sampai muktamar justru menjauh dari nilai-nilai itu,” ujar pria yang juga Waketum DPP Barikade Gus Dur itu mengakhiri keterangannya.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








