Aib Kekuasaan di Mata Amba

(foto: foto diambil dari ruang ReO Bibliothek Kokima Hill, Malalayang, Manado. #unprofessional photographer)

“Ketika kekuasaan dan gaji luar biasa diberikan kepada seseorang di pemerintahan, ia menjadi pusat di mana segala jenis korupsi muncul dan terbentuk.” — Thomas Paine (1737-1809), The Rights of Man (1791; Terjemahan YOI 2000)

Sejarah kekuasaan di Indonesia, dari Orde Lama, Orde Baru, Reformasi hingga pasca Reformasi, adalah sejarah yang penuh aib, meskipun penuh juga tabur bunga di taman makam pahlawan.

Setiap fase kekuasaan, sejak masa kuno hingga era digital, terus meninggalkan noda yang menjadi bagian dari catatan sejarah kebudayaan bangsa.

Aib (infamy) itu bukan hanya berupa represi politik, melainkan juga korupsi yang terus berulang dan perilaku ojo dumeh, seakan menjadi warisan yang tak pernah putus.

Bersama sebuah fiksi mari sedikit menerawang ke imajinasi tokoh Amba.

Novel fiksi sejarah dengan judul nama protagonis, Amba yang pertama kali terbit pada September 2012 dan hingga kini telah mengalami beberapa kali cetak ulang, termasuk edisi revisi pada 2014 serta cetakan ketujuh pada Januari 2018,  dari Laksmi Pamuntjak (54), berkisah tragedi politik 1965 dan penahanan di Pulau Buru menjadi latar yang menyingkap luka kolektif bangsa.

Amba Kinanthi, putri seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah, memilih jalan berbeda dari harapan keluarganya.

Pada usia delapan belas tahun, ia berangkat ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, meski orang tuanya ingin segera menikahkannya.

Di kampus itulah ia bertemu Bhisma Rasyid, seorang dokter yang baru kembali dari Leipzig, Jerman Timur.

Pertemuan itu berkembang menjadi cinta yang intens, namun sejarah kelam bangsa merenggut kebahagiaan mereka.

Bhisma ditangkap setelah peristiwa G30S 1965 dan dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik, meninggalkan Amba dengan luka yang tak pernah sembuh.

Empat dekade kemudian, pada tahun 2006, Amba menjejakkan kaki di Pulau Buru, mencari jejak Bhisma, ayah dari anak yang ia lahirkan di luar nikah.

Namun Bhisma tak pernah kembali, meski kamp tahanan sudah lama dibubarkan. Pulau itu tetap menjadi simbol luka kolektif bangsa.

Kisah cinta Amba dan Bhisma yang terputus oleh represi negara adalah metafora tentang bagaimana kekuasaan otoriter merenggut kehidupan pribadi.

Laksmi menulis, “Pulau Buru adalah luka yang tak pernah sembuh, tempat orang-orang dikirim untuk dilupakan.”

Kalimat itu menegaskan bahwa negara menggunakan isolasi sebagai alat kontrol, melanjutkan represi dari Orde Lama hingga mengakar dalam Orde Baru.

Di balik kisah cinta, terselip kritik terhadap korupsi struktural yang merajalela, ketika pejabat memperkaya diri di tengah penderitaan rakyat.

“Negara yang sibuk menjarah, sementara rakyatnya sibuk bertahan hidup,” tulis Laksmi, menyoroti bagaimana korupsi menjadi bagian dari sistem otoritarianisme.

Sementara itu, karya non fiksi Daniel Dhakidae (1945-2021), intelektual periset di LP3ES, media Kompas dan alumni universitas Cornell, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003), membongkar relasi intelektual dengan kekuasaan.

Dhakidae, yang lahir di Ngada, Flores dan wafat di Jakarta, menegaskan bahwa militerisme Orde Baru bukan sekadar alat pertahanan, melainkan ideologi yang menembus kehidupan politik dan sosial.

Ia menyoroti praktik DOM di Aceh dan operasi militer terhadap OPM di Papua sebagai simbol bagaimana kekuasaan menggunakan kekerasan untuk membungkam perlawanan.

“Militer bukan hanya aparat keamanan, tetapi mitos yang dijadikan dasar legitimasi kekuasaan,” tulisnya.

Kritiknya juga menyingkap pembungkaman gerakan civil society, aktivis LSM, dan mahasiswa, yang dianggap ancaman terhadap stabilitas politik.

Kedua karya ini, fiksi dan nonfiksi, saling melengkapi dalam menyingkap wajah aib kekuasaan.

Amba mengingatkan bahwa represi politik merenggut secara tragis cinta dan masa depan sepasang manusia, Amba dan Bhisma.

Sementara, karya non fiksi, Cendekiawan dan Kekuasaan, menunjukkan bagaimana intelektual dan militer berkolaborasi dalam membangun legitimasi otoritarianisme.

Keduanya menegaskan bahwa korupsi bukan sekadar perilaku menyimpang, melainkan sistemik, melekat dalam struktur kekuasaan, dan terus berlanjut hingga hari ini.

Sejarah catur Orde di Indonesia memperlihatkan pola yang sama yakni kekuasaan yang dibangun atas dasar penyeragaman dan kontrol selalu melahirkan birokrasi yang sibuk memperkaya diri.

Reformasi memang membuka ruang demokrasi, tetapi warisan korupsi dan represi tetap membayangi.

Novel Laksmi dan buku Dhakidae menjadi pengingat bahwa aib kekuasaan tidak pernah hilang, melainkan terus berulang, repetisi dan reperkusi dalam bentuk baru.

Dengan demikian, membaca Amba serta Cendekiawan dan Kekuasaan adalah membaca sejarah aib bangsa dari dua versi yaitu fiksi dan fakta.

Ujungnya, dengan tafsir aktual kedua kategori menurut Kantian, ditulisan atau catatan ini hendak meluruskan dan menguak tabir sejarah aib kekuasaan (power of infamy) selama empat orde.

Keduanya mengajarkan bahwa perjuangan melawan lupa -istilah Kundera- bukan sekadar mengenang kepahitan dan kejahatan masa lalu, melainkan juga menjaga agar otoritarianisme dan korupsi sistemik serta kezaliman kekuasaan lainnya tidak kembali menguasai masa depan.

“Umwertung aller Werte,” tulis Nietzsche di halaman akhir, Der Antichrist.(*)

#coverlagu: “Citra Hitam” adalah salah satu lagu Chrisye (1949-2007) dari album Sabda Alam (1978) yang pada 2023 dirilis kembali dalam versi remastered oleh Musica Studios. Lagu ini menyoroti kegelapan batin manusia, hilangnya cinta, dan krisis moral, sehingga maknanya tetap relevan sebagai refleksi sosial hingga kini.

REINER EMYOT OINTOE 

Fiksiwan