Alumni UNAIR Perkuat Jejaring Bisnis, Dicky Fanani Dorong ABC Jadi “Hub” Nasional dan Ekosistem Wirausaha

Dicky Fanani (tengah, baju biru) berfoto bersama para pengusaha alumni UNAIR lainnya seusai terpilih sebagai Ketua Airlangga Business Community periode 2026-2030. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Jejaring pengusaha alumni Universitas Airlangga (UNAIR) kian dipertegas arah barunya. Dalam pertemuan yang digelar di Lantai 4 Plaza Airlangga, Kampus C-MERR Unair, Jumat (24/4/2026) siang, kepengurusan komunitas Airlangga Business Community (ABC) resmi berganti. Dicky Fanani, alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR, didapuk sebagai ketua, menggantikan pengusaha senior Yunus Enus yang telah mengomandani ABC selama satu periode lamanya.

Dalam forum tersebut, Dicky menekankan pentingnya konsolidasi dan orkestrasi sumber daya besar yang dimiliki UNAIR, khususnya dari kalangan alumni pelaku usaha. Menurut dia, kekuatan utama komunitas bisnis terletak pada jejaring (networking) yang solid dan terarah.

“ABC ini harus diposisikan jelas di tengah banyaknya komunitas pebisnis. Kita punya keunggulan sebagai hub alumni UNAIR. Tinggal bagaimana semua resources yang besar ini diorkestrasi dengan baik,” ujar Dicky.

Ia juga menggagas pembentukan chapter ABC di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas jangkauan sekaligus memperkuat kolaborasi antar alumni di daerah.

Menurut Dicky, penguatan jejaring tersebut sejalan dengan target UNAIR dalam meningkatkan posisi di tingkat global, termasuk dalam indikator Sustainable Development Goals (SDGs). “Kalau alumni bergerak bersama dan berdampak, positioning UNAIR juga akan ikut terangkat baik di tingkat nasional maupun level dunia,” katanya.

Selain ekspansi organisasi, Dicky menekankan pentingnya pembentukan kepengurusan yang solid dan agenda pertemuan rutin. Ia mengusulkan pertemuan reguler setiap tiga bulan sekali yang dikemas dengan kunjungan ke bisnis anggota dan semacam silatnas tiap tahun yang menjadi ajang pertemuan antar alumni pebisnis untuk bertemu, berjejaring dan saling support antar bisnis yang ada.

“Dengan sering bertemu, rasa bangga sebagai alumni akan tumbuh. Dari situ, networking akan terbentuk secara natural, dan dampak yang kita harapkan bisa terwujud,” ujarnya.

Sejumlah peserta turut menyuarakan pentingnya penguatan identitas dan eksistensi komunitas. Awan, salah satu anggota, menilai identitas visual sederhana seperti penanda nama atau atribut komunitas dapat memperkuat citra ABC di ruang publik.

Sementara itu, Myrna mengusulkan kegiatan “ABC Meetup” sebagai ruang interaksi rutin yang terbuka dan menarik bagi alumni baru. “Orang datang, melihat komunitasnya hidup, lalu tertarik untuk bergabung. Dari situ komunitas bisa tumbuh lebih besar dan solid,” katanya.

Penguatan peran ABC juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Prof Dr. Gancar Premananto menilai komunitas ini dapat menjadi bagian dari ekosistem kewirausahaan UNAIR yang lebih luas.

“UNAIR menyiapkan mahasiswa dengan pendekatan kewirausahaan yang holistik. ABC bisa menjadi ekosistem lanjutan bagi mahasiswa dan alumni. Bahkan ke depan, komunitas ini bisa mandiri dan menghidupi dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyinggung adanya komunitas serupa di universitas lain sebagai pembanding, sehingga ABC didorong untuk terus berkembang dan memiliki keunikan tersendiri.

Dalam pertemuan tersebut, peserta sepakat bahwa penguatan internal menjadi langkah awal yang krusial. Selain itu, peningkatan publikasi dinilai penting agar eksistensi dan kontribusi ABC semakin dikenal luas oleh alumni UNAIR.

Dengan kepengurusan baru dan visi yang diperbarui, ABC diharapkan mampu menjadi wadah strategis bagi alumni UNAIR yang bergerak di bidang bisnis, sekaligus berkontribusi nyata bagi penguatan reputasi almamater di tingkat nasional dan global.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi