Hari Bumi 2026, PWNU Jatim Ajak Warga NU Rawat Bumi dan Perkuat Etika Lingkungan

Siti Hairimah, warga NU di Desa Mandung, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan tengah merawat tanaman di depan rumahnya yang nampak asri. (foto: Abdul Hakim/Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Peringatan Hari Bumi sedunia 2026 dimaknai sebagai momentum untuk meneguhkan kembali kesadaran ekologis dalam bingkai ajaran Islam. Kelompok Kerja (Pokja) Perhutanan Sosial Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan upaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah.

Seruan itu disampaikan berkaitan dengan peringatan Hari Bumi yang jatuh setiap 22 April, dengan menekankan pentingnya pendekatan fiqh al-bi’ah atau fikih lingkungan sebagai landasan teologis dalam merawat alam.

Sekretaris Pokja Perhutanan Sosial PWNU Jawa Timur, Widy Taurus, mengatakan bahwa kesadaran ekologis perlu diperkuat sebagai tanggung jawab keagamaan sekaligus peradaban. “Menjaga lingkungan bukan semata kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari iman. Ini adalah bentuk pengabdian manusia sebagai khalifah di bumi,” ujarnya.

Ia mengingatkan, bumi saat ini menghadapi tekanan serius, mulai dari deforestasi, krisis iklim, hingga kerusakan ekosistem hutan. Dalam situasi tersebut, hutan memegang peran penting sebagai penyangga kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat.

“Hutan adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bijaksana,” katanya.

Mengutip Al Quran Surat Ar-Rum ayat 41, Widy menegaskan bahwa kerusakan lingkungan merupakan akibat dari ulah manusia yang abai terhadap tanggung jawabnya. Islam, menurut dia, telah memberikan tuntunan yang jelas tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ia juga merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa menanam pohon atau menebar benih yang memberi manfaat bagi makhluk lain akan bernilai sedekah. “Menanam dan merawat tumbuhan, termasuk menjaga hutan, adalah amal kebajikan yang bernilai ibadah,” ucapnya.

Gerakan Nyata dan Kolaborasi

Sejalan dengan visi Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua, yakni “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, Pokja Perhutanan Sosial PWNU Jawa Timur menilai pengelolaan hutan berbasis masyarakat melalui skema perhutanan sosial sebagai langkah strategis untuk menghadirkan keadilan ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Melalui momentum Hari Bumi, Pokja menyampaikan sejumlah seruan. Pertama, memperkuat kesadaran ekologis sebagai bagian dari nilai keislaman. Kedua, mendorong keterlibatan aktif warga NU dalam program perhutanan sosial. Ketiga, melakukan aksi nyata seperti penanaman pohon, rehabilitasi lahan kritis, dan pelestarian sumber mata air.

Sekretaris Pokja Perhutanan Sosial PWNU Jawa Timur, Widy Taurus. (foto: Cakrawarta)

Selain itu, warga juga diimbau menghindari praktik eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan serta memperkuat kolaborasi antara pesantren, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. “Menjaga bumi adalah bagian dari jihad peradaban untuk memastikan keberlanjutan hidup generasi mendatang,” kata Widy.

Dalam upaya konkret, Pokja Perhutanan Sosial PWNU Jawa Timur mengusung enam agenda aksi kehutanan (forest action). Agenda tersebut meliputi perluasan lahan hutan melalui skema perhutanan sosial, peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan hasil hutan kayu dan non-kayu, serta hilirisasi produk hutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Selain itu, terdapat upaya penguatan konservasi berbasis prinsip keberlanjutan, pengembangan kelembagaan pengelola hutan yang kolaboratif, serta penguatan kohesi sosial masyarakat di sekitar kawasan hutan.  “Kohesi sosial menjadi kunci agar masyarakat sekitar hutan dapat tumbuh secara harmonis, produktif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Widy berharap, langkah-langkah yang dilakukan saat ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menjadi warisan kebaikan bagi generasi mendatang. “Alam terjaga, umat sejahtera, dan peradaban yang mulia dapat terwujud,” katanya.(*)

 

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi