Trump Tidak Paham Strategi Besar Amerika, Iran vs Israel Kacau

Saya menulis opini ini setelah mengikuti majelis taklim di Masjid Baiturrahman, Jakarta. Dalam suasana refleksi spiritual mengenai keadilan dan perdamaian, pikiran saya tak bisa lepas dari kekacauan yang berlangsung ribuan kilometer jauhnya di Timur Tengah, tempat dua negara, Iran dan Israel, kini terjerumus dalam konflik yang kian sulit dikendalikan. Di balik semua itu, saya melihat satu akar persoalan yang sederhana namun berdampak besar: Amerika Serikat, di bawah Donald Trump, kehilangan arah strategisnya.

Ketika Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat muncul sebagai satu-satunya kekuatan adidaya. Selama beberapa dekade, doktrin containment menjadi kompas strategis yang relatif konsisten. Namun sejak era Donald Trump, kompas tersebut seakan retak. Yang tersisa adalah kekuatan militer raksasa yang bergerak tanpa arah yang jelas. Akibatnya, konflik Iran dan Israel yang semestinya dapat dikelola justru semakin tidak terkendali.

Kritik Tim Kaine bahwa Amerika kehilangan grand strategy pasca Perang Dingin bukan sekadar retorika politik. Saya menyaksikan secara langsung, sebagai mantan penasihat militer dalam misi PBB, bagaimana keputusan-keputusan ad hoc dari Washington membuat sekutu kebingungan, lawan menjadi lebih berani, dan stabilitas kawasan perlahan tergerus.

Yang membedakan Trump dari para pendahulunya bukanlah kerasnya ancaman militer. Presiden sebelumnya juga menggunakan tekanan serupa. Perbedaannya terletak pada ketiadaan kerangka berpikir jangka panjang. Trump memperlakukan setiap krisis, baik soal nuklir Iran, serangan ke pangkalan AS, maupun ketegangan di Selat Hormuz, sebagai transaksi yang bisa dinegosiasikan secara instan di menit-menit terakhir.

Dalam konteks konflik Iran-Israel, dampaknya menjadi sangat serius. Iran tidak lagi membaca ancaman Amerika sebagai bagian dari logika strategis yang dapat diprediksi. Mereka justru melihat celah yaitu kapan Amerika akan mundur, kapan akan bertindak, semuanya tampak bergantung pada suasana politik di Washington. Di sisi lain, Israel pun menghadapi ketidakpastian. Apakah Amerika akan memberikan dukungan penuh, atau justru mengorbankan kepentingan mereka demi kesepakatan jangka pendek.

Pernyataan ini mungkin terdengar tidak lazim dari seorang mantan perwira militer. Namun pengalaman di PBB mengajarkan satu hal penting bahwa rudal, kapal induk, dan jet tempur tidak pernah cukup tanpa strategi besar yang menyatukan tujuan diplomatik, ekonomi, dan militer secara utuh.

Ketika Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir (JCPOA) tanpa menyiapkan alternatif yang matang, atau ketika ancaman pemboman disampaikan pada pagi hari lalu diikuti pendekatan negosiasi pada sore hari, itu merupakan tanda klasik sebuah negara dengan kekuatan besar tetapi kehilangan kejernihan strategi.

Iran memahami celah tersebut. Mereka bermain dengan kesabaran. Mereka tidak perlu mengalahkan Amerika secara militer. Cukup dengan bertahan, sesekali menutup dan membuka jalur strategis seperti selat, sambil menunggu perubahan kebijakan Washington akibat tekanan domestik. Ini bukan kemenangan militer, melainkan eksploitasi atas kebingungan strategis lawan.

Apa yang terjadi di Timur Tengah bukanlah peristiwa yang jauh dari kepentingan kita. Ketika negara adidaya kehilangan arah, dampaknya merambat ke harga energi, stabilitas global, hingga arus pengungsi. Bagi Indonesia, yang pernah duduk di Dewan Keamanan PBB, situasi ini tidak bisa disikapi dengan sikap pasif.

Indonesia perlu terus menyuarakan pentingnya tata kelola global yang berbasis aturan, bukan berdasarkan impuls sesaat seorang pemimpin. Lebih dari itu, kita juga harus belajar bahwa kekuatan militer tanpa strategi besar hanya akan menjadi kebisingan mahal yang pada akhirnya merugikan semua pihak.

Trump tidak memahami strategi besar Amerika. Itu bukan lagi sekadar dugaan, melainkan kesimpulan dari berbagai fakta di lapangan. Kekacauan Iran dan Israel bukan semata karena keduanya tak dapat berdamai, melainkan karena “polisi dunia” kehilangan arah dan justru turut memperkeruh keadaan. Bagi saya yang pernah berada di wilayah konflik, ini bukan sekadar kegagalan kebijakan, tetapi sebuah kelalaian strategis yang berdampak pada nyawa dan masa depan banyak orang.

Sudah saatnya Amerika, dan juga dunia, kembali mengingat makna grand strategy yaitu bukan sekadar siapa yang memiliki kekuatan terbesar, melainkan siapa yang memiliki kejernihan visi untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Semoga. (*)

Kalisari, 19 April 2026

MAYOR JENDERAL TNI (PURN) FULAD
Penasihat Militer RI untuk PBB tahun 2017-2019