Dibanjiri Ribuan Jamaah, Ustadz Abdul Somad, Habib Anies Hingga Luqmanul Hakim Bedah Rahasia “Guyub Bareng” di Al-Akbar Surabaya

Da’i kondang nasional Ustadz Abdul Somad saat tampil di Masjid Al Akbar Surabaya, Sabtu (18/4/2026) malam dan tampil bersama beberapa da’i kondang nasional lainnya mengenai tema Guyub Rukun Guyub Bareng yang dihadiri ribuan jamaah. (foto: Abdel Rafi/Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu (18/4/2026) malam. Ribuan jamaah dari berbagai daerah tumpah ruah menghadiri gelaran “Guyub Bareng, Baik Bareng,” sebuah inisiasi dakwah kolaboratif yang menghadirkan deretan da’i nasional papan atas.

Acara ini menghadirkan magnet utama da’i nasional, Ustadz Abdul Somad, bersama Habib Muhammad bin Anies Shihab asal Malanv dan Ustadz Luqmanul Hakim dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Analogi Fondasi dari Ustadz Abdul Somad

Dalam tausiyahnya, Ustadz Abdul Somad memberikan perumpamaan mendalam mengenai makna “Guyub Bareng” melalui arsitektur masjid. Menurut da’i yang akrab disapa UAS itu, keindahan visual sebuah bangunan seringkali menipu mata hingga melupakan esensi yang paling krusial.

“Keindahan Masjid Al-Akbar terlihat dari luar lewat kubahnya. Setelah masuk ke dalam, kubah tidak ada apa-apanya tanpa tiang. Namun sejatinya, yang menopang keindahan itu semua adalah fondasinya. Itulah hakikat guyub bareng,” ujar UAS di hadapan ribuan jamaah.

UAS juga menekankan pentingnya proses spiritual dalam setiap amal perbuatan yang terangkum dalam tiga tahapan besar.

“Proses beramal itu dimulai dari Usaha, lalu Doa, dan puncaknya adalah Tawakkal. Namun, level tertinggi yang harus dicapai setiap Muslim adalah Ridho terhadap ketetapan Allah,” tegasnya.

Pesan Kemanusiaan Habib Muhammad bin Anies

Sementara itu, Habib Muhammad bin Anies Shihab menyoroti pentingnya menjaga hubungan antarmanusia dengan hati yang luas. Ia mengutip hadits populer mengenai cara menolong saudara, baik yang dizalimi maupun yang menzalimi.

“Guyub bareng artinya berbuat baiklah sekalipun pada orang yang berbuat salah atau mendzalimi dirimu,” tutur Habib Muhammad.

Ia menekankan bahwa menolong orang yang zalim adalah dengan cara mencegahnya melakukan keburukan lebih lanjut.

Gaya Segar Ustadz Luqmanul Hakim

Suasana sempat mencair saat Ustadz Luqmanul Hakim memberikan tausiyah dengan gaya khasnya yang penuh singkatan komunikatif. Beliau memperkenalkan istilah “ATM” atau Allah Tempat Meminta dan TMBA alias “Terlalu Mudah Bagi Allah” untuk menguatkan tauhid jamaah.

Flyer resmi acara yang diselenggarakan oleh Better Youth bekerjasama dengan Masjid Al Akbar Surabaya. (foto: Istimewa)

Tak hanya soal ketuhanan, pendiri Masjid Kapal Munzalan ini juga menyentil soal urusan jodoh bagi anak muda dengan kriteria CSM (Cantik, Sholehah, Mau) dan GSM (Ganteng, Sholeh, Mau).

Namun, pesan intinya tetap tajam bahwa jama’ah jangan sampai salah menggantungkan harapan.

“Banyak orang kecewa karena salah tempat berharap. Sekali Anda berharap pada manusia apakah itu suami, istri, ayah, atau teman, pasti akan kecewa,” pesannya yang ditutup dengan pantun sebagai berikut:

Anak raja menanam akasia
Akasia ditanam di rawa-rawa
Hati-hati berharap pada manusia
Berharap pada manusia pasti kecewa

Keberhasilan acara ini tidak lepas dari tangan dingin Aditya Abdurrahman dan Zayyin Achmad dari Better Youth. Sebagai penyelenggara sekaligus representasi da’i lokal Jawa Timur, mereka berharap momentum “Guyub Bareng” ini menjadi titik balik bagi anak muda Surabaya untuk lebih dekat dengan nilai-nilai religiusitas yang inklusif.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di sekitar Masjid Al-Akbar Surabaya masih terpantau padat namun tertib, menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat Jawa Timur terhadap syiar Islam yang menyejukkan. Acara ditutup dengan do’a oleh KH. M. Sudjak selaku Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dan pengumuman hadiah umroh dari Mahiyyah Tour and Travel untuk peserta acara.(*)

Kontributor: Abdel Rafi 

Editor: Umar Faruq