
BANYUWANGI, CAKRAWARTA.com – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Banyuwangi Kota menggelar haul muharrik (tokoh penggerak) NU, Minggu (5/4/2026), di Pesantren At-Taufiq, Kelurahan Sumberejo. Kegiatan yang dirangkai dengan halal bihalal ini menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan para sesepuh.
Ketua MWCNU Banyuwangi Kota, Barur Rohim, mengatakan, generasi NU hari ini perlu meneladani keteguhan para pendahulu dalam membangun organisasi di tengah keterbatasan.
“Kami berupaya menghadirkan kembali spirit para pendahulu yang menjadi aktor penting dalam menggerakkan NU di Banyuwangi, agar menjadi teladan dan penyemangat bagi generasi sekarang,” ujar Barur, Senin (6/4/2026).
Salah satu tokoh yang diangkat dalam haul tersebut adalah KH Abdullah Syafi’i, atau akrab disapa Mbah Dollah. Ulama yang hidup pada era kolonial hingga Orde Baru itu dikenal sebagai penggerak NU di wilayah Sumberejo dan sekitarnya.
Mbah Dollah pernah menimba ilmu di Pesantren Tremas dan belajar langsung kepada KH Dimyati Abdullah, adik dari Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, ulama Nusantara yang masyhur di Mekkah. Sepulang dari pesantren, ia menetap di Pakis Sawi, Sumberejo, dan mengabdikan diri dengan mendirikan pesantren serta madrasah, sekaligus aktif di struktur NU dari tingkat ranting hingga cabang.
“Bayangkan, dalam situasi serba terbatas pada zamannya, beliau mampu membangun lembaga pendidikan dan menggerakkan masyarakat. Kita yang hidup di era lebih maju seharusnya bisa berbuat lebih,” kata Barur.
Menurut dia, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kemampuan untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut secara konsisten.
Mengutip pemikiran Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia, Renald Kasali, Barur menjelaskan bahwa kesuksesan dipengaruhi oleh dua hal, yakni brain memory (ingatan pengetahuan) dan muscle memory (ingatan praktik).
“Pengetahuan saja tidak cukup. Harus dilatih dalam tindakan nyata. Para pendahulu kita telah memberi contoh itu,” ujarnya.
Untuk memperkuat gerakan organisasi, MWCNU Banyuwangi Kota mendorong berbagai program, antara lain penguatan kegiatan sosial melalui Lazisnu, pengaktifan badan otonom, serta rencana pengadaan lahan dan pembangunan kantor.
“Ini bagian dari ikhtiar membangun kebiasaan bertindak, agar gerakan NU semakin maju dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” kata Barur.(*)
Editor: Abdel Rafi



