Wednesday, March 25, 2026
spot_img
HomeInternasionalMembaca Ringkas Zionis, Yahudi dan Israel Dalam Enam Kitab

Membaca Ringkas Zionis, Yahudi dan Israel Dalam Enam Kitab

(foto: diunggah dari kanal Youtube The Entire History of the Jews Jewish History Documentary @secretoriginsofficial; The birth of Israel and the death of Zionism…@MiddleEastEye; The ENTIRE History of Israel (Documentary) @TheEntireHistoryDocumentaries)

“Yang mereka bawa hanyalah ide-ide mereka, yang pada akhirnya menaklukkan dunia tanpa menjadikan mereka penguasa.” — Max Isaac Dimont (1912-1992), Jews, God and History (1962)

Membicarakan arti dan perbedaan antara Zionism, Yahudi, dan Israel menuntut kita untuk menelusuri sejarah panjang, ideologi, dan narasi yang dibangun dari berbagai sudut pandang yang kompleks.

Pertama, Gabriel Piterberg (70), sebagai sejarawan spesialis Timur Tengah, Israel/Palestina, dan kolonialisme pemukim, dalam The Returns of Zionism (2008) menegaskan bahwa Zionisme bukanlah fenomena unik, melainkan bagian dari tradisi kolonialisme Barat.

Ia menunjukkan bahwa Zionisme berakar pada nasionalisme Eropa Timur dan Tengah, serta gerakan pemukim kolonial, sehingga teks-teks Zionis harus dibaca dalam kerangka kolonisasi global.

Dengan demikian, Zionisme lebih menyerupai proyek kolonial yang mereproduksi pola penguasaan tanah dan marginalisasi penduduk asli Palestina, meskipun ia diklaim sebagai gerakan pembebasan nasional.

Kedua, Roger Garaudy (1913-2012), seorang filsuf, politisi, dan penulis Prancis keturunan Yahudi yang aktif sepanjang abad ke‑20, dalam The Case of Israel: A Study of Political Zionism (1983) menguatkan kritik ini dengan nada polemis.

Ia menelusuri akar ideologi Zionisme dari Eropa abad ke‑19 dan menekankan bahwa klaim Zionisme atas tanah Palestina adalah konstruksi ideologis yang menyingkirkan penduduk lokal.

Garaudy menyoroti bagaimana dukungan internasional, terutama dari Barat, memperkuat ketidakadilan, dan bagaimana narasi Zionis mengklaim kesinambungan sejarah dari Alkitab hingga negara modern padahal lebih merupakan legitimasi politik daripada fakta sejarah.

Kritiknya membuka ruang untuk melihat Zionisme sebagai proyek kolonial modern yang menantang narasi dominan tentang Israel.

Sementara, ketiga, Henry Cadwallader Adams (1817-1799), aktif sepanjang abad ke‑19 sebagai seorang rohaniwan, pendidik, dan penulis Inggris yang dikenal luas, dalam The History of the Jews (1887) menghadirkan narasi populer tentang bangsa Yahudi, menekankan ketahanan mereka sejak kehancuran Yerusalem oleh Romawi hingga abad ke‑19.

Adams menggambarkan penderitaan, diaspora, diskriminasi, dan marginalisasi yang dialami Yahudi, sekaligus menyoroti daya juang mereka dalam mempertahankan identitas.

Karyanya menunjukkan bahwa Yahudi adalah komunitas religius dan etnis dengan sejarah panjang, yang tidak identik dengan proyek politik Zionisme maupun negara Israel modern.

Perspektif Adams membantu membedakan Yahudi sebagai identitas religius dan budaya dari Israel sebagai entitas politik.

Keempat, Max I. Dimont, menulis sejak awal 1960-an hingga akhir hayatnya, terutama dikenal sebagai sejarawan populer keturunan Yahudi yang berusaha menjelaskan sejarah Yahudi kepada khalayak luas dengan gaya naratif, dalam The Indestructible Jews (1971) melanjutkan narasi ketahanan bangsa Yahudi dengan gaya populer.

Ia menekankan bagaimana penderitaan justru memperkuat daya tahan mereka, dan bagaimana kontribusi Yahudi dalam agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan menjadikan mereka bangsa yang berpengaruh.

Dimont menempatkan pendirian negara Israel sebagai puncak perjalanan panjang bangsa Yahudi dan sebuah kebangkitan setelah berabad-abad penindasan.

Namun, narasi ini tetap menegaskan perbedaan antara Yahudi sebagai bangsa religius dan Israel sebagai negara modern yang lahir dari proyek politik.

Kelima, Simon Schama (80), aktif sebagai profesor sejarah dan sejarah seni di Columbia University serta sebagai penulis dan presenter televisi, dalam The Story of the Jews (2013) memberikan analisis kritis yang lebih mutakhir dengan menempatkan sejarah Yahudi dalam konteks global.

Ia menyoroti bahwa Yahudi adalah komunitas dengan tradisi religius dan budaya yang kaya, sementara Israel adalah entitas politik yang lahir pada abad ke‑20.

Schama menegaskan bahwa Zionisme adalah ideologi yang muncul dari konteks kolonial dan nasionalisme modern, sehingga tidak bisa disamakan dengan identitas Yahudi itu sendiri.

Terakhir, Ilan Pappé, sejarawan Israel kelahiran 7 November 1954, kini berusia 71 tahun, dalam edisi terbaru Ten Myths About Israel (Verso, 2024) menghadirkan sebuah kritik mendalam terhadap narasi resmi yang selama ini membentuk persepsi tentang Israel.

Ia membongkar sepuluh mitos besar yang kerap diulang dalam media dan politik, seperti anggapan bahwa Palestina adalah tanah kosong sebelum kedatangan Zionis.

Juga, bahwa Yahudi adalah bangsa tanpa tanah, bahwa Zionisme identik dengan Yudaisme. Zionisme bukan proyek kolonial. Orang Palestina meninggalkan tanah mereka secara sukarela pada 1948, dan bahwa perang 1967 adalah perang tanpa pilihan.

Pappé menunjukkan bahwa mitos-mitos ini berfungsi sebagai legitimasi bagi pendirian dan kebijakan negara Israel, sekaligus menutupi fakta sejarah tentang pengusiran, kolonisasi, dan konflik yang nyata terjadi.

Dalam analisisnya, Pappé menekankan bahwa Zionisme harus dipahami sebagai proyek kolonial pemukim, bukan sekadar gerakan pembebasan nasional.

Dengan membongkar mitos, ia mengajak pembaca untuk melihat sejarah Israel-Palestina secara lebih kritis dan menolak narasi tunggal yang selama ini mendominasi.

Ia menegaskan bahwa membedakan antara “Israel” sebagai proyek politik dan “Yahudi” sebagai identitas religius adalah kunci untuk memahami konflik yang masih berlangsung hingga kini.

Secara etimologis, kata Israel berasal dari bahasa Ibrani Yisra’el, yang berarti “bergumul dengan Tuhan” atau “yang berkuasa bersama Tuhan,” merujuk pada kisah Yakub dalam Kitab Kejadian.

Dalam tradisi Alkitab, Israel adalah nama yang diberikan kepada Yakub dan kemudian menjadi sebutan bagi keturunannya, yakni “anak-anak Israel.”

Dalam konteks modern, istilah ini digunakan untuk menamai negara Israel yang berdiri pada 1948.

Sementara itu, Yahudi merujuk pada identitas religius, etnis, dan budaya yang berasal dari tradisi Yudaisme.

Tidak semua Yahudi mendukung Zionisme atau identik dengan Israel.

Karena, ada komunitas Yahudi di seluruh dunia yang menolak Zionisme atas dasar teologis maupun politik.

Melalui Ten Myths About Israel, Pappé menghadirkan sebuah karya mutakhir yang mengajak pembaca untuk meninjau ulang narasi dominan.

Bahkan membuka ruang bagi perspektif alternatif yang lebih kritis, dan menegaskan bahwa memahami perbedaan antara Israel sebagai entitas politik dan Yahudi sebagai identitas religius adalah langkah penting untuk membaca ulang sejarah dan realitas konflik Israel-Palestina.

Dengan demikian, Zionis adalah tiga identitas berbeda dimana ia sebagai ideologi politik dan berasal dari bahasa Ibrani “Tziyyon” yang awalnya menunjuk pada sebuah bukit di Yerusalem.

Sementara, Yahudi sebagai identitas religius dan secara etimologi berasal dari kata Ibrani Yehudah (Judah), salah satu dari dua belas suku Israel, dan dalam perkembangannya menunjuk baik pada etnis maupun agama etnis.

Dan Israel sebagai negara modern dalam perkembangan sejarah merujuk pada bangsa keturunan Yakub, kemudian kerajaan kuno, dan akhirnya negara modern yang berdiri pada 1948.

Dengan demikian, membaca sedikit kritis dan ringkas dari keenam buku dari para penulis yang hampir semua turunan Yahudi, ini memperlihatkan bahwa memahami perbedaan antara Zionis, Yahudi, dan Israel adalah kunci untuk membaca ulang sejarah dan konflik Israel-Palestina.

Yahudi adalah komunitas religius yang telah bertahan ribuan tahun, Israel adalah negara modern yang berdiri pada 1948, dan Zionisme adalah ideologi politik yang membentuk legitimasi negara tersebut dalam kerangka kolonialisme global.

Membaurkan ketiganya tanpa membedakan hanya akan memperkuat mitos itu. Sementara, analisis yang sedikit lebih kritis akan membuka ruang bagi pemahaman yang lebih jernih dan adil.

#coversong: “Yerushalayim Shel Zahav” (Yerusalem Emas) adalah lagu klasik Yahudi ciptaan Naomi Shemer pada 1967, yang kemudian dibawakan ulang oleh The Jewish Starlight Orchestra dan dirilis pada 5 April 2014 di bawah label Olivi Music. Lagu ini melambangkan kerinduan dan cinta mendalam terhadap Yerusalem, sering disebut sebagai “lagu kedua nasional Israel.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular