Wednesday, March 25, 2026
spot_img
HomeInternasionalMembandingkan Pendiri Zionisme dan Hizbut Tahrir, Pengamat: Visi Besar Butuh Fokus Geopolitik!

Membandingkan Pendiri Zionisme dan Hizbut Tahrir, Pengamat: Visi Besar Butuh Fokus Geopolitik!

(foto: dibuat sekedar untuk ilustrasi dan dibantu oleh AI)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat, Ayik Heriansyah, menilai keberhasilan gerakan Zionism mendirikan negara Israel tidak lepas dari fokus strategi yang terpusat pada satu wilayah. Sebaliknya, upaya pendirian negara Khilafah oleh gerakan Hizbut Tahrir dinilai belum membuahkan hasil karena tidak memiliki fokus geografis yang jelas.

Dalam kajiannya, Ayik membandingkan dua tokoh penting, yakni Theodor Herzl dan Taqiyuddin an-Nabhani, yang sama-sama memiliki gagasan besar membangun negara berbasis ideologi.

“Herzl dan an-Nabhani sama-sama membangun ideologi sebagai fondasi perjuangan politik. Namun pendekatan dan strategi keduanya berbeda secara signifikan,” kata Ayik dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).

Menurut dia, Herzl yang berlatar belakang jurnalis menggagas ide negara Yahudi melalui pamflet Der Judenstaat pada 1896, yang kemudian diikuti Kongres Zionis pertama di Basel, Swiss. Gerakan tersebut berkembang hingga berhasil mendirikan negara Israel pada 1948.

Sementara itu, an-Nabhani yang merupakan ulama lulusan Al-Azhar dan mantan hakim syariah, menggagas pendirian negara Khilafah melalui pemikiran politik Islam. Ia kemudian mendirikan organisasi Hizbut Tahrir pada 1953, meski upayanya memperoleh legalitas di Yordania ditolak.

Ayik menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada fokus gerakan. Zionism, kata dia, mengarahkan seluruh sumber daya pada satu kawasan, yakni Palestina dan sekitarnya, sehingga strategi politik dan dukungan internasional dapat terpusat.

“Zionism fokus pada satu titik geografis, sehingga perhatian, energi, dan sumber daya mereka terkonsolidasi. Ini berbeda dengan Hizbut Tahrir yang menyasar banyak wilayah sekaligus,” ujarnya.

Menurut Ayik, luasnya cakupan wilayah yang menjadi target pendirian Khilafah justru membuat kekuatan gerakan terfragmentasi. Akibatnya, strategi politik menjadi tidak efektif dalam mencapai tujuan jangka panjang.

Ia menambahkan, hingga kini dimana lebih dari tujuh dekade sejak gagasan Khilafah modern digulirkan, tujuan tersebut belum terwujud, meskipun jaringan Hizbut Tahrir telah menyebar ke berbagai kawasan, termasuk Asia, Eropa, hingga Afrika.

Sebagai catatan, Ayik mengusulkan agar gerakan tersebut mempertimbangkan pendekatan yang lebih terfokus secara geografis jika ingin meningkatkan efektivitas perjuangan politiknya.

“Dalam politik, fokus wilayah menjadi kunci. Tanpa itu, energi gerakan akan terpecah dan sulit mencapai tujuan,” kata dia.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular