Sanad di Tengah Zaman Instan

Di negeri yang sekarang lebih mudah menemukan “ustaz viral” daripada tukang tambal ban, bermunculan fenomena baru yaitu pelatihan baca Al-Fatihah bersanad. Sebagian orang heran. “Lho, baca Al-Fatihah saja pakai sanad?”

Mereka mungkin terbiasa hidup di zaman serba instan mulai dari kopi instan, mi instan, bahkan kesimpulan agama pun maunya instan. Tinggal buka video pendek tiga menit, lalu merasa sudah setingkat Imam Ghazali.

Padahal, dalam tradisi Islam, ilmu itu bukan gorengan pinggir jalan yang bisa dicomot sembarang tangan. Ilmu itu diwariskan. Dijaga. Dipastikan kemurniannya. Ada jalurnya. Ada gurunya. Ada sanadnya.

Sekarang bahkan dibuat sertifikat sanadnya. Lengkap. Tinggal dibingkai, dipasang di ruang tamu, bersama foto wisuda. Tak cuma untuk al-Fatihah, tapi juga tahfiz al-Qur’an bersanad.

Di tengah dunia yang ribut dengan algoritma media sosial, cukup menarik bahwa salah satu tokoh publik yang konsisten berbicara tentang sanad justru seorang menteri aktif yakni Nusron Wahid.

Ia tampil bak akademisi yang tak cukup mengambil teks dari sitasi. Ia berbicara soal sanad bukan sekali dua kali. Terakhir, ia tampil dalam Pengajian Majlisul Ilmi Persatuan Ummat Islam (PUI) di Jakarta.

Di situ, antara lain, ia menegaskan bahwa “agama itu nasihat, tapi pertanyaannya dari mana kita mengambil sanadnya?” Ia mengingatkan bahwa sanad adalah kunci menjaga kemurnian ilmu.

Sebelum itu, di Haul Guru Tua Al-Khairaat di Palu, Sulawesi Tengah, ia mengingatkan bahaya belajar agama tanpa sanad, misalnya hanya dari media sosial seperti pengajian ustadz tak jelas di Youtube.

Bahkan di Kajian Tarawih Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok, ia mengaitkan sanad dengan etika kepemimpinan publik, bahwa keputusan tanpa rujukan yang jelas sama bahayanya dengan fatwa tanpa sanad.

Ini menarik. Sebab biasanya pejabat sekelas menteri kalau bicara di podium sibuk membahas hilirisasi, digitalisasi, industrialisasi, atau minimal revitalisasi.

Tetapi Nusron justru membicarakan sanad. Seolah ia menteri ahli sanad. Itu mungkin karena ia lahir dari kultur pesantren, tradisi yang memang sejak awal berdiri hidup dari mata rantai keilmuan.

Dalam tradisi pesantren, seorang kiai bukan sekadar orang yang pintar bicara. Ia harus jelas “ngajinya ke siapa”. Kitab apa, dipelajari dari siapa. Harus jelas.

Bahkan doa dan wirid, ijazahnya mesti jelas dari siapa. Sebab dalam tradisi ulama, ilmu tanpa sanad ibarat uang miliaran rupiah tanpa nomor seri yang tampak meyakinkan, tapi belum tentu asli.

Maka jangan heran bila di pesantren, sanad bisa lebih penting daripada gelar akademik. Doktor bisa banyak. Profesor bisa berjejer. Tetapi sanad adalah soal kesinambungan ruh ilmu.

Dalam tradisi pesantren klasik, keulamaan seseorang sulit diterima bila jalur keilmuannya tidak jelas. Sebab sanad bukan sekadar daftar nama. Ia mekanisme verifikasi peradaban Islam sejak berabad-abad.

Imam Abdullah bin al-Mubarak asal Turkmenistan sampai berkata, “Al-isnādu minad-dīn. Lawlā al-isnādu la qāla man syā’a mā syā’a.” Sanad itu bagian dari agama. Kalau tidak ada sanad, orang akan bebas berkata sesukanya.

Dan benar saja. Hari ini orang memang berkata sesukanya. Baru membaca satu utas media sosial, langsung merasa sudah mujtahid. Baru menghafal dua hadis, sudah berani membid’ahkan kampung sebelah. Baru belajar bahasa Arab dari aplikasi, langsung merasa layak mengoreksi Imam Nawawi.

Inilah zaman ketika Google dianggap lebih sakti dari guru. Padahal Google itu gudang data, bukan gudang hikmah. Ia bisa memberi jawaban cepat, tapi tidak bisa memberi adab. Mesin pencari bisa menampilkan ribuan fatwa, tetapi tak bisa menanamkan kehati-hatian spiritual.

Karena itu, tradisi sanad lahir sebagai benteng peradaban ilmu. Dalam Islam, menurut Nusron, sanad memiliki beberapa bentuk penting.

Pertama, sanad nasab (dam) atau sanad keturunan. Ini terutama berlaku pada jalur Ahlul Bait, keturunan Rasulullah SAW. Dalam tradisi Islam klasik, nasab bukan sekadar kebanggaan biologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Karena itu, jalur keturunan Nabi dijaga sangat ketat melalui ilmu nasab. Bahkan banyak kitab khusus yang menelusuri silsilah Ahlul Bait hingga Rasulullah SAW. Bukan untuk feodalisme darah, tetapi untuk menjaga amanah sejarah.

Kedua, sanad talaqqī, terutama dalam al-Qur’an. Inilah yang sekarang ramai dalam pelatihan baca al-Fatihah atau tahfiz al-Qur’an bersanad. Seorang qari belajar langsung dari guru, guru itu belajar dari gurunya lagi, terus bersambung hingga Rasulullah SAW.

Jadi ketika seseorang membaca “Māliki yaumid-dīn” dengan panjang tertentu, ada jalur periwayatan bacaannya. Ada verifikasi makhraj, tajwid, bahkan irama bacanya. Tidak asal baca, karena ia sadar bacaan al-Fatihah menentukan sah-tidaknya salat.

Al-Qur’an sejak awal memang diturunkan dengan metode talaqqī atau dibaca langsung, didengar langsung, dikoreksi langsung. Bukan sekadar PDF yang diunduh lalu dibaca sendiri sambil rebahan.

Ketiga, sanad keilmuan. Ini mencakup fikih, tafsir, hadis, usul fikih, hingga berbagai disiplin ilmu Islam. Seorang murid belajar kitab kepada guru yang memiliki jalur transmisi ilmu jelas sampai kepada para imam besar, lalu kepada sahabat, lalu kepada Rasulullah SAW.

Maka ketika seorang ulama berbicara, sebenarnya di belakangnya berdiri ribuan ulama lain yang menjadi mata rantai ilmu. Itulah sebabnya otoritas ulama klasik begitu kuat. Mereka tidak berbicara sendirian. Mereka membawa sejarah panjang ilmu.

Keempat, sanad awrād dan kesufian. Dalam tradisi tarekat, wirid tidak boleh asal comot seperti diskon marketplace. Ada ijazahnya. Ada adabnya. Ada kesiapan ruhaniahnya. Sebab dzikir bukan sekadar pengulangan bunyi, melainkan proses penyucian jiwa.

Karena itu awrād diwariskan dari mursyid kepada murid secara berjenjang. Dari satu generasi ke generasi lain. Banyak tarekat besar seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, semuanya hidup melalui sanad ruhani yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

Kelima, sanad mushāfahah. Ini mungkin yang paling halus tetapi paling menggetarkan. Yakni sanad melalui pertemuan langsung, jabat tangan, kedekatan, khidmah kepada ulama dan para wali.

Dalam tradisi pesantren, ada orang yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi bertahun-tahun melayani kiai dimana ja menyiapkan sandal, menuang air, membawakan tas kitab.

Dari situ mengalir keberkahan dan adab yang tidak banyak ditulis di buku, mungkin disinggung tak langsung di kitab Ta’līm al-Muta’allim. Sebab ilmu bukan cuma transfer informasi, tetapi transfer cahaya akhlak.

Karena itu KH Ahmad Heryawan yang Ketua Majelis Masyayikh PUI menegaskan bahwa “kebenaran dalam agama harus bersanad.” Ia bahkan mengaitkan sanad dengan surah Al-Fatihah, “Ihdinash shirā al-mustaqīm, shirāthallażīna an‘amta ‘alaihim”.

Jalan lurus itu bukan jalan liar tanpa arah. Ia jalan yang sudah dilalui para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang saleh sebagaimana ditegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 69.

Jadi, sejak Al-Fatihah dibaca, sebenarnya Islam sudah mengajarkan konsep sanad yakni mengikuti mata rantai orang-orang yang telah memperoleh petunjuk. Dus semua muslim bersanad.

Al-Qur’an sendiri memberi prinsip dasar transmisi ilmu secara berjenjang. Allah berfirman dalam surah An-Nahl ayat 43, “Fas’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn.” Bertanyalah kepada ahli dzikir, bukan sekadar ke ilmuwan atau ulama, jika kalian tidak mengetahui.

Ayat ini sederhana, tetapi menghancurkan ego zaman modern yang merasa cukup belajar sendiri dari layar. Kita disuruh bertanya, diperintahkan bersanad, berintisab kepada orang-orang yang senantiasa berdzikir, bukan hanya yang berilmu.

Dalam hadis riwayat Muslim juga disebutkan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Warisan itu tentu tidak jatuh dari langit seperti notifikasi aplikasi. Ia diwariskan melalui proses panjang, talaqqi, pengabdian, dan sanad.

Maka sesungguhnya sanad adalah sistem keamanan intelektual Islam jauh sebelum dunia mengenal sertifikasi digital. Atau yang di dunia akademik dikenal dengan istilah sitasi.

Sanad seperti blockchain spiritual yang setiap mata rantai tercatat, tersambung, diverifikasi. Bedanya, blockchain modern menjaga transaksi uang, sedangkan sanad menjaga keselamatan agama.

Ironisnya, di era kecerdasan buatan ini, manusia justru makin malas memakai kecerdasan alami. Orang lebih percaya potongan video 30 detik daripada kitab yang dipelajari puluhan tahun. Padahal, tanpa sanad, agama bisa berubah menjadi sekadar opini keras dengan mikrofon besar.

Di zaman orang ingin masuk surga lewat potongan video satu menit, sanad mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran tetap harus ditempuh dengan kaki, bukan sekadar kuota internet.

Dan mungkin di situlah kita perlu merenung. Bahwa kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis membuat manusia lebih bijak. Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh kecepatan informasi, tetapi oleh kejujuran transmisi ilmu.

Sanad mengajarkan bahwa kebenaran bukan hasil loncat pagar intelektual. Ia lahir dari kerendahan hati untuk belajar, menyambung diri kepada guru, lalu menjaga amanah ilmu agar tidak putus di tangan kita.

Kalau hari ini orang sibuk mencari “akses tercepat”, tradisi sanad justru mengajarkan sesuatu yang dianggap kuno tetapi sangat mahal yaitu kesabaran berjalan setapak demi setapak menuju kebenaran.(*)

 

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur’an