
“Manusia bersifat kesukuan. Kita perlu menjadi bagian dari kelompok. Kita mendambakan ikatan dan keterikatan, itulah sebabnya kita menyukai klub, tim, persaudaraan, keluarga. Hampir tidak ada seorang pun yang hidup menyendiri. Bahkan biarawan dan rahib pun tergabung dalam ordo. Tetapi naluri kesukuan bukan hanya naluri untuk menjadi bagian. Itu juga naluri untuk mengucilkan.” — Ami Chua (63), Political Tribes: Group Instinct and the Fate of Nations (2018)
Politik silahturahmi yang ditunjukkan Dr. (HC.) Rachmat Gobel SE. pada 1 Syawal 1447 H di Gorontalo menghadirkan refleksi kontemplatif menarik tentang bagaimana tradisi Idul Fitri dikemas menjadi medium konsolidasi politik.
Dalam suasana penuh ampunan, Kaka RG, begitu ia kerap disapa, memilih jalan safari Idul Fitri, bertemu dengan gubernur, walikota, dan para bupati se-provinsi Gorontalo, bukan sekadar sebagai ritual sosial, melainkan sebagai strategi memperkuat jaringan ketokohan.
Rangkaian safari politik silaturahmi yang dikedepankan dengan tagar dan kepsion, “Bertukar pikiran dan mempererat tali kasih bersama Kepala Daerah Gorontalo di bulan penuh ampunan. Semoga ikhtiar ini membawa kebaikan bagi pembangunan daerah ke depan”, tampak menandai babak baru politik relasional-mutualistik di provinsi Gorontalo.
Betapa tidak para kepala daerah yang disambangi, antara lain, Gubernur Gorontalo, Dr. Ir. Gusnar Ismail, menyusul Walikota Gorontalo, Adhan Dambe, SKom, MA, MH, Bupati Bonebolango Drs. Ismet Mile, Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi hingga Bupati Gorut, Thariq Mondagu.
Momentum ini menegaskan bahwa politik di daerah tidak selalu harus ditampilkan dalam bentuk formal kekuasaan, melainkan bisa hadir dalam bentuk silahturahmi yang mengikat rasa kebersamaan (huyula).
Langkah tersebut mengingatkan pada konsep “uduluwo limo pohala’a” yang ditulis B. Haga, sebuah simbol negara etnik Gorontalo yang berakar pada relasi leluri “pohala’a” atau sering diucap sebagai “mongohutato onu mongodula’a” maupun “hubulo.”
Kata “hubulo” yang berasal dari akar Arab hubb yang berarti cinta atau pusat spiritual, menunjukkan bahwa relasi politik etnik Gorontalo sejak abad ke-16 di era Sultan Amay, telah dipengaruhi oleh tradisi Islam Arab.
Sultan Amai dari Gorontalo berkuasa antara tahun 1523 hingga 1550 Masehi, menjadikannya raja pertama Kesultanan Gorontalo yang memeluk Islam dan bergelar Ta Olongia Lopo Isilamu (Raja yang menerima Islam).
Karena itu, kata ḥubb (حُبّ) sendiri dalam bahasa Arab klasik memiliki akar yang dalam dan kaya makna. kata ini berasal dari akar kata ḥ-b-b (حبب) yang pada mulanya berarti “biji” atau “inti.”
Dari pengertian dasar itu berkembang makna “menempel erat” atau “melekat kuat,” sehingga kemudian dipakai untuk menunjuk pada rasa kasih yang bersemayam dalam hati.
Secara literal, ḥubb berarti cinta, kasih sayang, atau afeksi. Namun, makna ini tidak berhenti pada ranah emosional sehari-hari.
Dalam teks-teks sufistik, ḥubb dipahami sebagai cinta spiritual, kecenderungan jiwa menuju Tuhan, sebuah energi batin yang menggerakkan manusia untuk mendekat kepada sumber segala kebaikan.
Dalam bahasa sehari-hari, kata ini menunjuk pada cinta antar manusia, baik dalam bentuk romantis maupun kasih sayang yang lebih luas.
Dengan demikian, ḥubb bukan sekadar perasaan emosional yang datang dan pergi, melainkan juga mengandung makna kedekatan, keterikatan, dan pusat spiritualitas.
Dalam tradisi Islam klasik, cinta (hubb) dipandang sebagai energi yang menggerakkan jiwa (nafs) menuju kebaikan dan keindahan.
Ia menjadi fondasi penting dalam etika dan mistisisme, karena melalui cinta manusia menemukan jalan untuk mengasah kepekaan, memperhalus jiwa, dan menumbuhkan kebijaksanaan.
Ḥubb, dalam lafal lidah kolonial menjadi Gobel (baca: Hubel), adalah inti yang melekat. Biji, inti atau tunas yang tumbuh menjadi pohon kehidupan spiritual (al-khaun) dan sekaligus cahaya (nur) yang menuntun manusia dalam perjalanan menuju Tuhan.
Dengan demikian, safari politik Idul Fitri, Kaka RG, Ketua Nasdem Gorontalo dan Anggota DPR RI, bukan hanya pertemuan antar-elite, melainkan juga pengulangan simbolik dari tradisi leluri yang menekankan cinta, kebersamaan (huyula), dan spiritualitas sebagai fondasi relasi politik.
Dalam konteks geopolitik global, ketika dunia sedang riuh oleh perang Amerika-Israel melawan Irak dan umat Islam merayakan Idul Fitri dengan perbedaan waktu, tindakan Kaka RG menghadirkan kontras yang signifikan.
Selain itu, B. Haga, Controleur di Gorontalo, pejabat yang mengawasi urusan administrasi, adat, dan politik lokal yang menyoroti sejarah politik etnik Gorontalo melalui konsep Uduluwo Limo Pohala’a, yang terbit sekitar 1931.
Ia menafsirkan bahwa struktur politik tradisional Gorontalo berakar pada sistem lima pohala’a (kelompok keluarga besar) yang menjadi fondasi konsolidasi sosial, kultural dan politik.
Dalam karyanya, Haga menulis bahwa “Pohala’a adalah keluarga besar yang menjadi dasar ketatanegaraan Gorontalo, dikonsolidasikan dalam lima kesatuan wilayah meliputi Suwawa/Bolango, Limutu (Limboto), Tibawa, Kwandang hingga Atinggola yang diunifikasi sebagai Uduluwo Limo Pohala’a.”
Dengan demikian, hakikat dan relasi politik etnik Gorontalo sebagai sistem berbasis kekerabatan (pohala’a), di mana kekuasaan dan legitimasi tidak hanya lahir dari individu, tetapi dari jaringan keluarga besar yang menyatu dengan adat dan agama, adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to qurani.”
Menurut Haga, kolonial Belanda lewat Vollenhofen, kelak memasukkan wilayah ini sebagai Adatrecht ke-19 “Limo Lo Pohala’a” dan menempatkan seorang asisten residen di atas pemerintahan adat.
Hal ini menunjukkan bagaimana relasi politik etnik Gorontalo yang semula berbasis leluri dan tradisi Islam sejak abad ke-16 perlahan berinteraksi dengan struktur kolonial.
Namun, inti dari relasi politik etnik tetap bertumpu pada nilai kebersamaan (huyula) dan solidaritas keluarga besar (pohala’a).
Walhasil, hakikat historis relasi politik etnik yang dikutip dari B. Haga dalam Uduluwo Limo Pohala’a menandaskan bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan konsolidasi identitas melalui pohala’a (keluarga besar), adati, dan agama (kadi).
Sistem ini menegaskan bahwa relasi kultur dan struktur kekuatan politik Gorontalo lahir dari akar budaya yang menekankan cinta (hubb) dan kebersamaan (huyula) yang kemudian menjadi simbol ketokohan lokal hingga era modern.
Singkatnya, lagi-lagi B. Haga melalui Uduluwo Limo Pohala’a menegaskan bahwa relasi politik etnik Gorontalo berakar pada sistem keluarga besar lima pohala’a, yang menjadi fondasi ketatanegaraan tradisional (ethnic state) dan tetap relevan sebagai simbol konsolidasi politik hingga kini.
Konsep ini memilih jalur damai, jalur silahturahmi, jalur yang menekankan nilai-nilai lokal dan spiritual di tengah hiruk-pikuk konflik internasional.
Politik semacam ini bisa dibaca sebagai upaya meneguhkan identitas subregional Gorontalo, sekaligus menunjukkan bahwa kekuatan politik tidak hanya lahir dari arena formal, tetapi juga dari ruang sosial yang penuh makna simbolik.
Hakikat politik silahturahmi adalah menjadikan pertemuan sebagai energi moral.
Untuk itu, Kaka RG bukan sekadar menghidupkan nostalgia Idul Fitri secara formal, melainkan strategi untuk menumbuhkan rasa percaya, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan kembali akar budaya yang telah lama hidup dalam masyarakat.
Dengan cara ini, politik tidak lagi dipandang sebagai perebutan kekuasaan semata, melainkan sebagai jalan untuk merawat cinta, kebersamaan, dan spiritualitas yang menjadi inti dari leluri Pohala’a dan Hubulo.
Politik silahturahmi, sebagaimana ditunjukkan di Gorontalo, adalah politik yang berakar pada jiwa (batanga), bukan sekadar pada struktur yang membentuk inti kekuasaan.
Dan semua itu, setidaknya untuk langkah dan ikhtiar mutual-aktual Kaka RG merupakan tindakan politik yang menumbuhkan jembatan relasi otentik antara kultur dan struktur politik yang jamak.
#coverlagu: Lagu “Lipu’u Hulontalo” yang dibawakan oleh Hasbullah Ishak (feat. Rahmatiya/Elen Huwolo) pertama kali dirilis pada tahun 2016. Hasbullah Ishak (40) adalah musisi asal Gorontalo dan mencipta lagu ini sebagai ungkapan cinta dan kebanggaan terhadap tanah Hulontalo, sekaligus upaya pelestarian identitas budaya daerah.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



