
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Mengapa malam Lailatulqadar, yang disebut dalam Al-Qur’an lebih baik daripada seribu bulan, tidak pernah diketahui secara pasti waktunya?
Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim An-Nawawi Ampel Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar, menjelaskan bahwa kerahasiaan tersebut menyimpan sejumlah hikmah bagi umat Islam.
Dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, Rabu (11/3) petang, ulama yang akrab disapa Gus Mujab itu mengungkapkan sedikitnya tiga hikmah di balik dirahasiakannya malam Lailatulqadar.
“Mayoritas ulama menyebutkan Lailatulqadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Namun kapan tepatnya, itu yang dirahasiakan,” kata Gus Mujab dalam kajian yang dipandu pengasuh Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, H Helmy M Noor.
Menurut Gus Mujab, hikmah pertama adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencari dan memohon kepada Allah SWT.
“Jika waktunya diberitahu secara pasti, mungkin orang hanya beribadah pada malam itu saja. Dengan dirahasiakan, manusia terdorong untuk berusaha sungguh-sungguh, bahkan sampai menangis memohon kepada Allah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola kerahasiaan seperti itu juga berlaku dalam berbagai aspek kehidupan lain, seperti rezeki, jodoh, dan waktu kematian.
Hikmah kedua, lanjut dia, agar proses pencarian Lailatulqadar menjadi lebih bermakna dan menggugah semangat beribadah.
“Seperti dalam perlombaan, jika pemenangnya dirahasiakan, suasananya menjadi lebih seru. Demikian pula dengan Lailatulqadar. Siapa pun berpeluang meraihnya,” kata Gus Mujab.
Ia mencontohkan bahwa orang sederhana sekalipun berpotensi mendapatkan kemuliaan malam tersebut.
“Bisa saja yang meraih kemuliaan itu justru orang yang secara sosial dianggap biasa, seperti tukang becak. Karena itu kita diajarkan menghormati siapa pun,” ujarnya.
Adapun hikmah ketiga, menurut Gus Mujab, adalah agar Allah dapat menunjukkan kemuliaan manusia di hadapan para malaikat.
Kesungguhan manusia dalam beribadah dan memohon ampun pada malam-malam terakhir Ramadhan, kata dia, menjadi bukti bahwa manusia mampu berbuat kebaikan.
“Dengan kesungguhan itu, Allah dapat membanggakan manusia kepada para malaikat yang dahulu mempertanyakan penciptaan manusia karena dikhawatirkan akan membuat kerusakan di bumi,” katanya.
Selain dirahasiakan waktunya, Lailatulqadar juga memiliki sejumlah keistimewaan. Dalam Surah Al-Qadr ayat 1-5 disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan atau lebih dari 83 tahun.
Gus Mujab menjelaskan, para ulama memberikan tiga penafsiran terhadap kata “Al-Qadr” dalam istilah Lailatulqadar.
Pertama, bermakna malam yang penuh sesak, karena banyak malaikat turun ke bumi membawa rahmat bagi manusia.
Kedua, malam kemuliaan, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an sebagai lailatin mubarakah atau malam yang penuh keberkahan.
Ketiga, malam penentuan takdir, yakni malam ketika Allah menetapkan berbagai urusan kehidupan manusia untuk satu tahun ke depan.
Ia menambahkan, Surah Al-Qadr juga memiliki keistimewaan dari sisi bahasa Al-Qur’an. Kata “Lailatulqadar” diulang tiga kali dalam surah tersebut sebagai bentuk penegasan kemuliaannya.
Selain itu, ayat-ayat dalam surah itu memiliki keselarasan bunyi pada akhir kalimat serta menyebut secara khusus turunnya para malaikat, termasuk Malaikat Jibril.
Menurut Gus Mujab, latar belakang turunnya Surah Al-Qadr juga dikaitkan dengan kisah seorang dari Bani Israel yang beribadah dan berjihad selama 1.000 bulan.
“Umat Nabi Muhammad SAW diberi keistimewaan. Dengan ibadah pada satu malam Lailatulqadar saja, nilainya dapat menyamai ibadah selama 1.000 bulan,” ujarnya.
Terkait amalan untuk meraih malam tersebut, Gus Mujab mengingatkan umat Islam agar memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Ibadah itu, kata dia, dapat dilakukan dengan shalat malam, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa, di antaranya: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
“Yang terpenting adalah kesungguhan dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan,” kata Gus Mujab.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



