Thursday, March 12, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiKemarau Diprediksi Datang Lebih Awal, Peternak Diminta Siapkan Cadangan Pakan

Kemarau Diprediksi Datang Lebih Awal, Peternak Diminta Siapkan Cadangan Pakan

drh. Bodhi Agustono dalam ilustrasi.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia akan datang lebih awal pada April 2026. Fenomena ini berpotensi memicu kondisi cuaca yang lebih panas dan kering di sejumlah wilayah, sehingga berdampak pada sektor pertanian dan peternakan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi kering diprediksi meluas di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian wilayah Papua dan Maluku.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan hijauan segar yang selama ini menjadi sumber utama pakan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba.

Dosen Peternakan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga drh. Bodhi Agustono mengatakan kemarau panjang dapat menyebabkan ketersediaan rumput dan tanaman hijauan menurun drastis.

“Peternak yang selama ini mengandalkan hijauan segar perlu mulai memikirkan manajemen pakan yang lebih terencana,” ujarnya.

Menurut Bodhi, peternak dapat mulai menyiapkan cadangan pakan sejak musim hujan, ketika hijauan masih melimpah. Hijauan tersebut dapat diawetkan sehingga tetap tersedia saat kemarau tiba.

Ada dua metode utama yang dapat dilakukan untuk mengawetkan pakan hijauan, yakni silase dan hay.

Silase merupakan metode pengawetan hijauan melalui proses fermentasi tanpa udara (anaerob). Bahan yang biasa digunakan antara lain rumput gajah, jagung, dan tanaman hijauan lain yang memiliki kadar air tinggi. Melalui proses ini, pakan dapat disimpan dalam waktu relatif lama dengan kandungan nutrisi yang tetap terjaga.

Sementara itu, metode hay dilakukan dengan cara mengeringkan hijauan hingga kadar airnya rendah. Rumput lapangan atau tanaman leguminosa seperti alfalfa sering digunakan sebagai bahan utama. Hijauan yang telah dikeringkan dapat disimpan berbulan-bulan tanpa mengalami pembusukan.

“Dengan cara ini, peternak tidak perlu kesulitan mencari pakan ketika rumput mulai mengering pada musim kemarau,” kata Bodhi.

Meski metode tersebut telah lama dikenal dalam sistem peternakan modern, Bodhi menilai masih banyak peternak di Indonesia yang belum memanfaatkannya secara optimal. “Tantangan utamanya adalah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam membuat silase atau hay,” ujarnya.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu peternak melalui program pengabdian masyarakat, pelatihan, dan pendampingan teknis di lapangan.

Menurut Bodhi, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok peternak dapat mempercepat penerapan teknologi pengawetan pakan tersebut.

Antisipasi Pemerintah

Selain ketersediaan pakan, Bodhi juga mengingatkan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi kekeringan, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekurangan air.

Peringatan dini dari BMKG, kata dia, dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan langkah mitigasi, termasuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat maupun ternak.

“Dengan antisipasi sejak dini, dampak kemarau panjang terhadap sektor peternakan dan ketahanan pangan bisa diminimalkan,” ujarnya.(*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular