
NGANJUK, CAKRAWARTA.com – Panglima Kodam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin meninjau jembatan kabel pancang yang baru selesai dibangun di Desa Bagorwetan, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (5/3/2026). Jembatan tersebut dibangun oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat melalui program Jembatan Perintis Garuda untuk memperkuat konektivitas antarwilayah pedesaan.
Rudy mengatakan, pembangunan jembatan itu merupakan bagian dari program TNI AD yang dijalankan atas arahan pemerintah untuk membuka akses wilayah yang selama ini terhambat oleh keterbatasan infrastruktur.
“Program Jembatan Perintis Garuda ini merupakan perintah dari Presiden kepada Kepala Staf Angkatan Darat untuk membangun jembatan di berbagai daerah yang membutuhkan akses penghubung,” kata Rudy saat meninjau lokasi.
Ia menjelaskan, keberadaan jembatan tersebut diharapkan mempermudah mobilitas warga, mulai dari aktivitas ekonomi hingga pendidikan. Selama ini masyarakat setempat harus menghadapi keterbatasan akses, terutama ketika melintasi aliran sungai yang memisahkan desa-desa di kawasan itu.
Menurut Rudy, pembangunan jembatan juga diharapkan mendukung kelancaran distribusi hasil pertanian, meningkatkan produktivitas warga, serta memperkuat interaksi sosial antarwilayah.
Ia mengingatkan masyarakat agar menjaga dan merawat fasilitas tersebut agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Warga di sini menunggu sekitar 40 tahun untuk memiliki jembatan yang layak. Sekarang sudah terbangun. Saya berharap masyarakat dapat memanfaatkannya secara maksimal sekaligus merawatnya bersama,” ujarnya.
Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya Kolonel Arm Untoro Hariyanto menjelaskan, jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 60 meter dengan lebar 1,8 meter. Infrastruktur itu menghubungkan Desa Bagorwetan di Kecamatan Sukomoro dengan Desa Puhkerep di Kecamatan Rejoso.
Menurut Untoro, jembatan kabel pancang itu juga diperkuat dengan sejumlah modifikasi agar lebih kokoh.

“Strukturnya dimodifikasi dengan penambahan pilar sehingga kekuatannya meningkat dan menjadi jembatan semi permanen,” katanya.
Sebanyak enam pilar dipasang di bagian bawah jembatan untuk memperkuat konstruksi sekaligus menahan potensi longsor di bantaran sungai. Dengan desain tersebut, jembatan dapat dilintasi dua kendaraan roda tiga jenis tossa secara bersamaan dengan kapasitas muatan hingga satu ton per kendaraan.
Dengan beroperasinya jembatan itu, distribusi kebutuhan pokok serta hasil pertanian warga diharapkan menjadi lebih lancar sekaligus membuka peluang peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat di kawasan tersebut.(*)
Kontributor: Arwang
Editor: Abdel Rafi



