
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Tim Perumus Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menuntaskan penyusunan materi untuk Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) yang akan digelar di Pondok Pesantren Sunan Bejagung 2, Semanding, Tuban, pada 11-12 April 2026. Selain itu, tim juga merampungkan sejumlah usulan materi untuk Musyawarah Nasional (Munas)/Konferensi Besar (Konbes) NU menjelang Muktamar ke-35 NU.
Finalisasi materi dilakukan dalam rapat yang dipantau langsung Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Kamis (9/4/2026). Pembahasan mencakup sejumlah isu strategis sesuai perkembangan NU di tingkat regional, nasional, hingga global, termasuk sistem regenerasi berbasis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Gagasan tentang sistem regenerasi tersebut juga mengemuka dalam kegiatan halal bihalal Majelis Alumni IPNU-IPPNU Jawa Timur di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, pada hari yang sama. Kegiatan itu dihadiri sekitar 70-80 alumni dari berbagai daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Wakil Ketua PWNU Jatim KH. Taufik Jalil, Sekretaris PWNU Jatim Dr. HM Faqih, serta Yulia Istianah. Mereka bersama para alumni membahas sejumlah usulan yang berkembang dari kader IPNU-IPPNU di berbagai daerah, seperti Lamongan, Blitar, Surabaya, Malang, dan Gresik.
Inisiator kegiatan, Abdul Kholiq, menyampaikan bahwa alumni IPNU-IPPNU mengusulkan tiga hal utama, yakni penguatan sistem kaderisasi fungsional, penataan aset NU secara profesional, serta penguatan manajemen organisasi berbasis data.
“Kami memandang sistem regenerasi berbasis AHWA penting untuk dibahas dalam Muskerwil dan Munas. Selain itu, kaderisasi fungsional perlu diperkuat agar proses kaderisasi di badan otonom seperti IPNU dan IPPNU terintegrasi dalam struktur organisasi NU,” ujarnya.

Ia menambahkan, pola kaderisasi di lingkungan badan otonom selama ini perlu mendapat pengakuan sebagai bagian dari sistem kaderisasi struktural NU, bukan berjalan sendiri di luar skema yang ada, termasuk di tengah pelaksanaan kaderisasi formal seperti PDPKP atau PMKNU.
Menurut dia, tantangan kaderisasi ke depan juga berkaitan dengan perubahan karakter generasi, terutama Generasi Z dan Alpha, yang membutuhkan pendekatan berbeda dalam proses pembinaan.
Sementara itu, pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, H Helmy M Noor, menekankan pentingnya penguatan pendidikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai fondasi ideologis.
Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi digital, penguatan Aswaja melalui pusat-pusat edukasi menjadi penting sebagai upaya menjaga ketahanan ideologi di kalangan generasi muda.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



