
Kamis (9/4/2026) pagi ketika saya menulis catatan ini, hujan deras mengguyur Geopark Ciletuh. Saya duduk di rumah kebun yang sederhana, ditemani secangkir kopi hangat. Air jatuh dari atap seng membentuk irama yang tenang. Namun di kepala saya, suasana teduh itu segera pecah oleh kabar yang datang dari Timur Tengah.
Saya bukan orang yang mudah terkejut. Saya pernah memegang senjata di Lebanon sebagai Komandan Pasukan Perdamaian PBB pada 2009-2010. Saya juga pernah duduk di ruang-ruang rapat Dewan Keamanan PBB di New York sebagai Penasihat Militer RI antara 2017 hingga 2019. Saya telah melihat bagaimana perang dimulai, bagaimana gencatan senjata dinegosiasikan, dan bagaimana anak-anak kerap menjadi korbannya.
Namun, kabar pagi ini membuat saya terdiam.
Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang baru berusia dua hari, dilaporkan berada di ambang kebatalan. Iran menuduh AS melanggar kesepakatan. Salah satu pelanggaran yang paling serius, menurut Teheran, adalah kegagalan Washington menghentikan sekutunya, Israel, untuk terus menyerang Lebanon.
Saya membaca berita itu sekali lagi. Lalu saya membaca pernyataan resmi Israel. Kantor Perdana Menteri Netanyahu menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak terikat dengan gencatan senjata AS-Iran untuk front Lebanon. Artinya, menurut mereka, mereka bebas terus mengebom Lebanon.
Dan mereka melakukannya. Dalam satu hari, 8 April 2026, lebih dari 182 orang tewas di Lebanon. Ribuan lainnya luka-luka. Rumah sakit kewalahan.
Saya menutup mata sejenak. Saya membayangkan jalan-jalan di Beirut Selatan yang dulu saya lalui saat patroli. Saya membayangkan wajah-wajah anak kecil yang dulu saya temui di kamp-kamp pengungsian. Lalu saya membayangkan mereka tertimpa reruntuhan.
Sejak perang melebar ke Lebanon pada 2 Maret 2026, sedikitnya 130 anak telah kehilangan nyawa. Seratus tiga puluh. Bukan sekadar angka. Mereka adalah manusia kecil yang memiliki mimpi. Mereka ingin menjadi guru, dokter, tentara, atau mungkin seperti saya dahulu ingin membawa perdamaian.
Tapi mereka tidak sempat tumbuh.
Saya bertanya pada diri sendiri, Apakah pantas disebut gencatan senjata jika bom terus berjatuhan di satu negara, sementara berhenti di negara lain? Bukankah gencatan senjata seharusnya berarti semua senjata berhenti, untuk semua pihak, di semua tempat?
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Lebanon “tidak ada hubungannya dengan Iran”. Dengan segala hormat, sebagai mantan diplomat yang pernah bertugas di New York, saya merasa pernyataan itu sulit diterima akal sehat. Hizbullah berada di Lebanon. Hizbullah didukung Iran. Menyerang Hizbullah berarti menyerang kepentingan Iran. Tentu ada hubungan. Sangat jelas.
Jadi, apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Saya khawatir ini adalah damai palsu. Gencatan senjata yang dibuat bukan untuk menghentikan perang, melainkan untuk memberi satu pihak keleluasaan memukul pihak lain tanpa gangguan. AS diam saat Israel mengebom Lebanon. Iran memprotes, tetapi tidak berdaya karena terikat perjanjian. Dan PBB? Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk hanya dapat menyebutnya “mengerikan”. Saya sepakat. Namun, kata “mengerikan” tidak pernah menghentikan bom.
Dari pengalaman saya di PBB, saya memahami bahwa kata-kata indah kerap menghiasi resolusi. Namun di lapangan, yang berbicara adalah rudal dan jet tempur. Dan yang paling tidak bersuara selalu anak-anak.
Saya tidak menulis ini untuk marah. Saya sudah terlalu tua untuk marah. Saya menulis ini karena saya masih percaya bahwa dunia dapat berbuat lebih baik.
Saya menawarkan tiga hal sederhana, sebagai seorang prajurit yang pernah menjadi diplomat, dan sebagai diplomat yang pernah menjadi prajurit.
Pertama, jangan mengakui gencatan senjata yang hanya menguntungkan satu pihak. Dunia harus berani menyebutnya sebagaimana adanya: pengalihan perhatian.
Kedua, dorong mekanisme penegakan yang mengikat. Gencatan senjata tanpa pengawas independen sama saja dengan mengundang pelanggaran.
Ketiga, Indonesia harus angkat suara. Bukan sekadar pernyataan keprihatinan, melainkan tawaran nyata untuk mengirim pasukan pemantau. Kita memiliki pengalaman. Kita memiliki kredibilitas. Saatnya berbicara.
Saya tidak tahu apakah gencatan senjata AS-Iran akan bertahan atau runtuh dalam waktu dekat. Namun satu hal yang saya yakini hingga kini bahwa gencatan senjata yang gagal melindungi anak-anak bukanlah perdamaian. Ia adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Dan pengkhianatan seperti itu, di mata seorang mantan penjaga perdamaian, sama saja dengan ikut membunuh.(*)
MAYJEN TNI (PURN) FULAD
Komandan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon periode 2009-2010 dan Penasihat Militer RI untuk PBB periode 2017-2019



