Friday, May 24, 2024
HomeSosial BudayaWNI Terobsesi Nikahi Bule, Pakar: Pengaruh Post-Colonialism!

WNI Terobsesi Nikahi Bule, Pakar: Pengaruh Post-Colonialism!

Ilustrasi. (foto: istimewa)

SURABAYA – Di zaman yang serba majemuk seperti saat ini, ada fenomena sebagian orang yang terobsesi untuk menikah dengan warga negara asing. Salah satu latar belakang dari keinginan itu adalah perbaikan keturunan lewat perkawinan yang menghasilkan keturunan blasteran.

Pakar Budaya Diah Ariani Arimbi, PhD., mengatakan bahwa ambisi untuk memperoleh keturunan blasteran merupakan pengaruh pasca kolonialisme (post colonialism) yang masih melekat di masyarakat Indonesia.

“Anggapan bahwa kulit putih menandakan status sosial yang tinggi disebabkan oleh para penjajah Barat yang berkuasa dan mengubah tatanan sosial dengan paham the construction of whiteness dimana yang kulit putih memiliki kelas sosial yang lebih superior daripada ras lainnya,” ujar Diah Ariani Arimbi pada media ini, Selasa (14/2/2023).

Diah menambahkan bahwa langgengnya konstruksi pada masyarakat modern saat ini membawa dampak bagi seseorang yang ingin mendapatkan keturunan blasteran. Pernikahan dengan warga negara asing adalah cara termudah untuk mendapatkan keturunan blasteran.

“Tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang terobsesi menikah dengan warga negara asing dalam hal ini yang berkulit putih. Beberapa ras lain juga merasakan dampak yang sama. Hal ini diperkuat dengan fakta di masa lampau bahwa bangsa kulit putih sebagai penjajah di banyak wilayah,” imbuhnya.

Salah satu pengaruh pasca kolonialisme, kata Diah, adalah label kecantikan dengan kulit putih, hidung mancung, badan tinggi dan tegap khas ciri fisik ras Kaukasoid. Adanya ciri fisik yang mirip dengan kelompok masyarakat blasteran akan memudahkan mereka untuk ‘diterima’. Padahal faktanya, penduduk asli Indonesia didominasi ras malayan-mongoloid, melanesoid, asiatic-mongoloid, dan weddoid yang memiliki ciri fisik sangat berbeda dengan ras kulit putih.

“Dampaknya, pasar produk pemutih kulit pada industri kecantikan sangat diminati. Karena bagi  masyarakat, indikator utama kecantikan adalah kulit yang putih berseri yang mendambakan konsep kecantikan ideal Barat,” ungkap Diah.

Bagi masyarakat Indonesia, kelompok bule khususnya ras kaukasoid mampu menciptakan tren baru dan menjadi perhatian. Secara historis, pada zaman penjajahan, ras kaukasoid dianggap sebagai musuh karena perawakannya seperti penjajah yang kerap disamakan sebagai objek yang negatif.

Namun saat ini adanya glorifikasi bule di tengah masyarakat, menjadikan bule sebagai pusat perhatian.

“Saya mendengar cerita mahasiswa asing, khususnya mereka yang berasal dari Afrika dan India. Mereka cenderung sulit mendapatkan teman dan sulit bergaul daripada mahasiswa internasional lainnya dengan kulit putih yang justru lebih sering diajak bercengkrama terlebih dahulu oleh mahasiswa Indonesia,” pungkas guru besar Fakultas Ilmu Budaya Unair ini.

(mar/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular