Thursday, January 8, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiKesehatanWaspada “Superflu” H3N2, Pakar UNAIR Ingatkan Risiko Komplikasi pada Kelompok Rentan

Waspada “Superflu” H3N2, Pakar UNAIR Ingatkan Risiko Komplikasi pada Kelompok Rentan

ilustrasi.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ancaman virus influenza di Indonesia memasuki fase baru. Varian Influenza A H3N2 Subclade K, yang populer disebut Superflu, mulai terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur. Para ahli mengingatkan, meski tampak seperti flu biasa, varian ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan.

Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Agung Dwi Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa H3N2 merupakan bagian dari virus Influenza tipe A yang dikenal memiliki kemampuan mutasi sangat tinggi.

“Influenza A bersifat sangat dinamis karena adanya perubahan pada protein permukaan Hemaglutinin dan Neuraminidase. Proses antigenic drift inilah yang memicu munculnya varian-varian baru,” kata dr. Agung saat dihubungi, Selasa (6/1/2026).

Menurut dr. Agung, fenomena Superflu terjadi ketika virus mengalami perubahan genetik yang cukup signifikan, sehingga kekebalan tubuh yang terbentuk dari infeksi atau vaksin sebelumnya menjadi kurang efektif.

“Virus ini mampu melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik. Pada individu tanpa kekebalan memadai, kondisi ini bisa memicu gejala yang lebih berat,” ujarnya.

Secara klinis, gejala H3N2 Subclade K masih menyerupai flu pada umumnya, seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri otot. Namun, pada lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis, risiko komplikasi seperti pneumonia perlu diwaspadai.

Menghadapi potensi peningkatan kasus, dr. Agung menekankan pentingnya peran laboratorium mikrobiologi klinik. Pemeriksaan Real-Time PCR (RT-PCR) masih menjadi metode paling andal untuk memastikan diagnosis dan membedakan influenza dari infeksi virus pernapasan lain.

“Diagnosis cepat bukan hanya untuk menentukan terapi, tetapi juga untuk kepentingan surveilans. Kita perlu mengetahui strain apa yang beredar dan apakah ada tanda resistensi terhadap antivirus,” ujarnya.

Vaksinasi Tahunan Tetap Relevan

Di tengah munculnya varian baru, vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi strategi utama pencegahan. Menurut dr. Agung, meski virus terus bermutasi, vaksin tetap efektif dalam menurunkan risiko keparahan dan kematian.

Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Agung Dwi Wahyu Widodo. (foto: dokumen pribadi)

“Vaksinasi tidak selalu mencegah infeksi, tetapi sangat efektif menekan risiko sakit berat. Jika cakupan vaksin tinggi, penularan di tingkat komunitas juga akan menurun,” katanya.

Selain vaksinasi, masyarakat diimbau tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk penggunaan masker saat sakit, mencuci tangan, dan menjaga daya tahan tubuh. Dari sisi pengobatan, antivirus seperti oseltamivir masih efektif jika diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.

Dr. Agung mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap enteng gejala flu, terutama di musim hujan dan saat varian baru mulai beredar. “Kesadaran untuk memeriksakan diri sejak dini dan melengkapi vaksinasi menjadi kunci agar influenza tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas,” ujarnya.(*)

Kontributor: Khefti PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular