Monday, February 23, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (5): Puasa Para Sufi

Esai Ramadan (5): Puasa Para Sufi

 

(foto: dicopas dari kanal Youtube A Sufi Tale: Fasting with All Your Senses dan Break Your Fast With Wine #sufi #sufism #ramadan #persia #persian Sharghzadeh)

The Prophet Muhammad (‘s) said, “Many a person gets nothing from his fast except hunger and thirst.“

Nabi Muhammad SAW (570-362 M) bersabda, “Banyak orang tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus.”

Lanskap spiritual teknologi ibadah puasa tak hanya dievaluasi dalam kaidah-kaidah syariah.

Titik lain hal itu bisa dicerna dari para pencari jalan menuju Tuhan tanpa sepenuhnya melepas pengetahuan burhani ke irfani mereka sendiri. Tentu, maksudnya: para sufi atau penempuh tarekat spiritual-batiniyah.

Kelak, mereka yang dijuluki kaum sufi ini meneroka jalan mereka agar mencapai tahap pengetahuan irfani mereka sebagai pucuk pencarian.

Di antara mereka, sekurang-kurangnya ada tiga guru sufi yaitu Al-Hallaj, Rabiah al-Adawiyah, dan Rumi, dalam tiga rentang era, bisa ditilik dari tiga penerjemah mereka.

Pertama, Herbert Warren Mason (1932–2017), profesor sejarah dan pemikiran agama di Boston University, sekaligus penerjemah karya-karya Louis Massignon, ahli Al Hallaj asal Perancis.

Mason aktif menulis tentang mistisisme Islam, termasuk tokoh Husayn ibn Mansur al-Hallaj.

Dalam Al-Hallaj (Routledge Sufi Series, edisi 2021), yang merupakan edisi ulang dari karya Mason tahun 1995, ia menyoroti kehidupan dan ajaran Al-Hallaj, sufi kontroversial dengan ungkapan mistiknya yaitu “Ana al-Haqq“ atau Akulah Kebenaran.

Al-Hallaj (858–922), “Ana al-Haqq” merupakan ungkapan terkenal mistiknya yang menandai kefanaan, penghilangan ego hingga yang tersisa hanyalah kebenaran Ilahi.“

Mason menekankan aspek asketisme dan praktik spiritual Al-Hallaj, termasuk puasa sebagai pengekangan diri dan pengosongan jiwa untuk mencapai kedekatan dengan Allah.

Puasa spiritual Al-Hallaj digambarkan sebagai renunciation (penolakan duniawi) dan spiritual discipline (disiplin ruhani) yang memperkuat pengalaman mistik dan pengorbanan dirinya yang berujung pada fana (penghilangan ego) dan penyatuan dengan realitas ilahi.

Kedua, Margaret Smith (1884–1970), seorang sarjana Inggris yang meneliti mistisisme Islam, khususnya tokoh sufi perempuan.

Ia menulis karya terkenalnya Rabia: The Mystic of Basra yang pertama kali terbit tahun 1928, lalu diterbitkan ulang dalam edisi modern pada 2020.

Buku ini membahas perjalanan spiritual Rabiah al-Adawiyah sebagai seorang asketis (zuhud), yang menekankan pelepasan diri dari dunia demi cinta ilahi.

Smith menyoroti praktik Rabiah yang mirip dengan puasa spiritual, dengan istilah lain seperti ascetic fasting (puasa asketis), spiritual abstinence (pantang spiritual), dan mystical renunciation sebagau bentuk penolakan duniawi dalam kerangka mistik.

Kutipan terkenal dari Rabiah al-Adawiyah (713–801), “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, dan tidak pula karena mengharap surga. Aku menyembah-Mu semata karena cinta kepada-Mu.”

Jalan sufi Rabiah adalah cinta murni, bebas dari pamrih duniawi maupun ukhrawi, neraka atau surga.

Saking ekstrimnya, Rabiah yang hidup hingga 88 tahun, pernah meminta kepada Allah agar patah tulang lengan dan kaki karena jatuh, jangan sampai ikut mematahkan cintanya pada Sang Mahacinta.

Selain itu, Rabiah konon menolak cinta ulama kondang, guru sufi di Basra, Hasan al-Basri.

Dalam kisah yang banyak diriwayatkan, Hasan al-Basri pernah melamar Rabiah, namun ditolak dengan jawaban yang mencerminkan pandangan sufistik Rabiah yaitu “Aku hidup dalam bayang-bayang kuasa-Nya. Engkau harus meminta diriku kepada-Nya, bukan kepadaku.”

Dalam konteks sufisme, puasa spiritual tidak hanya berarti menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan hawa nafsu dan mengarahkan energi jiwa seluruhnya kepada Allah.

Rabiah digambarkan menjadikan puasa spiritual sebagai jalan menuju totalitas mahabbah ilahiyah atau semata cinta kepada Allah saja. Bukan selainNya.

Lebih mutakhir, datang dari Coleman Barks, seorang penyair Amerika yang kini berusia 88 tahun, aktif sebagai penerjemah serta pembaca puisi Rumi di berbagai forum internasional.

Ia dikenal luas, terutama setelah peristiwa 9/11, ketika banyak orang Amerika ingin lebih tahu tentang Islam.

Interpretasinya atas karya Jalaluddin Rumi dalam The Essential Rumi (edisi revisi 2020) yang telah menabalkan Rumi di Amerika dan seluruh dunia, membuka tabir esensial tentang Islam sebagai jalan spiritual.

Salah satu kutipan dari Jalaluddin Rumi (1207–1273), “Apa yang kamu cari, sedang mencari kamu.”

Dalam puisi Rumi, gazal, matsnawi maupun diwan syamsi tabriz, puasa sering digambarkan bukan hanya sebagai praktik fisik, tetapi sebagai simbol pengosongan diri demi menerima cahaya ilahi.

Kutipan lain Rumi berikut, “Ada kemanisan tersembunyi dalam kekosongan perut.“

Kita adalah kecapi, tidak lebih, tidak kurang. Jika kotak suara dijejali dengan apa pun, tidak akan ada musik.”

“Saat berpuasa, kebiasaan baik berkumpul seperti teman yang ingin membantu.“

“Puasa adalah cincin Salomo. Jangan memberikannya pada ilusi dan kehilangan kekuatanmu.”

“Jadilah lebih kosong dan menangis seperti alat musik tiup menangis. Lebih kosong, tulis rahasia dengan pena buluh.”

Inti makna puasa dalam puisi Rumi bukan sekadar menahan lapar, melainkan metafora pengosongan diri.

Tema mengosongkan ego dan nafsu duniawi, membuka ruang bagi energi spiritual dan cinta ilahi, serta menjadikan manusia “alat musik” yang hanya berbunyi indah bila kosong dari selain Allah.

Dengan demikian, dari Al-Hallaj, Rabiah, hingga Rumi, puasa spiritual tampil sebagai jalan asketis yang melampaui ritual fisik.

Puasa sendiri menjadi lanskap pengetahuan irfani yang menuntun jiwa menuju kedekatan dengan Tuhan.

Berikut catatan kritis berasal dari Idries Shah (1924–1996), salah satu figur penting yang memperkenalkan sufisme ke dunia Barat.

Di antara berbagai karyanya yang relevan dengan tema puasa dan jalan sufi adalah The Way of the Sufi, pertama kali terbit pada 1968.

Merujuk bukunya, The Way of the Sufi, diperkenalkan berbagai tarekat sufi klasik seperti Naqshbandi, Qadiri, dan Chishti dengan penekanan pada metode latihan spiritual mereka.

Shah menekankan bahwa jalan sufi tidak semata ritual, tetapi sebuah teknologi spiritual yang menuntun manusia dari transformasi fisik ke batin.

Ia mengutip kisah-kisah dan ajaran para guru sufi klasik, termasuk aspek puasa spiritual sebagai latihan pengendalian diri, pengosongan ego, dan persiapan menuju pengetahuan irfani.

Perspektif Shah bersifat modern. Ia berusaha menunjukkan bahwa praktik sufi, termasuk puasa, relevan dengan psikologi dan kebutuhan manusia kontemporer.

The Way of the Sufi bisa menjadi jembatan untuk menelaah secara kritis bagaimana puasa dipahami bukan hanya sebagai syariat, tetapi sebagai alat pedagogis untuk melatih kesadaran.

Karena itu, para sufi klasik seperti Al-Hallaj, Rabiah, dan Rumi, menekankan aspek cinta, fana, dan disiplin, sementara analisis Shah menekankan fungsi praktis sufisme dalam dunia modern.

Ada satu kutipan dari Shah dalam The Thinkers of the East (1971), “Bukanlah Sufisme jika ia tidak memenuhi fungsinya bagimu. Sebuah jubah bukan lagi jubah jika tidak menghangatkan seseorang.”

Dengan demikian, perspektif Idries Shah memperluas lanskap pembacaan, dari pengalaman mistik para sufi klasik menuju interpretasi modern yang menekankan relevansi sufisme sebagai jalan spiritual universal.

#coverlagu: Lagu “Selamat Datang Ramadhan” adalah salah satu karya religi grup legendaris Bimbo. Lagu ini pertama kali masuk dalam album Taqobbalalloohu Minna Waminkum yang dirilis tahun 2003 di bawah label Sony Music Entertainment Indonesia. Versi audio resminya kembali dipublikasikan secara digital pada 10 April 2022, sehingga bisa diakses di berbagai platform musik.(*)

 

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular