Tujuh Tahun Terase NU NEWS, Merawat Jembatan Informasi NU dari Ranting hingga Pusat

Logo Whatsapp Grup “Terase NU News”. (foto: Nonot S)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah perubahan cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi, sebuah grup WhatsApp yang berangkat dari lingkungan Nahdlatul Ulama bertahan hingga tujuh tahun. Bernama Terase NU NEWS, ruang komunikasi digital itu mencoba memperpendek jarak informasi antara warga NU di akar rumput dan dinamika organisasi di tingkat wilayah hingga pusat.

Terase NU NEWS mulanya merupakan ikhtiar sederhana untuk menyediakan ruang berbagi informasi mengenai kegiatan jam’iyah, khazanah keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah, serta pemikiran dan aktivitas para kiai dan warga nahdliyin.

Dalam perkembangannya, fungsi grup tersebut meluas. Informasi mengenai kegiatan badan otonom dan lembaga NU, kajian keislaman dan kitab kuning, pemikiran para kiai, hingga isu kebangsaan beredar dan diperbincangkan di dalamnya.

Pada saat bersamaan, informasi dari daerah juga memperoleh jalan untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Aktivitas kader di tingkat ranting dan pelosok desa dapat berada dalam ruang komunikasi yang sama dengan pengurus organisasi, akademisi, santri, tokoh masyarakat, hingga pejabat publik.

Karakter tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan Terase NU NEWS selama tujuh tahun. Platform yang sederhana dan akrab bagi masyarakat justru memungkinkan komunikasi berlangsung melampaui batas geografis maupun jenjang struktural organisasi.

Dalam pola komunikasi organisasi yang berjenjang, informasi dari pusat tidak selalu dapat diterima dengan cepat oleh warga di tingkat ranting dan anak ranting. Demikian pula sebaliknya, suara dan aktivitas dari bawah tidak selalu mudah memperoleh ruang hingga tingkat yang lebih tinggi.

Terase NU NEWS mencoba mengisi celah tersebut. Seorang penggerak NU di desa, misalnya, dapat membaca informasi mengenai kebijakan organisasi, kegiatan PBNU, ataupun pemikiran para kiai dalam waktu yang relatif bersamaan dengan pembaca di kota-kota besar.

Ruang Tabayyun di Tengah Banjir Informasi

Peran semacam itu memperoleh relevansi tersendiri ketika ruang digital semakin dipenuhi informasi yang datang tanpa jeda. Kemudahan memproduksi dan menyebarkan pesan juga membawa persoalan berupa hoaks, disinformasi, polarisasi politik, serta narasi keagamaan yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, Terase NU NEWS tidak hanya diarahkan sebagai papan pengumuman digital. Para pengelolanya berupaya menjadikannya sebagai ruang pertukaran informasi sekaligus dialektika di kalangan warga nahdliyin.

Konten yang beredar antara lain berita kegiatan lembaga dan badan otonom NU, kajian keislaman, pembahasan kitab kuning dalam konteks kekinian, literasi digital, serta kontra-narasi terhadap radikalisme. Prinsip tabayyun atau verifikasi informasi menjadi salah satu pijakan yang hendak dipertahankan dalam pengelolaan ruang tersebut.

Pilihan menggunakan WhatsApp juga membuat informasi relatif mudah menjangkau beragam kelompok. Petani di pedesaan, santri di pesantren, akademisi di perguruan tinggi, pengurus NU, hingga mereka yang berada di lingkungan pemerintahan dapat berada dalam ekosistem informasi yang sama.

Dengan cara itu, pesan mengenai Islam yang damai, toleransi, kebangsaan, dan kehidupan sosial yang menjadi bagian dari tradisi NU tidak hanya beredar melalui kanal komunikasi formal organisasi, tetapi juga bergerak secara organik melalui jejaring komunitas.

Dikelola Lintas Latar Belakang

Perjalanan tujuh tahun Terase NU NEWS juga ditopang para pengelola dengan latar belakang berbeda, mulai dari aktivis NU, seniman dan budayawan, jurnalis, pegiat pendidikan dan ekonomi, hingga tokoh politik dan pemerintahan.

Nonot Sukrasmono, yang dikenal sebagai Ki Nonot, merupakan pendiri sekaligus koordinator grup WhatsApp Terase NU NEWS. Seniman rupa, pelukis, budayawan, dan pendidik yang tinggal di Sidoarjo itu pernah memimpin Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Jawa Timur dan kini menjadi pembina PW Lesbumi NU Jawa Timur.

Nonot juga aktif di Dewan Kesenian Jawa Timur. Salah satu karya lukisnya pernah terjual Rp500 juta dan hasilnya didonasikan untuk pembangunan gedung. Sketsa yang dibuatnya juga pernah membantu melengkapi dokumentasi mengenai tokoh dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional, antara lain terkait Syaikhona Kholil Bangkalan. Di luar NU, ia juga berkegiatan dalam bidang sosial dan kebudayaan. Selain Terase NU NEWS, Nonot mendirikan dan mengoordinasikan grup WhatsApp Green Carpet News.

Pengelola lainnya, Paryono Nur Abdillah, telah lama berkecimpung dalam lingkungan NU Jawa Timur. Kiprahnya bermula dari IPNU Jawa Timur dan keterlibatannya dalam pembaruan Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU sejak 1996.

Selepas dari IPNU, Paryono membantu sejumlah lembaga di lingkungan NU, antara lain Lakpesdam, Sarbumusi, LPNU, serta Pusat Koperasi Syirkah Mu’awanah Jawa Timur. Ia juga pernah menangani administrasi Kartanu NU Jawa Timur, termasuk distribusi santunan bagi keluarga pemegang Kartanu yang meninggal dunia.

Paryono pernah dipercaya memimpin badan usaha perjalanan umrah yang dirintis PWNU Jawa Timur. Rencana tersebut tidak berlanjut setelah pandemi Covid-19. Saat ini ia masih terlibat membantu Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU Jawa Timur.

Nama lain adalah Marhaen Djumadi, yang pernah menjadi pengurus LPNU PWNU Jawa Timur dan Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ia juga dikenal sebagai pendiri lembaga bimbingan belajar, tokoh masyarakat, serta politikus PDI Perjuangan. Saat ini Marhaen menjabat Bupati Nganjuk.

Dari kalangan media terdapat Edy M Yakub, purna wartawan LKBN Antara sejak 2025. Pengalamannya bersinggungan panjang dengan perjalanan NU. Ia pernah meliput Muktamar NU di Kediri pada 1999 dan Muktamar NU di Jombang pada 2015. Pada Muktamar NU yang diselenggarakan di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 2026, Edy terlibat dalam kepanitiaan bidang publikasi.

Terase NU NEWS juga dikelola Ahmad Zazuli, atau Cak Jaz. Aktivis muda tersebut kini menjabat Ketua DPW Partai Perindo Jawa Timur. Sebelum memasuki politik praktis, ia tumbuh dalam lingkungan pesantren serta aktif di IPNU dan PW Lesbumi NU Jawa Timur. Aktivitasnya juga bersentuhan dengan gerakan mahasiswa, advokasi masyarakat kecil, dan penguatan ekonomi melalui sektor UMKM, petani, nelayan, serta pedagang kecil.

Sementara itu, Zaini Ilyas memiliki jejak panjang dalam aktivitas NU. Ia mulai berkegiatan di IPNU Cabang Pamekasan pada 1988 dan kemudian berada di PW IPNU pada 1991. Zaini tercatat berkegiatan di PW LTMI pada 2002-2012 dan PW LP Ma’arif NU sejak 2013. Ia juga pernah menjadi staf PWNU Jawa Timur pada 1988-2013.

Di luar aktivitas organisasi, Zaini berkegiatan dalam pengelolaan SD Al Islam Surabaya, TPQ Al Ihsan Mulyorejo, Surabaya, serta usaha rumah kos mahasiswa di sekitar Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Kampus C Universitas Airlangga.

Tantangan Baru Ruang Digital

Memasuki tahun ketujuh, tantangan yang dihadapi media komunitas seperti Terase NU NEWS berubah. Persoalannya bukan lagi sekadar seberapa cepat informasi dapat disebarkan, melainkan bagaimana menjaga kredibilitas ketika produksi informasi semakin mudah dan masif.

Kehadiran artificial intelligence atau akal imitasi (AI), perubahan algoritma platform digital, serta meningkatnya produksi konten sintetis membuat kemampuan memilah sumber dan memverifikasi informasi menjadi semakin penting.

Dalam konteks itu, pengalaman tujuh tahun Terase NU NEWS menunjukkan bahwa transformasi digital sebuah organisasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Platform komunikasi sehari-hari dapat memperoleh fungsi lebih luas ketika dibangun di atas jejaring sosial yang kuat dan dikelola secara konsisten.

Ruang digital tersebut mempertemukan dua arah komunikasi sekaligus yaitu informasi organisasi bergerak dari pusat menuju akar rumput, sementara aktivitas dan suara warga dari daerah memperoleh kesempatan bergerak ke arah sebaliknya.

Tujuh tahun bukan perjalanan yang panjang dibandingkan usia NU yang telah melampaui satu abad. Namun, bagi sebuah komunitas yang hidup di tengah cepatnya perubahan lanskap digital, keberlanjutan itu menjadi catatan tersendiri.

Terase NU NEWS kini menghadapi tantangan untuk menjaga apa yang sejak awal menjadi kekuatannya yaitu menjadi ruang berbagi informasi yang dekat dengan warga, mempertahankan tradisi tabayyun, serta menghubungkan percakapan nahdliyin dari pusat kekuasaan hingga ranting-ranting di pedesaan.(*)

Kontributor: Nonot S

Editor: Abdel Rafi