Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomeSosial BudayaTerkait Fatwa MUI Soal Salam Lintas Agama, Sosiolog: Toleransi Itu Menghormati Perbedaan...

Terkait Fatwa MUI Soal Salam Lintas Agama, Sosiolog: Toleransi Itu Menghormati Perbedaan Bukan Menyeragamkan!

ilustrasi. (foto: istimewa)

Surabaya, – Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mengeluarkan Fatwa larangan umat Islam untuk melakukan salam lintas agama. Tentu saja fatwa MUI tersebut memantik pro dan kontra di masyarakat. Menyoroti hal itu,

Menurut pakar sosiologi agama, Dr. Udji Asiyah, M.Si., fatwa MUI tersebut akan menjadi pemicu konflik jika didramatisir. Karena menurutnya, toleransi bukan menyeragamkan, tetapi membiarkan dan menghargai perbedaan.

“Toleransi sendiri merupakan bentuk sikap lapang dada dalam melihat perbedaan. Harusnya kita saling menghormati perbedaan, bukan malah memaksakan untuk sama. Jika demi toleransi, malah dipaksa seragam, ini malah aneh,” ujarnya pada media ini beberapa waktu lalu.

Menurut Udji penting melakukan edukasi pada masyarakat bahwa toleransi adalah menghargai dan menghormati perbedaan bukan menyeragamkan.

“Sebaiknya salam lintas agama dikembalikan pada pemeluk agama masing-masing dan saling menghormati perbedaan. Inilah toleransi. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi masyarakat agar tidak usah risau melihat perbedaan,” imbuh Udji.

Dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, Udji mengingatkan bahwa Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip yang menghargai perbedaan.

Pakar Sosiologi Agama FISIP Unair, Dr. Udji Asiyah, M.Si., (foto: dokumen pribadi)

“Mengutip dari Al-Qur’an Surah Al-Kafirun ayat enam, menyebutkan bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Kemudian, dalam Surah Al-Baqarah ayat 139 juga tertulis, bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu,” ungkapnya.

Padahal menurut Udji, Fatwa MUI muncul sebagai respon atas kebutuhan masyarakat dan bersifat anjuran. “Fatwa MUI ini sifatnya anjuran dan biasanya merupakan jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Pasalnya, fatwa yang dikeluarkan sebagai acuan internal umat Islam dalam menjalankan kehidupan dengan baik,” ulasnya.

Karena itulah, sekali lagi, menurut Udji, edukasi tentang moderasi beragama dan toleransi adalah kunci.

“Jangan pernah bosan memberikan edukasi kepada masyarakat untuk bisa menerima perbedaan sehingga bisa hidup berdampingan secara harmonis,” tegas Udji.

Sebagai contoh konkret, Udji menyoroti langkah Forum Perempuan Lintas Agama (FORPELITA) Jawa Timur yang telah menginisiasi ‘Salam Kerukunan’.

“Inisiatif ini adalah manifestasi toleransi yang sebenarnya,” pungkas dosen Sosiologi FISIP Unair itu.

(khefti/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular