
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Ribuan warga Dusun Mojosongo, Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, memadati area makam umum dusun setempat, Senin (15/6/2026) malam. Mereka berkumpul untuk mengikuti tradisi Sedekah Dusun sekaligus menyambut datangnya 1 Muharram 1449 Hijriah atau malam 1 Suro.
Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun itu menjadi momentum bagi warga untuk mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rezeki sekaligus mempererat tali persaudaraan antarsesama. Sedikitnya seribu warga hadir dalam kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah tersebut.
Rangkaian acara dimulai sejak pagi dengan khataman Al-Qur’an. Memasuki malam hari, warga dari berbagai kalangan terus berdatangan hingga memenuhi area makam yang menjadi pusat kegiatan. Usai salat Isya, acara dilanjutkan dengan tahlil kubra dan istigasah bersama yang diikuti masyarakat, tokoh agama, perangkat desa, serta unsur TNI dan Polri.
Sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat selama setahun terakhir, panitia menyiapkan lima gunungan berisi aneka hasil pertanian, sayur-mayur, jajanan tradisional, dan makanan khas warga. Gunungan tersebut menjadi bagian dari tradisi sedekah bumi yang masih lestari di tengah masyarakat Mojosongo.
Kepala Desa Balongbesuk Muhammad Saifur mengatakan, peringatan malam Suro tidak hanya menjadi sarana melestarikan tradisi budaya, tetapi juga momentum memperkuat kerukunan dan kebersamaan warga.
“Para pejuang yang dimakamkan di Dusun Mojosongo ini insya Allah bangga melihat kita semua tetap rukun, guyub, dan menjaga persaudaraan,” ujarnya dalam sambutan.
Nuansa perenungan juga mewarnai kegiatan tersebut. Mudin Desa Balongbesuk Dodik Susanto mengajak masyarakat untuk menjadikan malam Suro sebagai momentum mengingat hakikat kehidupan manusia.
“Ngilingi menawi panjenengan kalih kula badhe pejah,” tuturnya dalam bahasa Jawa yang berarti mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian.
Antusiasme warga terlihat tidak hanya saat pelaksanaan acara, tetapi juga sejak tahap persiapan. Panitia mencatat hampir seratus donatur ikut berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut. Dukungan datang dari tokoh masyarakat, perangkat desa, pelaku usaha lokal, hingga berbagai elemen lainnya yang secara sukarela menyisihkan sebagian rezekinya.
Ketua Panitia Abdul Rochman menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong masyarakat yang menjadi kekuatan utama terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Mugi sedekah panjenengan saged ketampi,” ujarnya seraya mendoakan seluruh donatur dan warga yang telah berkontribusi.
Memasuki penghujung acara, suasana berubah semakin meriah dengan digelarnya pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Dalang Ki Puryono membawakan lakon “Dewaruci”, kisah klasik yang sarat pesan moral tentang pencarian jati diri dan kebijaksanaan hidup.
Meski pertunjukan berlangsung hingga Selasa (16/6/2026) dini hari menjelang Subuh, ratusan penonton tetap bertahan menikmati setiap adegan yang disajikan. Bagi warga Mojosongo, wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.
Tradisi sedekah bumi, doa bersama, dan pagelaran wayang kulit pada malam Suro menjadi gambaran bagaimana masyarakat Mojosongo merawat warisan leluhur di tengah perubahan zaman. Melalui tradisi itu, nilai gotong royong, rasa syukur, dan kerukunan sosial terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(*)
Kontributor: Hari Prasetia
Editor: Abdel Rafi








