
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Derasnya arus informasi digital, krisis identitas, hingga rendahnya literasi keagamaan menjadi tantangan yang dihadapi pelajar putri di tengah perubahan zaman. Kondisi tersebut mendorong Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Jawa Timur memperkuat kaderisasi dai perempuan muda melalui kolaborasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Melalui penguatan program Madrasah Daiyah Pelajar, IPPNU Jatim ingin menyiapkan generasi pelajar putri yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kecakapan berdakwah di ruang digital.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua PW IPPNU Jawa Timur, Aprilia Nur Azizah, dalam silaturahmi bersama MUI Jawa Timur di Surabaya, Kamis (8/10/2026).
Menurut Aprilia, tantangan yang dihadapi pelajar putri saat ini tidak hanya berkaitan dengan derasnya informasi yang mereka terima, tetapi juga kemampuan memilah, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai agama di tengah perubahan zaman.
“Pelajar putri hari ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Mulai dari derasnya informasi digital, krisis identitas, rendahnya literasi keagamaan, hingga bagaimana mereka memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama di tengah perubahan zaman,” ujar Aprilia.
Ia menilai, pembinaan keagamaan bagi generasi muda perlu dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar. Dakwah harus mampu menjangkau ruang interaksi yang mereka gunakan, termasuk media digital, dengan cara yang komunikatif dan kontekstual.
Atas dasar itu, IPPNU Jatim menawarkan penguatan Madrasah Daiyah Pelajar sebagai ruang kaderisasi yang tidak sekadar melatih keterampilan berceramah. Program tersebut diarahkan untuk membentuk pelajar putri yang berilmu, berakhlak, komunikatif, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Madrasah Daiyah Pelajar yang ditawarkan IPPNU Jatim tidak dirancang sebatas pelatihan ceramah, namun diarahkan sebagai ruang pembentukan kader pelajar putri yang berilmu, berakhlak, komunikatif, memiliki jiwa kepemimpinan, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi,” katanya.
Materi yang disiapkan meliputi Aswaja, public speaking, dakwah digital, psikologi remaja, kepemimpinan, komunikasi, dan aksi sosial.
“Program ini kami siapkan untuk membentuk pelajar putri yang berilmu, berakhlak, mampu berdakwah, komunikatif, dan adaptif terhadap perkembangan digital. Tidak hanya belajar ceramah,” jelas Aprilia.
Melalui program tersebut, kader daiyah pelajar diharapkan tidak berhenti pada kemampuan berbicara di depan publik. Mereka juga diharapkan mampu memahami persoalan remaja, menyampaikan nilai-nilai keislaman secara santun, serta menghadirkan solusi dan keteladanan di lingkungan masing-masing.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, IPPNU Jatim membuka ruang kolaborasi strategis dengan MUI Jawa Timur. Aprilia menyebut organisasi yang dipimpinnya memiliki tiga kekuatan utama untuk mengembangkan program, yakni basis organisasi, kader, dan jaringan.
Basis IPPNU berada dekat dengan pelajar di sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi. Kedekatan tersebut diperkuat melalui proses kaderisasi dan jaringan organisasi yang menjangkau tingkat daerah hingga akar rumput.
Di sisi lain, MUI Jawa Timur memiliki kekuatan keilmuan dan jejaring ulama yang dinilai dapat memperkuat substansi pembinaan keagamaan bagi pelajar putri.
“IPPNU memiliki basis dan kader pelajar, sementara MUI memiliki kekuatan keilmuan dan jejaring ulama. Kami berharap keduanya dapat dipertemukan untuk memperkuat pembinaan generasi muda,” kata Aprilia.
Kolaborasi yang diharapkan mencakup penguatan materi keislaman, keterlibatan narasumber dan mentor dari MUI, pembinaan dai pelajar, pengembangan literasi keagamaan dan dakwah digital, serta pelaksanaan kegiatan dakwah dan sosial bersama.
Bagi IPPNU, sinergi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem pelajar putri Jawa Timur yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas keilmuan, karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
MUI: Pembinaan Harus Dilandasi Keikhlasan
Menanggapi tawaran IPPNU Jatim, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur Prof. Dr. H. Thohir Luth, M.A. menyampaikan bahwa perjuangan membina generasi muda harus dilandasi keikhlasan dan kasih sayang kepada Allah SWT.
“Apa pun yang kita lakukan, di mana pun kita berada, semuanya adalah bagian dari kasih sayang Allah. Karena itu, teruslah melanjutkan perjuangan sampai kapan pun,” tuturnya.
Menurut Thohir, pembinaan generasi putri perlu dilakukan sejak dini. Mereka kelak akan tumbuh menjadi perempuan dewasa yang mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat. Karena itu, bekal agama, ilmu pengetahuan, karakter, dan keberanian untuk berbuat baik perlu ditanamkan sejak masa pelajar.
“Putri-putri kita pada saatnya akan tumbuh menjadi perempuan dewasa. Mereka akan keluar dari rumah, hadir di tengah masyarakat, dan mengambil peran di jalan kehidupan. Karena itu, sejak sekarang mereka harus dibekali dengan nilai-nilai agama, ilmu pengetahuan, karakter, dan keberanian untuk berbuat baik,” ujarnya.
Thohir juga menekankan bahwa pendidikan dan pembinaan tidak boleh hanya berorientasi pada kebaikan untuk diri sendiri. Generasi muda perlu didorong untuk membagikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.
“Tugas kita hari ini bukan hanya mendapatkan kebaikan, tetapi juga membagikan kebaikan kepada masyarakat,” tegas Thohir.
Sementara itu, Sekretaris MUI Jawa Timur Dr. H. M. Hasan Ubaidillah, S.HI., M.Si. menilai pendidikan merupakan bagian dari perjalanan untuk terus berkembang. Menurutnya, berbagai keterbatasan dan tantangan tidak boleh menjadi alasan bagi generasi muda untuk berhenti melangkah.
“Jangan sampai berbagai kondisi yang ada membuat kita putus asa atau merasa tidak mampu untuk maju. Hal inilah yang perlu dipegang bersama: jangan berhenti, jangan menyerah, dan jangan kehilangan harapan,” katanya.
Ia menilai pendidikan bukan sekadar memberikan pengetahuan, melainkan juga membangun keyakinan, membentuk karakter, dan menumbuhkan keberanian untuk terus berkembang.
Silaturahmi PW IPPNU Jawa Timur dengan MUI Jatim tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi terbangunnya kerja sama konkret dalam pembinaan generasi muda. Penguatan Madrasah Daiyah Pelajar diharapkan mampu menghubungkan kapasitas organisasi dan kader IPPNU dengan dukungan keilmuan serta jejaring ulama MUI.
Bagi IPPNU, tantangan era digital tidak cukup dijawab dengan membatasi akses generasi muda terhadap informasi. Pelajar putri juga perlu dibekali kemampuan memahami persoalan, menyampaikan pesan keagamaan secara bijak, serta menghadirkan kontribusi positif di lingkungan sosialnya.
Aprilia menegaskan, pelajar putri harus dipersiapkan menjadi pelaku aktif dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan menggerakkan kebaikan di tengah masyarakat.
“Bagi IPPNU, pelajar putri bukan hanya objek pembinaan. Mereka adalah kader masa depan yang harus dipersiapkan menjadi subjek yang mampu membawa nilai Islam, menggerakkan kebaikan, dan mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman. Semoga dari silaturahmi ini lahir kerja sama yang konkret untuk membina generasi muda Jawa Timur,” pungkas Aprilia.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








