Wednesday, January 14, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomSaat Jenazah Menyapa di Haram: Shutdown Amal, Startup Akhirat

Saat Jenazah Menyapa di Haram: Shutdown Amal, Startup Akhirat

Di depan Ka’bah, mereka seolah berbisik, “Kami sudah selesai, bagaimana denganmu?”. (foto: firman arifin)

Selama dua kali umrah pada 2013 dan 2017, saya dan istri belum pernah secara langsung menyaksikan jenazah yang akan disalatkan di Masjidil Haram. Namun, haji tahun ini Haji 2025, menjadi momen istimewa. Allah izinkan kami menyaksikan pemandangan yang begitu menggugah: beberapa jenazah terbujur di dekat Ka’bah, menanti salat jenazah.

Kami datang lebih awal sebelum waktu salat. Dengan langkah perlahan, kami menapaki lantai 2 jalur tawaf, dan di sanalah kami melihatnya, terbalut tenang. Beberapa jenazah disiapkan, diam di hadapan Ka’bah, seolah berkata: “Aku telah selesai, selanjutnya giliranmu.

Kehidupan: Dari Terminal ke Terminal

Kehidupan ini seperti perjalanan panjang dengan berbagai terminal. Rumah adalah terminal awal. Sekolah, kampus, dan pekerjaan adalah stasiun antara. Masjidil Haram, tempat jenazah ini terbaring, adalah terminal akhir dunia dan gerbang menuju akhirat.

Ketika “kereta hidup” berhenti, apakah bekal kita cukup? Apakah kita pernah melayani sesama penumpang dengan baik? Atau justru sibuk menumpuk barang tanpa pernah berbagi?

Kemabruran Bukan Hanya Soal Ritual

Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)

Maka kemabruran bukan hanya tentang berapa banyak sujud dan dzikir, tapi sejauh mana manfaat kita terasa oleh lingkungan sekitar. Ibadah ritual harus melahirkan ibadah sosial yang nyata.

Shutdown yang Bersih dan Terhormat

Sebagai seorang teknolog, saya merenung, sistem yang baik bukan hanya yang bekerja optimal saat hidup. Tapi juga tahu kapan dan bagaimana “mematikan” dirinya dengan bersih dan teratur.

Begitulah jenazah itu. Ia terbaring dalam graceful shutdown. Tak meninggalkan limbah dosa, tak menimbulkan kerusakan sosial, bahkan kepergiannya menjadi pelajaran dan pengingat.

Allah berfirman:
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Penyesalan yang Terlambat

Sebab kita tak tahu kapan akan dibaringkan seperti itu. Diam, tanpa suara, hanya amal yang bicara. Tak ada lagi waktu untuk memperbaiki portofolio amal kita. Bahkan Allah gambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana penyesalan itu muncul begitu ruh telah sampai ke batas.

Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.”
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Penyesalan itu datang bukan karena kurangnya harta atau belum naik haji kedua kalinya. Tapi karena sedekah tertunda, amal sosial yang belum sempat dikerjakan, dan waktu yang telah habis tanpa makna untuk sesama.

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menekankan bahwa penyesalan terbesar setelah wafat bukan karena belum kaya, belum terkenal, atau belum naik haji ke sekian kali. Tapi karena kesempatan untuk bersedekah dan beramal saleh sudah tertutup. Dan penyesalan itu sia-sia, karena waktu tak bisa diputar kembali.

Oleh-Oleh dari Haji: Rasa, Bukan Hanya Barang

Kemabruran sejati bukan hanya rapi dalam ritual, tapi juga matang dalam sosial. Yang pulang dari haji bukan hanya membawa oleh-oleh, tapi juga oleh-rasa. Lebih sabar, lebih peka, lebih jujur, lebih berguna.

Maka sebelum waktu itu tiba, mari hidupkan makna hidup. Menyembah Allah dengan ikhlas, dan melayani sesama dengan sepenuh cinta.

Semoga Allah karuniakan kita akhir yang baik. Akhir yang seperti mereka yang kami saksikan pagi itu. Tertata, bersih, dan dalam pelukan Ka’bah, rumah-Nya yang penuh berkah.

FIRMAN ARIFIN
Dosen PENS, Jamaah Haji 2025 Kloter 92 Nurul Hayat

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular