Friday, February 27, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (9): Memuasakan Gen Egois

Esai Ramadan (9): Memuasakan Gen Egois

(foto: #credit foto diunggah dari kanal Youtube How Fasting Influences Your Genes Dr : Bergas)

“Kita adalah mesin bertahan hidup – kendaraan robot yang diprogram secara membabi buta untuk melestarikan molekul-molekul egois yang dikenal sebagai gen.” — Richard Dawkins (84) dalam The Selfish Gene(1976)

Puasa sering dipandang sebagai praktik spiritual yang menuntun manusia menuju peningkatan kesadaran dan kedekatan dengan Tuhan.

Namun, bila ditilik lebih dalam, puasa juga menyentuh lapisan evolusi kejiwaan manusia.

Di titikan ini, kita bisa melihat bagaimana struktur jiwa yang digambarkan oleh dua tokoh besar yaitu Al Ghazali pada abad ke-12 dan Sigmund Freud pada abad ke-20, menawarkan kerangka untuk memahami dinamika pemuasan diri dan pengendalian nafsu.

Al Ghazali, dalam Mundhiq min al-Dalal (Bebas dari Kesesatan), membagi jiwa ke dalam tiga kategori yaitu al-lawamah, al-ammarah, dan al-mutmainah.

Salah satu terjemahan yang cukup dikenal “Pembebas dari Kesesatan” (2024), Al-Ghazali menuliskan biografi intelektual dan spiritualnya, sekaligus menguraikan derajat jiwa manusia.

Ia membagi jiwa ke dalam tiga tingkatan utama:

1. An-nafs al-lawwāmah:
Jiwa yang penuh dorongan nafsu, sering menyesali diri, tetapi masih terikat pada pemuasan hasrat.

2. An-nafs al-ammārah:
Jiwa yang lebih kuat dalam menuntut pemuasan diri, cenderung mendorong manusia pada keburukan bila tidak dikendalikan.

3. An-nafs al-mutma’innah:
Jiwa yang tenang, stabil, dan mencapai kedamaian batin.

Inilah derajat tertinggi yang disebut dalam Al-Qur’an, surah Al-Fajr (89: 27-28), “Yā ayyuhannafsul mutma’innah, irji’ī ilā rabbiki rādhiyatan mardhiyyah.”

Artinya: Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridha dan diridhai.”

Dengan kata lain, pada derajat paling rendah, an-nafs al-lawamah adalah jiwa yang cenderung menuruti dorongan nafsu, mencari kepuasan instan.

Lebih jauh, al-ammarah adalah jiwa yang lebih kuat dalam menuntut pemuasan diri, bahkan bisa menjerumuskan manusia bila tidak dikendalikan.

Puncaknya adalah an-nafs al-mutmainah, jiwa yang tenang, stabil, dan mencapai kedamaian batin seperti dikutip dari surah Al-Fajr.

Sementara itu, Sigmund Freud, dokter dan psikolog, dalam Pengantar Psikoanalisis (terjemahan 2000) membagi jiwa ke dalam tiga struktur yaitu id, ego, dan superego.

Id adalah dorongan primitif, sumber hasrat yang menuntut pemuasan tanpa kompromi.

Ego berperan sebagai mediator, berusaha menyalurkan dorongan id dengan cara yang realistis.

Sedangkan superego adalah suara moral, norma, dan nilai yang mengendalikan ego agar tidak semata-mata tunduk pada id.

Dengan demikian, superego menjadi semacam pengendali yang menuntun ego menuju keseimbangan.

Jika pandangan Al Ghazali dan Freud disandingkan, terlihat bahwa keduanya sama-sama menekankan adanya lapisan jiwa yang berorientasi pada pemuasan diri, sekaligus lapisan yang lebih tinggi yang berfungsi sebagai pengendali.

Puasa, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai latihan spiritual sekaligus psikologis untuk menekan dominasi id atau nafs al-ammarah, dan mengarahkan manusia pada pencapaian superego atau nafs al-mutmainah.

Richard Dawkins, profesor emeritus di Universitas Oxford dan memegang jabatan sebagai Simonyi Professor for the Public Understanding of Science (1995–2008). dalam The Selfish Gene (1976), menambahkan perspektif evolusioner.

Ia menekankan bahwa gen bekerja sebagai replikator egois yang berusaha mempertahankan diri melalui mekanisme biologis yang canggih.

Namun, Dawkins juga memperkenalkan konsep meme yaitu unit budaya yang bereplikasi seperti gen. Dikutip ia mengatakan, “Mari kita coba mengajarkan kemurahan hati dan altruisme, karena kita dilahirkan dengan sifat egois. Mari kita pahami apa yang sedang direncanakan oleh gen egois kita sendiri, karena dengan begitu setidaknya kita mungkin memiliki kesempatan untuk menggagalkan rencana mereka, sesuatu yang belum pernah dicita-citakan oleh spesies lain.”

Dengan demikian, The Selfish Gene menggeser fokus evolusi dari organisme ke gen, sekaligus membuka ruang diskusi tentang bagaimana manusia bisa melampaui determinisme biologis melalui budaya dan kesadaran.

Puasa sendiri, bila dilihat dari sudut ini, bisa dianggap sebagai meme budaya yang diwariskan, berfungsi sebagai mekanisme sosial dan spiritual untuk mengendalikan “gen egois” dalam diri manusia.

Dengan kata lain, puasa bukan hanya ritual, tetapi juga strategi evolusi kejiwaan yang menyeimbangkan dorongan biologis dengan nilai spiritual.

Karena itu, puasa menjadi arena di mana tiga lapisan jiwa, baik menurut Al Ghazali maupun Freud, berinteraksi dengan “gen egois” ala Dawkins.

Ia menuntun manusia untuk tidak sekadar menekan dorongan primitif, tetapi juga mengolahnya menjadi energi yang mengangkat jiwa ke derajat tertinggi yaitu jiwa yang tenang, damai, dan selaras dengan tujuan spiritual.

#coverlagu: Lagu “Sang Guru” adalah karya Panji Sakti (49), penyanyi dan penulis asal Bandung dan bermukim di Malaysia. Lagu ini pertama kali dirilis sekitar tahun 2020, kemudian kembali dipublikasikan dalam format resmi audio oleh Sony Music Entertainment Indonesia pada 7 Desember 2024.

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular