Saturday, February 28, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (10): Mistisisme Puasa

Esai Ramadan (10): Mistisisme Puasa

(foto:diunggah dari kanal Youtube What is Sufism? Let’s Talk Religion)

“Apa yang disebut dunia, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, sebagai ‘mistisisme’ adalah ilmu tentang hal-hal yang paling mendasar, ilmu tentang Realitas yang terbukti dengan sendirinya, yang tidak dapat dipikirkan secara rasional, karena itu adalah objek akal atau persepsi murni.” — Evelyn Underhill (1875-1941) dalam Mysticism: A Study in the Nature and Development of Spiritual Consciousness (1960)

Puasa, terutama di bulan Ramadan, sering dipahami sebagai ibadah yang menuntun manusia menuju kesucian spiritual.

Namun, bila dilihat dari perspektif mistisisme, puasa juga merupakan jalan „untuk menyangkal dunia agar dunia dapat menemukan kenyataan,” sebagaimana dikutip dari Evelyn Underhill dalam Mysticism.

Mistis di sini bukan sekadar pengalaman gaib, melainkan keadaan batin di mana manusia melepaskan keterikatan duniawi demi menemukan hakikat terdalam dari eksistensi.

Dengan kata lain, Underhill menandaskan bahwa mistisisme bukan sekadar pengalaman emosional atau keagamaan, melainkan sebuah “ilmu tentang yang terakhir” (science of ultimates).

Ilmu ini dimaksud sebagai pencarian langsung terhadap realitas terdalam yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa, melainkan dialami secara langsung oleh kesadaran spiritual.

Acuan pertama, Reynold A. Nicholson (1868-1945), seorang orientalis Inggris dan pakar sastra Arab-Persia, menghabiskan lebih dari dua dekade mendalami tradisi sufisme.

Dalam The Mystics of Islam (edisi Indigo, 2002), ia menjelaskan bahwa mistisisme Islam memiliki etape yang berlapis.

Nicholson merinci mulai dari tarikat sebagai jalan spiritual, menuju iluminasi, hingga mencapai ma‘rifat (gnosis) dan cinta ilahi (divine love).

Puasa, dalam perspektif ini, dapat dipandang sebagai salah satu disiplin yang membuka jalan menuju iluminasi dan ma‘rifat.

Karenanya, ia menekan dorongan nafsu (bi su’i) dan membuka ruang bagi pengalaman batin yang lebih tinggi (al nafs al mutmainah).

Berikut, Annemarie Schimmel (1922-2003), seorang orientalis Jerman yang aktif kala itu sebagai profesor kajian Islam di Harvard dan Bonn, dalam Dimensi Mistik dalam Islam (Firdaus 2000) merumuskan empat etape perjalanan mistikus yaitu via contemplativa, iluminativa, negationis, dan purgotiva.

Puasa dapat ditempatkan dalam fase negationis, yakni penyangkalan terhadap dunia dan diri, yang kemudian membuka jalan menuju purgotiva (penyucian jiwa).

Dengan demikian, puasa bukan hanya ritual, melainkan proses mistis yang menuntun manusia melewati tahapan dan fase kontemplasi, iluminasi, penyangkalan (negasi), hingga penyucian (purgatori).

Lebih lanjut, Michael A. Sells (76),seorang ahli sejarah dan sastra Islam asal Amerika dan John Henry Barrows Professor of Islamic History and Literature di Divinity School, Universitas Chicago, dalam pengantar Early Islamic Mysticism (1996), menegaskan bahwa tasawuf/sufisme adalah salah satu tradisi spiritual paling luas dikenal dalam sejarah agama-agama.

Berpijak pada Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad, kecenderungan mistik kaum Muslim telah memainkan peran penting dalam perkembangan pribadi maupun kolektif selama lebih dari satu milenium.

Puasa, sebagai salah satu praktik utama dalam Islam, menjadi bagian dari tradisi mistik ini. Ia bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan spiritual untuk menyeimbangkan tubuh, jiwa, dan kesadaran.

Dengan demikian, mistisisme puasa dapat dipahami sebagai jalan untuk menyingkap realitas terdalam dan tinggi.

Ia menekan dorongan duniawi, membuka ruang bagi iluminasi, dan menuntun jiwa menuju ketenangan serta kedekatan dengan Tuhan.

Dalam perspektif Underhill, Nicholson, Schimmel, dan Sells, puasa adalah jembatan antara dunia yang disangkal dan kenyataan yang ditemukan.

Boleh disebut, sebuah perjalanan mistis yang menempatkan manusia dalam lingkaran spiritualitas universal dan tinggi.

#coversongs: Lagu “Zikrullah” oleh Rao Brothers dirilis pada tahun 2024 dan merupakan Urdu–Sufi, dengan nuansa dzikir dan pujian kepada Allah. Rao Brothers dikenal sebagai grup pembaca nasheed(nasyid) yang populer di Asia Selatan, dan “Zikrullah” menjadi salah satu karya mereka yang menekankan spiritualitas melalui musik.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular