Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.600, Ekonom Ingatkan Tekanan Belum Berakhir

Guru Besar Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, dalam ilustrasi berita.
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada pertengahan Mei 2026. Pelemahan tersebut dinilai belum mencapai titik akhir karena tekanan global masih membayangi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Guru Besar Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan bahwa gejolak eksternal masih menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Menurut dia, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga Amerika Serikat membuat arus modal global bergerak keluar dari negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.

“Tekanan terhadap rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi faktor global. Karena itu, pelemahan belum tentu berhenti dalam waktu dekat,” ujarnya dalam keterangannya pada media ini.

Rahma menjelaskan, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi jalur perdagangan di Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi itu memberi tekanan tambahan bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor energi dalam jumlah besar.

Akibatnya, kebutuhan dolar AS untuk impor minyak meningkat dan memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Menurut Rahma, faktor global saat ini menyumbang sekitar 70% hingga 80% terhadap gejolak rupiah. Sementara faktor domestik lebih berperan memperkuat tekanan yang datang dari luar.

Selain konflik geopolitik, tingginya inflasi di Amerika Serikat dan ekspektasi suku bunga acuan The Fed yang tetap tinggi turut memicu keluarnya dana asing dari pasar domestik.

Pasar, kata dia, juga mulai mencermati kondisi fiskal Indonesia, terutama terkait pelebaran defisit APBN akibat subsidi energi serta meningkatnya kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri pada triwulan II tahun 2026.

“Pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Ketika ada keraguan terhadap disiplin fiskal, tekanan terhadap rupiah bisa menjadi lebih berat,” kata Rahma.

Di tengah situasi tersebut, Bank Indonesia dinilai masih memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasar. Rahma menyebut langkah intervensi melalui instrumen swap, forward, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) cukup efektif untuk meredam kepanikan pasar.

“Intervensi BI bukan untuk membuat rupiah langsung menguat drastis, melainkan menjaga pasar tetap terkendali dan mencegah kepanikan,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa stabilitas rupiah dalam jangka panjang tidak cukup hanya ditopang intervensi di pasar valuta asing. Penguatan sektor riil dan peningkatan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) menjadi faktor penting untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional.

“Nilai tukar yang kuat lahir dari ekonomi yang produktif. Jika sektor riil kuat, rupiah juga akan lebih tahan menghadapi tekanan global,” katanya.(*)

Kontributor: Maia Ch 

Editor: Abdel Rafi