Berita Terpercaya Tajam Terkini

Puluhan Paus Terdampar di Pantai Modung Madura, Ini Penjelasan Lengkap Dari Dokter Hewan

0
drh. Wahyu Hidayat,M.Sc., saat berada di salah satu kandang binatang yang menjadi keahliannya.

SURABAYA – Fenomena terdamparnya puluhan paus di bibir Pantai Modung, Bangkalan, Madura sejak Kamis(19/2/2021) membuat masyarakat bertanya-tanya hingga menimbulkan banyak spekulasi. Berikut wawancara redaksi cakrawarta.com (Red) dengan seorang praktisi dokter hewan alumnus Universitas Airlangga Surabaya, drh. Wahyu Hidayat, M.Sc. (WH).

Red: Bagaimana anda sebagai praktisi dokter hewan menjelaskan fenomena terdamparnya paus di Pantai Modung, Bangkalan Madura yang sedang viral ini?

WH: Kasus hewan perairan untuk ikan ukuran besar yang terdampar di pesisir pantai dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya pasang naik atau surut diikuti dengan arah angin yang tidak menentu; terdapat banyak predator atau ancaman sehingga arah mencari makanan bergeser ke daratan hingga faktor sampah dan limbah perairan.

Berdasarkan informasi tim rescue di lapangan, jenis Paus yang ditemukan yakni short-pinned pilot whale. Secara umum, paus jenis ini terbiasa hidup berkoloni di perairan secara terbuka, sehingga apabila sebagian dari anggota koloni bergeser menuju daratan perairan, maka besar kemungkinan koloni lain akan ikut terdampar. Paus memiliki sonar sebagai navigator dalam berkomunikasi antar koloni. Karena ketersediaan makanan tidak menentu atau faktor-faktor tertentu di atas, sehingga menyebabkan paus berenang menuju pesisir. Sonar yang berfungsi dengan baik kemudian diikuti dengan sinyal untuk memanggil koloni-koloni lainnya. Disaat yang bersamaan, kejadian air surut juga mulai terjadi di perairan tersebut.

Air surut ini kemudian diikuti dengan ketidakmampuan paus untuk kembali ke laut. Tingginya suhu di luar seperti panasnya sinar matahari ditambah dengan kondisi paus yang mengalami dehidrasi, sehingga memperburuk keadaan dan memicu kematian akibat kehabisan energi.

Fenomena ini bisa terbilang fenomena yang umum. Kasus serupa juga sering terjadi di pantai-pantai besar lainnya seperti Pesisir Pantai Utara Probolinggo (2016; 32 ekor), Perairan wakatobi (2018), Pantai Aceh (2017; 10 ekor), Pantai Menia (2019; 17 ekor) dan lain sebagainya. Begitu pula di tingkat internasional seperti Selandia Baru (2017; 416 ekor), Australia (2020; 290 ekor), dan negara-negara lainnya.

Red: Apakah pendapat anda tentang isu yang viral bahwa fenomena ini menjadi tanda alam akan terjadinya tsunami misalnya?

WH: Mengenai adanya isu tanda-tanda tsunami atau hal lain sebagainya sejauh ini belum bisa saya pribadi berikan analisis karena menyangkut terhadap siklus alam. Ada baiknya menunggu analisis dari BMKG atau kelembagaan resmi yang lebih kredibel. Daripada kita berasumsi yang dapat menimbulkan keresahan bagi publik. Jadi ada baiknya kita tunggu jawaban resmi dari lembaga terkait yang kredibel tadi.

Red: Apakah anda memiliki pesan kepada masyarakat terkait fenomena seperti ini?

WH: Menurut saya, ada baiknya menunggu analisis dari autopsi yang dilakukan tim dokter hewan dan lembaga setempat. Hasil autopsi ini bisa dilihat apakah paus tertelan sampah plastik, luka ditimbulkan umum, atau hal-hal lain yang ada kaitannya dengan kesehatan paus itu sendiri.

Penanganan oleh masyarakat apabila menemukan tragedi seperti ini adalah segera melakukan kontak terhadap tim rescue perairan.

Sambil menunggu, masyarakat bisa menjaga kondisi dan suhu tubuh paus tetap stabil dengan menyiramkan air sekujur tubuhnya. Hal ini hanya bisa dilakukan sesuai instruksi tim rescue yang ada apabila dinilai perjalanan terlalu banyak menghabiskan waktu. Selain itu, ke depan harusnya masyarakat tidak bergerombol mengelilingi paus untuk mencegah ledakan organ di dalam perut akibat tekanan udara yang tinggi. Menjaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Namun, hal ini juga harus tetap memperhatikan protokol-protokol keselamatan emergency yang ada di tiap-tiap wilayah.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.