
BLITAR, CAKRAWARTA.com – Sedikitnya 60 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kota Blitar mengikuti workshop teknik penulisan buku yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat, sejak Rabu (15/4/2026) hingga hari ini, Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini diikuti guru dari berbagai jenjang, mulai PAUD hingga SMA dan SMK.
Workshop menghadirkan narasumber Prof. (HC) Dr. Muhammad Nur Alam Fajar Syam. Para peserta dibekali keterampilan dasar hingga teknis dalam menyusun buku berstandar ISBN (International Standard Book Number).
Kepala Kemenag Kota Blitar, Dr. H. Mohammad Kanzul Fathon, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi di kalangan guru. Menurut dia, kemampuan menulis tidak hanya penting untuk pengembangan diri, tetapi juga sebagai kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.
“Guru tidak cukup hanya mengajar di kelas, tetapi juga perlu menuliskan gagasan dan pengalaman pembelajaran agar dapat memberi manfaat lebih luas,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Ia berharap pengalaman dan praktik yang dibagikan narasumber dapat mendorong lahirnya karya tulis dari para guru. Potensi tersebut dinilai besar karena guru sehari-hari bergelut dengan proses pembelajaran yang kaya akan ide dan inovasi.
“Dengan keterampilan menulis yang baik, guru dapat menghasilkan karya ilmiah maupun buku yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Kanzul.
Kepala Perpustakaan Bung Karno Blitar, Nurny Syam, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai keberadaan penulis dari kalangan guru sangat penting untuk memperkaya khazanah literatur pendidikan, terutama yang berbasis nilai keagamaan dan kearifan lokal.
“Kita masih kekurangan penulis produktif. Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk mendorong lahirnya penulis baru,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Alam menekankan bahwa menulis bukanlah hal yang sulit jika memahami tekniknya. Ia memperkenalkan “Metode Alam”, yakni Ajaib waktunya, Lugas materinya, Asyik belajarnya, dan Mudah metodenya.
“Menulis itu bisa dipelajari. Bahkan dalam waktu singkat, seseorang bisa mulai menghasilkan karya,” ujarnya.
Ia juga membagikan langkah praktis, mulai dari menemukan ide, menyusun kerangka tulisan, hingga menjaga konsistensi dalam menyelesaikan naskah. Para peserta didorong untuk tidak ragu memulai.
“Setiap tulisan besar selalu berawal dari langkah kecil,” katanya.
Selain pemaparan materi, workshop juga diisi dengan sesi diskusi dan praktik langsung. Peserta menyusun draf tulisan yang diarahkan untuk dikembangkan menjadi buku ber-ISBN.
Dengan pendampingan intensif, para guru mengikuti kegiatan secara serius. Antusiasme terlihat dari upaya peserta dalam merancang karya tulis yang diharapkan dapat segera diterbitkan.(*)
Kontributor: Mukani
Editor: Abdel Rafi


