Wednesday, February 21, 2024
HomeSains TeknologiKesehatanPercepat Penanggulangan TBC, Dinkes Jatim Kolaborasi Dengan Perguruan Tinggi Skrining Masyarakat Pesantren

Percepat Penanggulangan TBC, Dinkes Jatim Kolaborasi Dengan Perguruan Tinggi Skrining Masyarakat Pesantren

Tim Dinkes Jatim bersama FKM Unair dan Stikes Kepanjen saat melakukan skrining penyakit TBC di Pondok Pesantren Enterpreneur Muhammadiyah, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Selasa (21/11/2023). (foto: laura/cakrawarta)

MALANG – “Upaya dalam penanggulangan penyakit tuberculosis (TBC) di Indonesia sudah seharusnya menjadi upaya kolektif dan sinergis bersama semua pihak, dan tidak hanya tanggung jawab pemerintah. Melibatkan semua elemen masyarakat akan mempercepat penurunan angka kasus. Dengan penemuan kasus akan mempermudah dan mempercepat penanganan sehingga dampaknya kasus dapat ditangani dan ditekan,” ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraeni, M.Kes., pada media ini, Rabu (22/11/2023).

Menurut Sulvy, kesadaran masyarakat tentang pentingnya diagnosis dini TBC ini perlu ditingkatkan mengingat angka prevalensi TBC di Indonesia saat ini cukup tinggi dan berada di posisi ke dua setelah India.

“Kenyataan ini menjadikan kita perlu lebih fokus dalam pencegahan persebaran penyakit TBC ini. Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dengan mrmbuat strategi nasional Eliminasi TBC di Indonesia yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. Ada 6 strategi diantaranya ada 2 strategi yang membutuhkan dukungan Perguruan Tinggi yaitu Peningkatan penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang Penanggulangan TBC serta peningkatan peran serta komunitas, pemangku kepentingan dan multisektor lainnya dalam penanggulangan TBC,” papar Sulvy.

Karenanya, Sulvy menekankan betapa pentingnya semua pihak dan daerah untuk mengambil peran dalam pengendalian kasus TBC di wilayahnya masing-masing, termasuk Jawa Timur.

“Aksi nyata telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Jawa Timur dengan adanya kolaborasi selama ini antara Dinas Kesehatan Jawa Timur dan beberapa Perguruan Tinggi di area Jawa Timur. Harapan dukungan Perguruan Tinggi dalam penanggulangan TBC ini tentunya mencakup semua kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat,” tukas Sulvy.

Namun, menurutnya, pemahaman masyarakat khususnya di Jawa Timur terkait TBC ini masih dinilai sangat kurang khususnya tentang apa itu dan bagaimana penyakit TBC.

“Persebaran TBC yang cukup cepat, sama halnya dengan Covid-19 yang dapat menyebar dengan cepat melalui udara dan pada area yang padat penduduk, perlu disadari oleh masyarakat,” pesannya.

Dinkes Jatim Bersama Unair Dan Stikes Kepanjen Lakukan Skrining di Pesantren

Sulvy menambahkan bahwa penemuan kasus secara aktif di masyarakat dengan melakukan skrining gejala TBC menjadi kunci dalam penanggulangan kasus TBC termasuk lingkungan interaksi sosial pada kelompok anak misalkan di sekolah, kampus, pondok pesantren dan sebagainya.

Karena itulah, pada Senin dan Selasa (20-21/11/2023), Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur bersama dengan mitra Perguruan Tinggi yaitu Universitas Airlangga (Unair) melakukan kunjungan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan Stikes Kepanjen. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan skrining TBC di masyarakat dengan mengambil lokasi di Pondok Pesantren Enterpreneur Muhammadiyah, Gondanglegi.

Tim Dinkes Jatim beserta rombongan berfoto bersama Pengasuh Ponpes Enterpreneur Muhammadiyah, Gondanglegi Kabupaten Malang, seusai kegiatan skrining penyakit TBC di lingkungan pesantren tersebut, Selasa (21/11/2023). (foto: istimewa)

“Kami ke Ponpes Enterpreneur Muhammadiyah Gondanglegi Kabupaten Malang, setelah mendapatkan informasi adanya 2 kasus TBC yang ditemukan pada santrinya melalui Puskesmas setempat,” ujar Sulvy.

Disebutkan bahwa rombongan Dinkes Jawa Timur dan tim diterima secara resmi dan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren KH Fahri, S.Ag., MM. Dalam sambutannya, KH Fahri menyampaikan bahwa pondoknya sangat peduli dengan kesehatan, karena jika santrinya sehat maka kelak akan menciptkan SDM yang produktif.

“Di Pondok kami ada Gerakan 5A antara lain, Aman dari Kekerasan, Sakit, Lapar, Kehilangan dan Moral yang tidak baik. Ini merupakan bentuk tanggung jawab pondok pesantren pada orang tua yang sudah mengirimkan anaknya ke pondok dan sangat senang dengan adanya kegiatan pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan oleh rombongan,” ujar KH Fahri, Selasa (21/11/2023) saat menyambut rombongan Dinkes Jatim.

Sulvy Dwi Anggraeni dalam kesempatan itu menyampaikan maksud kedatangan rombongan di ponpes adalah untuk melakukan skrining kesehatan termasuk penyakit tidak menular seperti melakukan tensi dan tentunya skrining TBC.

“Untuk skrining TBC ada Program TBC dari Dinkes yang akan mengimplemetasikan E-TIBI yaitu aplikasi yang akan mendata gejala-gejala yang sedang dirasakan dan apakah menjadi terduga TBC atau tidak,” papar Sulvy dalam sambutannya ketika tiba di Pesantren.

Selain itu, lanjutnya, bersama rombongan ada tim dari Program Promosi Kesehatan dan Entomologi yang akan melakukan kunjungan lapangan melihat lingkungan santri termasuk Poskestren atau Pos Kesehatan Pesantren.

“Kami meminta ijin Bapak KH Fahri untuk rencana aktivitas yang akan dilakukan pada hari ini,” ujar Sulvy yang direspon anggukan kepala oleh Pengasuh Pesantren tanda setuju.

Dalam kesempatan itu juga, hadir perwakilan Puskesmas Gondanglegi Fadloli yang juga menyampaikan bahwa Puskesmas Gondanglegi bertanggung jawab atas kesehatan di masyarakat yang menjadi wilayah kekuasaannya termasuk Pondok Pesantren Enterpreneur Muhammadiyah Gondanglegi. Karenanya, ia hadir menjadi bagian dari tim rombongan Dinkes karena di Puskesmas Gondanglegi, dirinya menjadi penanggung jawab program TBC.

Setelah diberi ijin, lanjut Sulvy, kegiatan skrining TBC dilakukan di areal Pondok Pesantren Enterpreneur Muhammadiyah Gondanglegi oleh tim rombongan Dinas Kesehatan Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Stikes Kepanjen, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) dan Ikatan Dokter anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur.

Tim Dinkes Jatim bersama rombongan saat melakukan pengecekan areal lingkungan dalam Ponpes Enterpreneur Muhammadiyah Gondanglegi, Kabupaten Malang, Selasa (21/11/2023). (foto: laura/cakrawarta)

Sementara itu, Pakar Kesehatan Masyarakat dan Epidemiologi, Laura Navika Yamani, Ph.D., yang turut serta mewakili FKM Unair menyatakan bahwa pihaknya merasa sangat senang bisa menjadi bagian dari kegiatan positif dan kontributif dari Dinkes Jatim karena menurutnya, sinergitas tidak hanya diperlukan antara Dinas Kesehatan dan Perguruan Tinggi tetapi tentu kolaborasi antara perguruan tinggi khususnya Unair sangat dibutuhkan untuk membuat inovasi-inovasi terbaik dalam penanganan TB.

“Jika Perguruan Tinggi yang berkolaborasi semakin banyak maka diskusi sesuai dengan kepakaran masing-masing dapat terjalin dan menghasilkan hasil kajian atau riset yang lebih powerful sehingga penanganan kasus TBC dapat dipercepat sehingga angkanya dapat ditekan dan diturunkan,” ujar Laura saat dihubungi media ini melalui sambungan telepon, Rabu (22/11/2023) pagi.

Laura menambahkan bahwa santri dan santriwati nampak sangat antusias dengan adanya kegiatan tersebut dan dirinya berharap melalui kegiatan ini dapat meng-capture kondisi kesehatan masyarakat dan lingkungan pondok pesantren.

“Selain itu, kami berharap di Pondok Pesantren dapat bebas dari penyakit menular misalkan TBC,” pungkas lulusan program doktoral Medical Science dari Universitas Kobe, Jepang itu.

(bus/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular