Tuesday, March 10, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (20): Akar-Akar Tradisi Islam

Esai Ramadan (20): Akar-Akar Tradisi Islam

(foto:

“Sepuluh tradisi luar biasa dalam Islam meliputi ramadan, tarwih, zakat, nikah mut’ah, hidaad(hidayah), hijamaah(bekam), miswak(siwak), teknik tidur, sufi dan ruqyah(mengusir jin).” – 10 Surprising Islamic Traditions @FtdFacts di kanal Youtube

Akar-akar tradisi Islam merupakan fondasi yang tidak bisa dilepaskan dalam memahami dunia Islam mutakhir.

Sejarah tradisi klasik, terutama pada fase salafisme, menandai bagaimana ajaran Islam berusaha menjaga kemurnian kaidah dan akidah.

Periode ini memperlihatkan daya tahan tradisi yang kuat, sehingga mampu menjadi rujukan dalam menghadapi tantangan zaman.

Salafisme, dengan penekanan pada kembali kepada sumber-sumber awal Islam, memperlihatkan bagaimana tradisi bukan sekadar warisan, melainkan juga pedoman hidup yang terus diperbarui.

Salah satu studi mutakhir yang menyoroti akar tradisi Islam datang dari Roberto Tottoli, seorang Arabist dan profesor kajian Islam asal Italia, lahir tahun 1960 dan kini berusia 65 tahun.

Ia aktif sebagai Rektor Universitas Napoli “L’Orientale” sejak 2020 dan tetap produktif menulis.

Bukunya, Studies in Islamic Traditions and Literature edisi terbaru (Routledge, cetak 18 Desember 2024) menghimpun kajian tentang hadith, ritual sujud, dan kisah para nabi (qiṣaṣ al-anbiyā’).

Karya ini menjadi kontribusi penting karena menghubungkan akar tradisi Islam dengan kajian kontemporer, memperlihatkan bagaimana ritual dan kisah nabi membentuk identitas keagamaan umat Islam.

Di Indonesia, studi tentang tradisi Islam pernah dilakukan oleh antropolog Clifford Geertz (1926-2006) dalam Religion of Java (1960; terjemahan 1986).

Geertz membagi tradisi Islam Jawa ke dalam tiga kategori yakni santri, abangan, dan wong cilik. Ketiganya mempraktikkan kaidah dan akidah agama dengan cara berbeda.

Para santri lebih dekat dengan ortodoksi Islam, sementara abangan dan wong cilik memiliki tafsir yang berbeda dalam menunaikan ajaran dasar agama.

Praktik slametan, misalnya, menjadi contoh bagaimana kaum abangan dan wong cilik mengekspresikan sikap beragama mereka.

Tradisi ini masih terus berlangsung secara kultural, sebagaimana dikaji antropolog kontemporer George Quinn.

Antropolog George Quinn, pakar budaya Jawa kelahiran 22 Juli 1943 di Selandia Baru, kini usia 83 tahun, dalam bukunya Wali Berandal Tanah Jawa (Bandit Saints of Java, 2018) menyinggung tradisi puasa Ramadan sebagai bagian dari lanskap religius Jawa yang penuh warna.

Ia menekankan bahwa praktik puasa Ramadan di Jawa sering berbaur dengan tradisi lokal, sehingga memperlihatkan keragaman ekspresi Islam yang tidak selalu sesuai dengan standar ortodoksi.

Selain itu, Quinn menggambarkan bagaimana puasa Ramadan di Jawa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan tradisi kultural dan tercermin sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial melalui tradisi seperti slametan dan ziarah wali.

Ia juga menulis bahwa praktik keagamaan seperti puasa sering kali “dibungkus oleh lapisan budaya lokal“ yang membuatnya berbeda dari gambaran Islam baku.

Dengan demikian, Ramadan di Jawa menjadi contoh bagaimana akar tradisi Islam beradaptasi dan hidup berdampingan dengan praktik kultural, sekaligus menantang pandangan bahwa Islam harus dipraktikkan secara seragam dan eksklusif.

Demikian halnya, Geertz juga membandingkan tradisi Islam di Indonesia dan Maroko dalam Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia (1971), memperlihatkan bagaimana Islam berakar dalam konteks budaya yang berbeda.

Untuk membandingkan kedua negara itu, dapat dijelaskan sebagai berikut dimana di Indonesia (Jawa khususnya), Islam bercampur dengan tradisi Hindu-Buddha dan adat lokal. Praktik keagamaan sering diwujudkan dalam bentuk ritual sosial seperti slametan, penggunan baju koko (gamis), beduk, kemenyan dan ziarah kubur. . Selain itu, orientasi tradisi itu lebih pada harmoni sosial dan simbolisme budaya.

Di Maroko, Islam lebih bercorak legalistik dan puritan. Tradisi sufisme tetap ada, tetapi lebih terintegrasi dengan ortodoksi. Orientasinya lebih pada kepatuhan hukum syariah dan struktur politik.

Di Indonesia, Geerzt melihat Islam sebagai “agama kultural” yang menekankan integrasi sosial. Misalnya, slametan menjadi simbol kebersamaan, bukan sekadar ritual keagamaan.

Sementara di Maroko, ketika ia amati waktu itu, menekankan Islam sebagai “agama hukum” dengan fokus pada kepatuhan syariah dan otoritas ulama.

Geertz ingin menunjukkan bahwa Islam bukan monolit, melainkan berkembang sesuai konteks budaya dan sejarah. Dengan membandingkan Indonesia dan Maroko, ia memperlihatkan bagaimana satu agama bisa menghasilkan “iklim spiritual” yang sangat berbeda.

Akhirnya, dalam Islam Observed memperlihatkan bahwa memahami Islam mutakhir harus mempertimbangkan akar tradisi lokal.

Indonesia menampilkan wajah Islam yang berbaur dengan budaya, sementara Maroko menampilkan wajah Islam yang lebih normatif dan legalistik.

Dengan demikian, studi-studi ini menunjukkan bahwa akar tradisi Islam tidak hanya membentuk identitas keagamaan, tetapi juga berinteraksi dengan budaya lokal, menghasilkan keragaman praktik yang tetap berpijak pada kaidah dasar Islam.

Tradisi klasik, salafisme, dan kajian kontemporer seperti yang dilakukan Tottoli dan Geertz memperlihatkan bahwa memahami Islam mutakhir mustahil tanpa menelusuri akar-akar tradisi yang membentuknya.(*)

#coverlagu: Lagu “Puasa” yang dinyanyikan oleh grup musik Bimbo dirilis pada tahun 2007 sebagai bagian dari album Semoga Jalan Dilapangkan Tuhan di bawah label Sony BMG Music Entertainment Indonesia.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular