
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Osteoporosis telah lama menjadi ancaman kesehatan global, terutama bagi perempuan dan kelompok lansia. Penyakit yang muncul akibat ketidakseimbangan kerja sel pembentuk tulang (osteoblas) dan sel penghancur tulang (osteoklas) ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga sering berujung pada kecacatan dan perburukan kesehatan. Di tengah keterbatasan terapi konvensional, seorang peneliti muda dari Universitas Airlangga menghadirkan harapan baru.
Adalah Maria Apriliani Gani, alumnus program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Fakultas Farmasi UNAIR, yang berhasil mengembangkan model riset osteoporosis berbasis sel unggulan. Inovasi tersebut mengantarkan dirinya meraih penghargaan bergengsi L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) 2025, sebuah pengakuan internasional bagi ilmuwan perempuan dengan kontribusi riset yang signifikan.
Dalam disertasinya, Maria merancang model kultur dua sel (in vitro co-culture) yang menghadirkan osteoblas dan osteoklas secara bersamaan, meniru kondisi tulang penderita osteoporosis secara biologis.
“Model ini merupakan representasi paling mendekati kondisi fisiologis manusia. Kami berharap platform ini dapat menjadi alternatif uji hewan dalam penelitian osteoporosis,” ujar Maria, Senin (1/12/2025).
Model seluler tersebut bukan hanya memungkinkan pemahaman mekanisme penyakit lebih presisi, tetapi juga membuka jalan bagi skrining obat yang lebih cepat, murah, dan etis.
Menariknya, ia mengintegrasikan pendekatan in vitro-in silico untuk mengidentifikasi metabolit bioaktif dari tanaman obat Indonesia yang diprediksi memiliki aktivitas antiosteoporosis.
“Saya bekerja sama dengan profesor dari Fakultas Farmasi UI untuk karakterisasi metabolit bioaktif. Dengan model seluler yang dikembangkan, kami dapat menguji secara mekanistik bagaimana kandidat herbal meningkatkan kerja osteoblas dan menekan osteoklas,” jelasnya.
Riset Maria menjadi penting khususnya bagi perempuan pasca menopause, kelompok yang paling rentan mengalami osteoporosis. Temuannya membuka peluang hadirnya terapi alternatif berbasis tanaman obat lokal yang lebih aman, percepatan diagnosis dan skrining obat, serta peningkatan kualitas hidup perempuan lansia.
Meski meraih pengakuan internasional pada usia relatif muda, Maria menegaskan perjalanan keilmuan tidak lepas dari kerja kolaboratif. “Saya masih sangat muda dan pengalaman saya belum panjang. Karena itu kolaborasi adalah kunci, bekerja bersama peneliti lain maupun mahasiswa dengan minat riset yang tinggi.” tegasnya.
Ia menyebut UNAIR memberikan landasan kuat untuk berpikir kritis, disiplin, dan terus belajar. Untuk mahasiswa dan peneliti muda, ia berpesan: “Manfaatkan peluang penelitian yang ada. Jangan takut bermimpi besar, jangan ragu memulai hal baru, dan jangan pernah berhenti belajar.”
Keberhasilan Maria Apriliani Gani menjadi bukti kontribusi sains Indonesia, khususnya dari peneliti perempuan, tidak lagi berada di pinggir panggung global. Di tengah kompleksitas tantangan kesehatan masyarakat, inovasi sains seperti ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat kemandirian riset obat dan kesehatan di Indonesia.(*)
Kontributor: PKIP
Editor: Abdel Rafi



