
“Psikologi Islam mengeksplorasi pikiran, jiwa, dan perilaku berdasarkan kitab suci Islam, meneliti konsep-konsep seperti Fitrah, Nafs, Aql, Ruh, dan Qalb.” — Dr. G. Hussein Rassool dalam Islamic Psychology: The Basics (2023)
Barangkali tak banyak yang tahu, metafora “liang biawak” dalam wacana Islam modern muncul dari kritik psikolog Muslim Dr. Malik B. Badri.
Dr. Malik Babikr Badri Mohammed, tokoh penting dalam sejarah psikologi Islam. Lahir pada 16 Februari 1932 di Rufaa, Sudan, dan wafat pada 8 Februari 2021 di Kuala Lumpur, Malaysia pada usia 88 tahun.
Ia dikenal sebagai “Bapak Psikologi Islam Modern” karena berhasil mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam ke dalam teori dan praktik psikologi.
Sepanjang kariernya a aktif sebagai profesor psikologi di berbagai universitas, termasuk American University of Beirut, University of Khartoum, dan International Islamic University Malaysia.
la meraih gelar PhD dari University of Leicester pada 1961 dan sertifikat klinis dari University College London pada 1967.
Karya monumentalnya, The Dilemma of Muslim Psychologists (1979), mengkritik ketergantungan psikolog Muslim pada teori Barat yang belum diadaptasi dengan budaya Islam.
Kontribusinya menjadi inspirasi bagi generasi baru psikolog Muslim, dengan menekankan pentingnya membangun epistemologi psikologi yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketika sejarah Islam tumbuh dari perspektif akademik kontemporer para orientalis, banyak penyesuaian yang harus dilakukan.
Penyesuaian ini bukan hanya menyangkut fondasi keyakinan Tauhid, tetapi juga praktik-praktik yang menyertainya, termasuk dalam bidang psikologi.
Dalam bukunya The Dilemma of Muslim Psychologists (1979), Badri mengangkat metafora “Psikolog Anak Muslim dalam Liang Biawak”.
Ia menggambarkan seorang profesor psikologi Muslim di negara Islam yang mengajar, menasihati orang tua, dan melakukan terapi, tetapi seluruh teori dan praktiknya bersumber dari Amerika atau Eropa tanpa adaptasi dengan kondisi sosial-budaya Islam.
Dengan demikian, secara sadar atau tidak, ia menggiring pikiran, ide, dan emosi masyarakat ke dalam “liang biawak Barat.”
Sebagai solusi, Badri menawarkan tiga fase untuk keluar dari perangkap liang biawak yakni fase terpesona, ketika psikolog Muslim kagum pada teori Barat; fase penerimaan, ketika mereka mulai menggunakannya tanpa kritik; dan fase emansipasi, ketika mereka berpuasa dari ketergantungan pada metode Barat dan mulai membangun kerangka psikologi Islami.
Puasa di sini bukan sekadar menahan diri, melainkan disiplin intelektual untuk tidak larut dalam paradigma asing yang tidak sesuai dengan nilai Islam.
Lain halnya, Dr. Aisha Utz, nama sebelumnya Aisha Hamdan atau Laureen Marie Hamdan, seorang psikolog klinis asal Amerika dengan gelar PhD dari West Virginia University dan latar belakang studi Islam dari American Open University.
Kini, ia menjabat sebagai Assistant Professor of Clinical Psychology di King Saud bin Abdulaziz University for Health Sciences dan Associate Editor untuk Journal of Muslim Mental Health.
Metafora liang biawak Badri, kemudian diperluas oleh Dr. Aisha Utz dalam Psychology from Islamic Perspective (2011).
Buku ini merupakan upaya sederhana untuk menjelaskan konseptualisasi sejati psikologi manusia berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.
Selain itu, Dr. Utz menyertakan referensi khusus untuk penelitian ilmiah yang sesuai dengan, dan dibangun di atas, apa yang sudah diketahui dari wahyu.
Akan tetapi, menurutnya, manusia secara inheren ingin tahu tentang sifat mereka sendiri. Ironisnya, ada banyak teori dan penjelasan yang menyesatkan dan membingungkan makhluk yang seharusnya mereka gambarkan.
Allah telah memberkati kita dengan petunjuk dalam semua aspek kehidupan kita, termasuk jiwa dan psikis kita sendiri.
Islam menawarkan teori yang sederhana, komprehensif, dan tepat tentang sifat spiritual kita, tujuan dan prioritas kita dalam hidup, dan bagaimana kita dapat mencapai ketenangan dan kebahagiaan di kehidupan ini dan di akhirat.
Dr. Utz menekankan bahwa psikologi Islam harus berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar adaptasi dari teori Barat.
Utz melihat bahwa puasa dari metode Barat berarti membangun epistemologi baru yang sesuai dengan fitrah manusia menurut Islam.
Dengan demikian, berpuasa di liang biawak adalah upaya intelektual dan spiritual untuk keluar dari jebakan epistemologi asing, lalu kembali kepada sumber otentik Islam dalam memahami jiwa dan perilaku manusia.
Dengan kata lain, hal ini menunjukkan bahwa metafora “liang biawak” bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk berpuasa dari dominasi Barat dalam ilmu psikologi, dan membangun tradisi ilmiah yang berakar pada nilai-nilai Islam.
#coversongs: “Dua For Health & Healing” karya Inamullah Farooq, qari dan penyanyi religi yang sering melantunkan doa, tilawah, dan nasyid bertema Islami, yang dirilis 30 Januari 2026 di Inveer Studios. Farooq juga sering berkolaborasi dengan qari internasional seperti Mishary Rashid Alafasy, Saad El Ghamidi, Hazza Al Blushi. “Dua For Health & Healing” adalah doa musikal yang berisi permohonan kepada Allah untuk kesembuhan dari penyakit, kesehatan jasmani dan rohani, serta perlindungan dari segala gangguan. Lirik dan lantunan doa ini biasanya diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan doa Nabi, sehingga maknanya menekankan ketergantungan manusia kepada Allah dalam mencari kesembuhan.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



