Saturday, January 28, 2023
HomeEkonomikaPasca Pandemi, Pelaku Bisnis UMKM Didorong Lakukan Omnichannel

Pasca Pandemi, Pelaku Bisnis UMKM Didorong Lakukan Omnichannel

ilustrasi omnichannel. (foto: indotelko)

SURABAYA – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Prof. Dr. Sri Hartini, SE., M.Si menyebutkan bahwa sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menyumbang 90% dari kegiatan bisnis dan membuka lebih dari 50% lapangan pekerjaan di seluruh dunia. Namun sayang, menurut Prof Sri hanya sekitar 20% UMKM yang paham digital.

“Karenanya, sektor UMKM harus mendapat dukungan penuh untuk meningkatkan daya saingnya. Salah satu caranya yakni melakukan digitalisasi misalnya menggunakan aplikasi Point of Sales (PoS). Aplikasi ini bisa memudahkan pencatatan pendapatan, pengeluaran dan laba otomatis, termasuk pencatatan barang masuk dan keluar yang ada di gudang,” paparnya saat memberikan orasi ilmiah dalam rangka pengukuhan dirinya pada Rabu (28/12/2022 yang berjudul Digitalisasi dalam Pengembangan Bisnis pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Prof Sri menyebut pengetahuan mengenai Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) menciptakan pengalaman pelanggan sehingga meminimalisir risiko pembatalan. Sebab, VR bisa membuat interaksi lingkungan tiga dimensi (3D). Sementara AR bisa menggabungkan unsur-unsur dunia virtual ke dalam dunia nyata melalui objek yang dihasilkan komputer.

“Misal saja mau beli mobil, bisa trial di ruang virtual dan bisa menyesuaikan ruang di dunia nyata. Artinya bisa memperkirakan ukuran mobil untuk akses masuk rumah,” imbuhnya.

Prof. Sri meyakini bahwa AR dan VR dapat memperkuat kemampuan digital marketing dalam mempersuasi konsumen. Karena itu, ia menyarankan UMKM sebaiknya menggunakan online review pada semua aspek yang berhubungan dengan pelanggan.

“Online review menentukan keputusan pembelian konsumen baik produk maupun jasa. Namun, review jasa lebih tinggi dibanding review produk. Karena calon konsumen jauh lebih membutuhkan review jasa yang bersifat experience. Sebab jika review produk, calon konsumen bisa mengevaluasinya sendiri melalui spesifikasi produk sehingga mengabaikan online review,” paparnya.

Prof. Sri juga menyebut ketika masa pandemi telah selesai, tidak semua orang menerapkan kebiasaan lama seperti belanja offline. Pasalnya, konsumen cenderung tetap mencintai belanja online sebagai kebiasaan baru saat pandemi.

Di lain sisi, beberapa start-up mulai berjatuhan, seperti halnya PHK massal pada GoTo, Ruangguru, dan Shopee hingga langkah yang diambil Sayurbox yang menutup layanan mereka. Karenanya, ia meminta UMKM harus menyesuaikan strategi bisnisnya dengan perubahan lingkungan di era society 5,0 dengan cara paham digital marketing.

“Harus ada keseimbangan baru antara pembelian online dan ofline, sehingga UMKM perlu menyiapkan omnichannel,” tuturnya.

Untuk diketahui, Omnichannel sendiri merupakan istilah yang merujuk pada upaya bagaimana memuaskan pelanggan tanpa batas saat berbelanja online maupun offline melalui saluran komunikasi ke dalam satu bentuk antarmuka secara universal. Dalam hal ini, misalnya pembelian produk dari instagram bisa saling terhubung dengan berbagai platform di toko tersebut.

(bus/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular