
NGANJUK – Tradisi Nyadran kembali menjadi ruang kebersamaan bagi warga Desa Jatirejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jumat (3/7). Ratusan warga, termasuk para perantau yang sengaja pulang kampung, berkumpul di kompleks pemakaman desa untuk memanjatkan doa bagi para leluhur sekaligus mempererat ikatan sosial antar masyarakat.
Tradisi yang juga dikenal sebagai bersih desa itu dipimpin tokoh agama setempat dan dihadiri Camat Rejoso, Kepala Desa Jatirejo Supandi, jajaran TNI-Polri, serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan dukungan terhadap pelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Rejoso, Kiai Imam Hartoyo, mengatakan Nyadran bukan hanya menjadi tradisi mendoakan para leluhur, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
“Tradisi ini merupakan bagian dari nguri-uri kabudayan, melestarikan budaya luhur warisan leluhur yang sarat dengan nilai kebersamaan dan persaudaraan,” ujarnya.
Menurut Imam Hartoyo, Nyadran mengandung nilai religius, sosial, budaya, dan pendidikan karakter. Tradisi tersebut mengajarkan masyarakat untuk menghormati jasa para pendahulu, memperkuat persatuan, memupuk kepedulian, serta menjaga semangat gotong royong.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Nyadran sebagai momentum meningkatkan keimanan sekaligus mempererat hubungan antar sesama. Baginya, tradisi itu juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara sehingga setiap orang perlu mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
“Kualitas sebuah desa sangat ditentukan oleh masyarakatnya. Ketika warganya hidup rukun, saling menghormati, saling membantu, serta mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, desa akan menjadi tempat yang damai, maju, dan penuh keberkahan,” katanya.
Ia menambahkan, mendoakan leluhur merupakan bentuk bakti yang mulia sekaligus cara menjaga kesinambungan nilai-nilai kebaikan dari generasi ke generasi.
Salah seorang warga, Sumaji, mengaku bersyukur tradisi Nyadran masih terus dilestarikan di Desa Jatirejo. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat semangat gotong royong dan mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.
“Kami berharap Nyadran tetap menjadi identitas budaya desa sehingga generasi muda mengenal, mencintai, dan meneruskan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, serta penghormatan kepada para pendahulu,” ujarnya.
Rangkaian Nyadran di Desa Jatirejo akan berlanjut dengan pertunjukan seni tradisional langen bekso tayub pada Jumat malam. Selanjutnya, pengajian akbar bersama Gus Ilham Yahya disertai lantunan shalawat dijadwalkan berlangsung pada Minggu (12/7/2026) malam sebagai penutup rangkaian kegiatan.(*)
Kontributor: Abdul Kharis
Editor: Abdel Rafi








