BIPA Makin Diminati, Diplomasi RI di Pasifik Kian Menguat

Suasana webinar Atdikbud KBRI Port Moresby bersama Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Senin (3/8/2026). (foto: tangkapan layar)

PORT MORESBY, CAKRAWARTA.com – Minat masyarakat di kawasan Pasifik untuk mempelajari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) terus meningkat. Perkembangan ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi pendidikan, kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat dengan negara-negara Pasifik.

Penguatan diplomasi tersebut mengemuka dalam webinar yang diselenggarakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Port Moresby bersama Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Senin (3/8/2026). Kegiatan itu menghadirkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili Prof. Tasrifin, Atdikbud KBRI Port Moresby Arief Kusdwiadnanto, pengajar BIPA University of Goroka, serta akademisi dan perwakilan perguruan tinggi dari Indonesia maupun luar negeri.

Atdikbud KBRI Port Moresby Arief Kusdwiadnanto mengatakan, wilayah kerja KBRI Port Moresby yang meliputi Papua Nugini dan Kepulauan Solomon terus mengembangkan diplomasi pendidikan melalui perluasan program BIPA, pemberian beasiswa, dan kerja sama dengan perguruan tinggi.

Saat ini terdapat sedikitnya 10 pusat BIPA dengan sekitar 800 peserta didik yang tersebar di sejumlah institusi, antara lain University of Goroka, University of Natural Resources (UNRE), Lae Secondary School, hingga Papua New Guinea Defence Force.

Menurut Arief, tingginya minat masyarakat Papua Nugini terhadap program beasiswa Indonesia menjadi peluang strategis untuk memperluas pembelajaran Bahasa Indonesia. Program The Indonesian Aid Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Darmasiswa, hingga berbagai beasiswa perguruan tinggi dinilai mampu mempererat hubungan kedua negara melalui jalur pendidikan.

“Semakin banyak masyarakat yang belajar Bahasa Indonesia, semakin besar pula ruang kolaborasi di bidang pendidikan, kebudayaan, maupun hubungan antarmasyarakat,” ujarnya.

Selain memperluas pembelajaran bahasa, Indonesia juga menguatkan diplomasi kebudayaan melalui pelatihan angklung, rencana pengenalan kolintang, serta inisiatif nominasi bersama Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk tradisi Bakar Batu (Mumu Stones). Kolaborasi budaya Noken dari Indonesia dan Bilum dari Papua Nugini juga terus didorong sebagai simbol kedekatan sejarah dan budaya kedua negara.

Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili Prof. Tasrifin mengatakan, BIPA di Timor Leste telah berkembang menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya Indonesia yang paling efektif. Program tersebut tidak hanya memperkuat hubungan antarmasyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.

Menurut dia, Pusat Budaya Indonesia di bawah koordinasi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili menjadi penggerak utama pengembangan BIPA di Timor Leste. Pada 2026, jumlah peserta BIPA telah mencapai sekitar 16.500 orang yang tersebar di 12 distrik. Tingginya minat warga Timor Leste untuk melanjutkan studi di Indonesia turut memperkuat perkembangan program tersebut.

Dalam sesi diskusi, para peserta menilai BIPA kini tidak lagi sekadar menjadi sarana pembelajaran bahasa, melainkan telah berkembang sebagai instrumen soft diplomacy yang memperkuat kerja sama pendidikan tinggi, mobilitas mahasiswa, pertukaran budaya, serta hubungan Indonesia dengan negara-negara Pasifik.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (5/8/2026), disebutkan bahwa sebagai tindak lanjut, KBRI Port Moresby akan menggelar Pameran Pendidikan Indonesia pada 30 September hingga 1 Oktober 2026. Kegiatan itu akan menghadirkan sepuluh perguruan tinggi Indonesia, lembaga pendidikan vokasi, serta pameran budaya dan produk Indonesia guna memperluas akses masyarakat Papua Nugini terhadap informasi pendidikan dan berbagai program beasiswa.

Melalui penguatan BIPA, beasiswa, dan diplomasi kebudayaan, Indonesia terus menegaskan komitmennya membangun kemitraan yang lebih erat dengan negara-negara Pasifik. Di tengah meningkatnya minat masyarakat mempelajari Bahasa Indonesia, BIPA kini menjadi salah satu wajah diplomasi Indonesia yang semakin diperhitungkan di kawasan tersebut.(*)

Editor: Abdel Rafi